Floresa.co – Tiga dekade silam, Herlina Lenos berniat melanjutkan sekolah usai tamat SD. Namun, orang tuanya tak sanggup membiayainya ke jenjang SMP.
“Walaupun otak mampu untuk sekolah lanjut, ketika orang tua tidak mampu, kami tak bisa apa-apa,” katanya.
Beruntung, ibunya memiliki keahlian menenun, keterampilan yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi, sebagaimana perempuan lain di kampungnya di Barang, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai.
Karena itulah, sejak tamat SD, Herlina yang kini berusia 42 tahun memilih menekuni keterampilan itu dengan belajar langsung dari ibunya.
“Ia menenun setiap hari. Melihat aktivitasnya seperti itu, kami belajar,” katanya.
Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Satu saudarinya juga menjadi penenun.
Herlina kini menjadi penenun di Rumah Tenun Baku Peduli, sekitar sembilan kilometer ke arah timur dari kota pariwisata Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat.
Ia telah bergabung sejak 2012 di rumah itu yang dikenal sebagai tempat pelestarian tenun NTT.
Rekannya, Karolina Mun, 34 tahun, sama-sama dari Barang, bergabung empat tahun kemudian. Serupa Herlina, ia juga hanya tamat SD.
“Karena tidak lanjut sekolah, saya bantu mama buat tenun,” katanya, yang sekaligus menjadi kesempatannya untuk belajar.
Menekuni keterampilan menenun menjadi semacam kewajiban bagi perempuan yang tinggal di kampung mereka, kenangnya.
Karena itu, ada cap “aneh” bagi perempuan remaja hingga dewasa yang tinggal di kampung dan tidak bisa menenun.
“Orang di kampung biasanya membicarakan nama kita. Kalau tidak bisa menenun, mereka mempertanyakan alasannya,” katanya.

Warisan Pengetahuan Turun Temurun
Tak hanya soal cara menenun, dari ibu dan penenun lain di kampung, keduanya mendapat warisan pengetahuan tentang beragam motif, seperti ranggong, libo, ringgit, kael, wela kaweng dan bengkar.
Motif-motif itu, dibuat dengan benang warna berbeda, menjadi semacam hiasan yang mempercantik setiap tenun.
“Ketika kami tanya ke orang tua soal awal mula penciptaan motif-motif itu, mereka hanya bilang sudah dari dulu,” kata Herlina.
Berbagai peralatan yang mereka gunakan juga tradisional, dengan bahan baku semuanya dari kayu dan bambu.
Jeda sejenak dari rutinitasnya di rumah tenun saat ditemui Floresa pada 4 Februari, Herlina menjelaskan beberapa perlengkapan di dekatnya.
“Ini namanya purung,” katanya tentang alat penggulung benang yang terbuat dari kayu dan bilah bambu, menyerupai baling-baling. Hasilnya kemudian adalah gulungan benang yang menyerupai bola.
Sementara untuk pewarnaan, mereka menggunakan bahan alami dan benang dibeli dari komunitas penggiat serat alami di Tuban, Jawa Timur.
Bahan baku pewarnaan diambil dari beberapa kayu dan tanaman yang dikembangkan di sekitar rumah tenun, sebagiannya diambil dari tanaman yang tumbuh liar di hutan.
Kulit kayu mahoni, misalnya, menjadi bahan baku untuk menghasilkan warna merah marun, sementara kombinasi kulit pohon nangka, daun mangga dan mengkudu untuk warna pink, kunyit untuk warna kuning dan daun tarum atau indigofera untuk warna biru.

