Floresa.co – Pemerintah Desa Tengku Lese di Kabupaten Manggarai memperingati Hari Anak Nasional (HAN) tahun ini dengan beragam kegiatan yang menegaskan komitmen untuk melindungi anak dari kekerasan dan mendukung perkembangan mereka.
Digelar di SD Katolik Pasa pada 23 Juli, kegiatan itu mengusung tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat: Menuju Indonesia Emas 2045.”
Pesertanya mencakup Forum Anak — kelompok yang diinisiasi pemerintah desa — dan satuan pendidikan di desa yang tercakup dalam Kecamatan Rahong Utara itu.
Berbagai acara seperti pembacaan puisi dan pidato serta pementasan tari dari peserta didik SMK Negeri 1 Rahong Utara mengisi kegiatan itu.
Pemerintah desa juga melibatkan beberapa Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Manggarai yang memberikan sosialisasi tentang sejumlah topik, antara lain Generasi Emas Bebas Stunting; Pendidikan Inklusif untuk Semua; Anak Terlindungi menuju Indonesia Emas 2045; Anak Cerdas Digital; dan Stop Perkawinan Anak.
Masih dalam rangkaian HAN, sebelum perayaan puncak, Tim Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat yang dibentuk pemerintah desa juga menggelar berbagai sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap anak.
Selain soal stop kekerasan terhadap anak, tema sosialisasi itu juga mencakup kesehatan reproduksi.
Bertepatan dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di SMK Negeri 1 Rahong Utara pada 15 Juli, desa juga terlibat dalam sosialisasi Sekolah Ramah Anak.
Kepala Desa Tengku Lese, Adrianus Sadu berkata, lewat rangkaian kegiatan itu mereka hendak memberi pesan bahwa ”anak-anak tidak boleh tumbuh dalam ketakutan dan tekanan.”
“Biarkan mereka tumbuh berkembang sebagaimana adanya,” katanya.
Ia menegaskan anak-anak berhak mendapatkan cinta dan kasih sayang, bukan pukulan, cacian atau tekanan.
Karena itu, rumah dan sekolah harus menjadi tempat yang aman, nyaman dan penuh kasih bagi mereka.

Sementara itu, Simvarianus Sariman Nego, sekretaris desa yang juga Ketua Panitia HAN berkata, kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah desa untuk mewujudkan “Desa Ramah Anak” yang dideklarasikan pada HUT Republik Indonesia dua tahun lalu.
Karena itu, pemerintah desa merasa perlu menyelenggarakan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan anak.
Ia berkata, anak-anak merupakan tunas-tunas kebaikan bangsa yang harus dilindungi dan haknya dipenuhi.
Namun, kata dia, anak-anak kerap menghadapi berbagai permasalahan, seperti pelecehan, perkawinan usia dini dan penyalahgunaan teknologi digital seperti game dan judi online.
“Masalah-masalah itu menjadi tantangan tersendiri untuk mewujudkan generasi yang tangguh dan berkualitas dalam mencapai Indonesia Emas 2045,” kata Fary, sapaannya.
Ia menambahkan, salah satu persoalan krusial yang dihadapi anak-anak di desanya adalah stunting.
Ada 19 kasus pada 2023 dan sempat menurun menjadi 14 pada tahun lalu.
Namun, hingga pertengahan tahun ini, angkanya telah mencapai 14 kasus.

Fary berkata, pemerintah desa terus berupaya menurunkan jumlah angka stunting dengan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Ia menyebut pada tahun ini, pemerintah desa mengalokasikan dana desa Rp35 juta untuk program itu sesuai rekomendasi dokter.
Ia merinci menu PMT antara lain bubur kacang hijau, nasi merah, nasi putih, perkedel, tahu, sate telur puyuh, sop ayam, sop bening ayam, telur ayam balado, tempe goreng serta susu.
Libatkan Anak dalam Musyawarah
Dalam rangka pemberdayaan dan membuka akses bagi pengembangan diri anak, kata Fary, Desa Tengku Lese mewadahi mereka dalam Forum Anak yang memetakan minat dan bakat.
Ia berkata, pemerintah desa telah memberikan bantuan peralatan musik seperti gitar dan pianika kepada sanggar seni yang dibentuk Forum Anak.
Kepala Desa Tengku Lese, Adrianus Sadu mengklaim Forum Anak Tengku Lese sempat mengikuti pemilihan duta anak Kabupaten Manggarai.
Forum itu, kata dia, juga menyelenggarakan kegiatan yang fokus pada pengembangan bakat dan minat anak dalam menari, menyanyi dan memainkan alat musik.
Sejak tahun lalu, kata Fary, pemerintah desa juga melibatkan anak-anak dalam setiap musyawarah perencanaan pembangunan desa.
“Anak-anak perlu didengar suaranya, baik dalam forum musyawarah maupun pada forum-forum lain yang berkaitan dengan perencanaan pembangunan desa,” katanya.

Fary berkata, keterlibatan anak-anak dalam musyawarah bertujuan agar mereka dapat merencanakan sendiri kegiatannya.
Dengan begitu, segala kegiatan yang dilaksanakan pemerintah desa dapat membawa suka cita dan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak-anak itu sendiri.
“Kami berusaha menghilangkan budaya yang menganggap anak-anak tidak boleh duduk bersama orang tua ketika melakukan musyawarah. Kami berusaha menempatkan anak sebagai subjek, bukan objek pembangunan,” katanya.
Fary berkata, pemerintah desa juga mendorong pendidikan inklusif, di mana semua anak, termasuk yang kebutuhan khusus, memiliki akses dan kesempatan yang sama terhadap pendidikan berkualitas dan lingkungan belajar yang ramah terhadap anak.
“Anak-anak adalah permata bangsa dan anugerah terindah yang harus dijaga dan dilindungi.”
Ia menambahkan mereka adalah generasi yang akan melanjutkan estafet pembangunan.
“Oleh karena itu, kita berkewajiban untuk memberikan perhatian, kasih sayang dan pendidikan terbaik bagi mereka,” katanya.
Makarius Gasman, guru SMK Negeri 1 Rahong Utara yang hadir dalam kegiatan HAN itu berkata, “anak-anak adalah pewaris masa depan dan kita mempunyai tugas untuk melindungi dan memberi ruang agar mereka tumbuh sehat, cerdas dan percaya diri.”
“Tidak boleh ada ruang untuk kekerasan dalam keluarga dan sekolah. Anak-anak harus dibesarkan dalam kasih, bukan ketakutan,” katanya.
Ia berkata, kalau anak-anak dibiasakan untuk bicara, menyampaikan pendapat dan didengarkan sejak dini, “kita sedang menanam benih demokrasi dan kepemimpinan masa depan.”
“Sekolah tidak bisa sendiri karena karakter juga dibentuk oleh lingkungan sosial seperti desa dan keluarga,” katanya.
Editor: Ryan Dagur