Di Tengah Penutupan Akses oleh Otoritas,  ASITA Ungkap Kapal Wisata Tetap Masuk TN Komodo via Jalur Lain 

Kapal-kapal itu disebut masuk TN Komodo melalui Kampung Nelayan Warlokadi sisi selatan Labuan Bajo

Floresa.coAsosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Cabang Manggarai Barat mengungkap adanya sejumlah kapal wisata yang tetap berlayar masuk ke Taman Nasional Komodo di tengah penutupan akses ke kawasan itu karena cuaca buruk.

Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang ASITA Manggarai Barat, Getrudis Naus mengatakan kapal-kapal itu berlayar dari Warloka, kampung nelayan yang berjarak sekitar 10 kilometer sebelah selatan Labuan Bajo untuk masuk ke TN Komodo. 

“Saya tidak tahu persis mereka yang jalan tanpa izin itu apa alasannya,” katanya kepada Floresa usai rapat bersama Kepala Kantor Kesyahbandaraan dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto pada 20 Januari.

KSOP memberlakukan kebijakan penutupan akses masuk tersebut mulai 26 Desember 2025 dan sempat membukanya kembali selama tiga hari pada 9-11 Januari.

Dalam maklumat pelayaran yang dikeluarkan pada 20 Januari, lembaga itu menyatakan pelayanan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) kembali ditutup sementara mulai 12-27 Januari, merujuk informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tentang kecepatan angin dan gelombang tinggi. 

Getrudis berkata, pelanggaran ketentuan tersebut oleh kapal-kapal wisata terjadi karena agen perjalanan wisata tidak membatalkan pesanan tamu yang sudah memesan paket wisata jauh sebelum penutupan.

“Jadi tamu tidak mau untuk batal, harus tetap jalan. Jadinya, jalan tanpa izin,” katanya. 

Kondisi seperti itu, kata dia, seharusnya bisa dikomunikasikan baik kepada wisatawan, “sehingga kesannya tidak menipu.” 

“Kalau saya kemarin ada orang Malaysia, ada beberapa pasangan saya batalkan operasional ke TNK karena patokannya adalah clearance. Kalau tidak (dapat clearance) saya tidak berani,” katanya. 

Menurut Undang-Undang Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, port clearance merujuk Surat Persetujuan Berlayar yang “diterbitkan setelah dipenuhinya persyaratan kelaiklautan kapal dan kewajiban lainnya.”

“Kenapa saya sampaikan batal? Karena alam ini kita tidak bisa prediksi,” tambahnya. 

Apalagi, kata dia, dalam pemesanan paket wisata terdapat perjanjian antara agen dan wisatawan bahwa pesanan dapat dibatalkan jika terjadi kondisi darurat, termasuk cuaca buruk

“Itu ada agreement semua,” katanya. 

Selama penutupan pelayaran, kata Getrudis, aktivitas alternatif pariwisata dapat dialihkan ke destinasi daratan, bukan ke TNK tanpa izin.

“Ambil alternatif lain, trip di daratan, tetapi harganya tidak sama dengan yang ke TNK. Misalnya saya ambil tur ke Golo Mori, tamu tidak komplain,” katanya. 

Ia menyebut beberapa destinasi alternatif yang bisa dikunjungi, di antaranya Golo Mori, puncak Bukit Amelia, kampung wisata Melo dan Puncak Waringin. 

“Jadi kita bisa menceritakan wisata lain selain Komodo,” katanya. 

Ia mengaku, telah menyampaikan temuan berlayar tanpa izin itu dalam rapat dengan KSOP tersebut.  

Hal yang ditakutkan ketika berlayar tanpa izin, lanjutnya, adalah munculnya kejadian-kejadian tak terduga yang berisiko mengancam keselamatan.  

“Siapa nantinya yang tanggung jawab kalau ada kejadian kecelakaan? Itu saja yang ditakutkan dengan cara-cara masuk melalui Warloka tanpa izin. Kita berpikir tentang risiko dulu,” kata Getrudis. 

Ia juga berkata, KSOP merespons pelaporannya dengan menegaskan tidak akan bertanggung jawab jika ada insiden yang dialami kapal-kapal tersebut. 

Floresa berusaha meminta respons Kepala KSOP Stephanus terkait informasi tersebut, termasuk soal penerapan standar keselamatan pasca insiden kecelakaan kapal wisata KM Putri Sakinah yang menewaskan wisatawan asal Spanyol akhir tahun lalu.

Namun Kepala Sub Bagian Tata Usaha Prastowo Sri Nugroho Jati tak mengizinkan untuk bertemu Stephanus, berdalil semua komunikasi tentang kecelakaan kapal disampaikan satu pintu melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan di Jakarta. 

Sementara itu Kepala Balai Taman Nasional Komodo Hendrikus Rani Siga memastikan semua destinasi dalam kawasan TNK ditutup sementara waktu. 

“TNK tidak ada pelayanan wisata di kawasan,” kata Hendrikus kepada Floresa.

Penutupan itu merujuk pada pengumuman KSOP tentang penutupan pelayaran kapal-kapal wisata. 

“Yang jelas, sesuai pengumuman KSOP tidak diizinkan pelayaran kapal wisata dan 100 persen pengunjung ke TNK pasti menggunakan kapal wisata,” katanya.

Editor: Anno Susabun 

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img