Proses pewarnaan dilakukan dengan macam cara. Ada bahan baku yang bisa langsung direndam, namun ada juga yang harus ditumbuk usai dibersihkan, lalu dimasak.
Proses pewarnaan, dengan cara merendam benang, bisa memakan waktu antara tiga hari hingga satu minggu.
Setelah penjemuran sampai benang menghasilkan warga yang diinginkan, barulah mereka menggulungnya dan mulai menenun.
Satu kain tenun berbentuk sarung bisa dikerjakan selama satu bulan, bahkan lebih, kata Herlina.
Proses pewarnaan alami yang memakan waktu itulah alasan mengapa tenun yang dijual harganya lebih tinggi dibandingkan dengan tenun pewarna sintetik yang umumnya dijual di pasar.
Untuk selendang mereka menjualnya Rp50 hingga Rp100 ribu, sementara tenun songke pewarna alami berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp8 juta. Rentang harga itu tergantung pada tingkat kesulitan dan kepadatan motif serta ukuran kain.
Elisabeth Hendrika Dinan, Direktur Sunspirit for Justice and Peace, lembaga yang menaungi Rumah Tenun Baku Peduli, berkata, harga tersebut “dibarengi dengan kualitas tenunan, bahan baku benang dan pewarna.”
Menurut Ney, sapaannya, upaya mereka menjaga kualitas tenun tradisional merupakan bentuk perlawanan terhadap tren komersialisasi motif tenun yang dicetak massal di industri tekstil modern.
“Standar tenun di sini misalnya harus benang katun karena sejalan dengan kampanye kami tentang keberlanjutan lingkungan dalam tradisi tenun,” kata Ney.
“Hanya benang katun murni yang kami pakai dalam proses pewarnaan alami” katanya, mengingat bahan baku kain katun dari serat kapas.
Di tempat lain, kata dia, bahan bakunya sudah banyak menggunakan benang polyester yang mengandung plastik.
Di rumah tenun, kata dia, mereka juga mendorong Herlina dan Karolina untuk berkreasi menghasilkan motif-motif baru.
“Tahun lalu mereka menciptakan motif Niang. Itu sama sekali baru,” kata Ney.
Kemahiran keduanya membuat ia dan rekan-rekannya di rumah tenun menjuluki mereka sebagai “master tenun.”

Potensi Bagi Kaum Perempuan
Ney berkata, pilihan Sunspirit yang membuka rumah tenun pada 2012 berawal dari gerakan baku peduli, sebuah unit program pemberdayaan sosial ekonomi.
Kala itu, mereka melihat tenun sebagai warisan budaya yang menawarkan peluang ekonomi menjanjikan bagi perempuan jika dikembangkan dengan baik.
Ide itu, jelasnya, muncul karena melihat kondisi sosial di NTT, di mana banyak perempuan memilih merantau ke daerah lain.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia masih menyebut NTT sebagai daerah darurat perdagangan manusia karena tingginya jumlah warga yang terpikat untuk bekerja di daerah lain. Umumnya pergi dengan jalur non-prosedural, banyak warga NTT saat ini rentan menjadi korban perdagangan orang.
Ney berkata, masih banyak orang yang “berlomba-lomba bermigrasi, tetapi kita lupa ada tradisi tenun yang cukup kental dan itu ditinggalkan.”
Tenun, kata dia, juga menjadi salah satu solusi alternatif atas ketimpangan pembangunan yang menempatkan perempuan pada posisi rentan dan kerap diabaikan.
Selain memberdayakan penenun seperti Herlina dan Karolina, rumah tenun juga membuka jaringan dengan para penenun di tempat lain, terutama di kampung-kampung di Kecamatan Cibal.
Hubungan serupa, kata Ney, juga berlangsung dengan lima komunitas tenun lain di NTT yang punya kesamaan visi, misalnya sama-sama mempertahankan proses pewarnaan alami.
Di rumah tenun mereka ikut memasarkan tenunan dari komunitas-komunitas itu.
“Pendekatannya, kita datang sebagai orang-orang yang sama-sama memiliki kepentingan. Kita tidak sebut secara gamblang soal pemberdayaan kepada mereka,” katanya.
“Rumah tenun biasanya akan meminta mereka menyediakan tenunan yang dibutuhkan, lalu harganya disepakati,” katanya.
Karena itu, hubungan dengan komunitas bukan semata hubungan transaksional, namun melampaui itu.
“Secara personal kami kenal baik penenun orang per orang, relasi yang kami bangun juga bukan relasi top down,” katanya.
Ia berkata, desain kain yang mereka kembangkan juga digali dari pengetahuan di setiap komunitas.
“Kita kemudian bersama-sama menetapkan standar kualitas kain yang masuk ke rumah tenun,” kata Ney.

Menarik Minat Wisatawan
Saban hari, Herlina dan Karolina menghabiskan waktu dari pagi sampai sore di ruangan berukuran lima kali lima meter.
Seiring pengembangan Rumah Tenun Baku Peduli sebagai salah satu destinasi wisata budaya sejak 2017, mereka juga ikut melayani wisatawan dan menjelaskan proses menenun.
Para wisatawan domestik maupun mancanegara cukup membayar Rp25 ribu untuk tur tenun di tempat ini.
Selain menyaksikan secara langsung aktivitas Herlina dan Karolina, tur itu mencakup pengenalan proses pewarnaan alami yang berpusat di studio di tengah-tengah sawah bagian belakang rumah tenun.
Tur berakhir di toko yang menjual beragam produk dari berbagai komunitas tenun di NTT dan suvenir, seperti topi, baju, selendang dan tas.
Mariana Afrida, yang menjadi pemandu wisata di tempat itu berkata, setiap bulan rata-rata pengunjung adalah 300 orang.

