Oleh: Aldi Hindut
Natal selalu dirayakan sebagai kabar sukacita. Gereja menghias altar, liturgi berlangsung meriah, dan pesan damai dikumandangkan dari mimbar ke mimbar.
Namun, di balik kemeriahan itu, kelahiran Tuhan Yesus di palungan Betlehem sejatinya juga merupakan peristiwa yang mengandung daya kritik iman.
Natal bukan hanya perayaan, melainkan undangan untuk kejujuran: sejauh mana Gereja sungguh setia pada Injil yang diwartakannya.
Yesus tidak lahir di pusat kekuasaan, tidak disambut oleh elite agama atau politik, dan tidak dikelilingi simbol keagungan duniawi. Ia lahir di palungan—tempat yang jauh dari kemapanan dan citra religius yang megah.
Pilihan ini bukan tanpa makna. Sejak awal, kelahiran Kristus menghadirkan kritik terhadap mentalitas iman yang lebih sibuk membangun citra daripada kesetiaan pada kebenaran.
Di titik inilah Natal menjadi cermin bagi Gereja Katolik hari ini. Gereja hidup dalam sejarah dan tidak luput dari berbagai persoalan internal: relasi kuasa yang timpang, komunikasi yang tertutup, hingga kecenderungan defensif ketika berhadapan dengan kritik.
Semua itu menantang kejujuran iman Gereja sebagai persekutuan yang mengaku mengikuti Kristus yang rendah hati.
Sering kali, atas nama menjaga martabat institusi, Gereja terjebak dalam sikap diam atau berhati-hati secara berlebihan.
Padahal, Injil justru menampilkan Yesus yang berani menyapa kebenaran, sekalipun kebenaran itu mengguncang kenyamanan.
Natal mengingatkan bahwa iman tidak tumbuh dari pembelaan diri, melainkan dari keberanian untuk bercermin dan bertobat.
Kelahiran Yesus juga mengajarkan bahwa otoritas sejati tidak lahir dari struktur semata, melainkan dari kesaksian hidup.
Gereja memiliki tradisi dan tata kelola yang kaya, tetapi kekuatan moralnya akan rapuh jika tidak disertai keterbukaan, tanggung jawab dan keberanian mengakui keterbatasan.
Tanpa kejujuran iman, liturgi yang khidmat berisiko menjadi ritual yang kehilangan daya profetis.
Natal menantang cara Gereja memaknai kepemimpinan dan pelayanan. Dalam terang palungan, kepemimpinan bukan soal posisi, melainkan kesediaan untuk melayani dan mendengarkan.
Relasi antara para pelayan Gereja dan umat tidak seharusnya dibangun di atas jarak dan ketakutan, tetapi di atas dialog dan saling percaya.
Gereja yang menutup diri dari suara umat berisiko menjauh dari semangat Injil yang diwartakannya sendiri.
Perlu diakui, Gereja bukan komunitas orang-orang sempurna dan iman Kristiani tidak pernah dibangun di atas ilusi kesempurnaan. Justru dalam kesadaran akan kelemahan, Gereja dipanggil untuk terus belajar dan memperbarui diri.
Natal mengingatkan bahwa Allah hadir bukan untuk menutupi luka manusia, tetapi untuk menyertainya dan menyembuhkannya melalui kebenaran.
Bagi umat Katolik, kesetiaan kepada Gereja tidak berarti menanggalkan daya kritis. Sebaliknya, iman yang dewasa justru berani bertanya, merenung dan berharap.
Kritik yang lahir dari cinta pada Gereja adalah bagian dari tanggung jawab iman, bukan ancaman bagi persatuan.
Pada akhirnya, Natal adalah perayaan harapan yang jujur. Harapan akan Gereja Katolik yang berani bercermin, rendah hati mengakui keterbatasan dan setia memperjuangkan kebenaran Injil.
Di hadapan palungan Betlehem, Gereja kembali diingatkan bahwa kemuliaannya bukan terletak pada kemegahan, melainkan pada keberanian untuk hidup dalam terang kebenaran.
Aldi Hindut adalah mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Kristen Artha Wacana Kupang
Editor: Ryan Dagur