Selama tur, kata Afrida, wisatawan biasanya menanyakan proses menghasilkan tenun yang mencakup “tahapan, level kerumitan dan waktu pengerjaan.”
“Ada juga yang menanyakan makna tenun, motif dan perbedaan desain tenun tiap wilayah,” kata Afrida.
Khusus untuk pelanggan yang membeli, umumnya, kata dia, mereka menanyakan cara merawat tenun.
Para wisatawan meninggalkan beragam kesan tentang tempat itu.
Fabian Weber, wisatawan asal Jerman yang mengunjungi rumah tenun pada April tahun lalu berkata, sebelumnya ia tidak banyak tahu tentang tenun.
“Sangat menarik untuk mempelajari prosesnya. Kami suka bahwa mereka mempertahankan warna dan cara tenun tradisional. Terima kasih banyak atas pengalaman yang luar biasa ini,“ katanya.
Modhi Al Nahyan dari Uni Emirat Arab mengaku berwisata ke rumah tenun pada April tahun lalu sebagai pengalaman yang menakjubkan.
“Saya banyak belajar, menyukai pengetahuan yang didapat. Ini karya yang sangat bagus, dengan warna-warna tenun yang indah,” katanya.
Soal Regenerasi
Pada 2022, Pemerintah Kabupaten Manggarai telah mendaftarkan motif tenun ikat Cibal ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia guna mendapat hak atas kekayaan intelektual.
Kendati demikian, upaya mewariskan pengetahuan dan keterampilan budaya ini kepada generasi berikut masih menjadi tantangan.
Herlina dan Karolina pun ikut was-was tentang masa depan tenun dan regenerasi penenun, bahkan di kampung mereka sendiri yang juga dikenal sebagai “kampung tenun.”
Karolina melihat fenomena kaum muda di Barang kini di mana “hanya ada dua orang penenun dari generasi muda.”
Ia berkata, banyak kaum muda yang lebih memilih merantau.
“Ada yang ke Makassar, Bali dan Kalimantan,” katanya, membuat tradisi menenun terancam terputus dalam beberapa tahun ke depan.
Ney mengakui tantangan regenerasi itu. Di komunitas-komunitas penenun yang terhubung dengan rumah tenun, hal itu juga “masih menjadi pekerjaan rumah.”
Dalam beberapa tahun terakhir, rumah tenun mencari solusi dengan memfasilitasi magang bagi pelajar dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang memiliki jurusan tenun.
“Tahun ini sudah masuk tahun ketiga dan sudah ada delapan orang penenun yang lahir di sini,” katanya, merujuk pada pelajar dari SMK Negeri 1 Wae Ri’i di Kabupaten Manggarai.
Apri Angkas, guru sekolah itu berkata kepada Floresa, sejak 2019, mereka memang memiliki jurusan khusus Kriya Kreatif Batik dan Tekstil (KKBT), yang salah satu fokusnya adalah tenun.
Namun, “peminatnya bisa dikatakan kurang,” di bawah 20 orang per tahun, menjadi terendah dibanding jurusan lainnya.
“Walaupun sudah dipromosikan ulang-ulang,” katanya, peminatnya tetap tidak berubah.
Padahal, jurusan itu tidak hanya mengajarkan tentang tenun, tetapi juga beberapa bidang lain, seperti sablon, jahit, batik dan desain.
Di sisi lain, perhatian pemerintah belum menyasar pada soal regenerasi penenun, seperti pengakuan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah, Theresia Primadona Asmon berkata, “program kami lebih ke penguatan, seperti pelatihan pewarnaan alam, pengenalan benang dan aplikasi tenun, pemasaran dan bantuan bahan, seperti benang.”
Bantuan-bantuan itu disalurkan “berbasis proposal,” katanya kepada Floresa.
Sejauh ini, kelompok sasaran ada di Lembor, Lembor Selatan dan Pacar, dengan jumlah anggota 10 orang per kelompok.

Dari para wisatawan yang berkunjung ke rumah tenun, Herlina mengaku kerap mendapat pertanyaan soal cara mewariskan budaya ini, sehingga tempat seperti rumah tenun bisa terus bertahan jika nanti mereka purna karya.
“Itu pertanyaan yang paling sulit,” katanya, sembari merapikan benang di dekatnya, bersiap untuk memulai lagi menenun.
“Tidak mudah menjawabnya,” tambahnya.
Editor: Ryan Dagur
Artikel ini merupakan hasil kolaborasi Floresa dan Project Multatuli untuk koleksi jendela.projectmultatuli.org




