Oleh: Christo Maria Sultan Tuzagugu
Kabupaten Nagekeo diguncang kabar tragis terkait kematian Vian Ruma, pemuda yang bekerja sebagai guru dan dikenal sebagai aktivis lingkungan. Ia ditemukan tergantung di sebuah gubuk pada 5 September.
Kini bola panas ada di Polres Nagekeo untuk bisa mengusut kasus ini secara tuntas.
Sejumlah kejanggalan, termasuk kakinya yang menyentuh lantai gubuk menimbulkan pertanyaan: Apakah ia benar-benar memilih mengakhiri hidupnya sendiri atau justru menjadi korban pembunuhan yang dibungkus rapi sebagai bunuh diri?
Pertanyaan ini bukan muncul tanpa sebab. Dalam beberapa tahun terakhir, publik Nagekeo telah berkali-kali dibuat kecewa oleh kinerja aparat kepolisian.
Catatan kasus-kasus besar yang belum terungkap jelas menjadi luka yang terus menganga.
Saya menyebut dua contoh kasus berikut.
Pada 2020, Yosef Valentino Benge Wake (23), seorang mahasiswa ditemukan tak bernyawa di sebuah parit di Rateule, Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa.
Ia berasal dari Danga Au dan berstatus mahasiswa semester tujuh di salah satu perguruan tinggi Yogyakarta.
Kala itu, publik yakin ia dibunuh, tetapi hingga kini pelakunya tidak diketahui. Pengusutan kasusnya meredup, membuat rasa keadilan keluarga dan masyarakat tetap dipendam.
Dengan pengusutan yang berujung tidak jelas berarti pelaku pembunuhan masih tinggal di tengah-tengah masyarakat.
Belum selesai luka itu, pada 2022, seorang siswi SMAN 1 Aesesa berinisial AGFG bahkan dua kali diculik dalam rentang waktu berbeda.
Penculikan pertama terjadi pada 25 April 2022. Ia disekap di salah satu ruangan di bekas Gedung DPRD Nagekeo yang mangkrak.
Penculikan kedua terjadi pada 29 Agustus 2022. Pelaku masuk ke rumahnya, lalu menculiknya pada pukul 05.00 Wita.
Pelaku diduga membius korban dengan obat yang sudah disiapkan. Korban tak bisa bersuara sama sekali.
Ia baru ditemukan pukul 10.00 Wita di atas bukit, di belakang kantor bupati Nagekeo oleh seorang anggota polisi. Ia dalam keadaan pingsan dan tidak sadarkan diri. Bagian kepala korban terdapat beberapa luka lecet.
Penculikan itu dilaporkan ke Polres Nagekeo. Namun, lagi-lagi publik tak mendapatkan jawaban yang memuaskan: siapa dalang penculikan siswi berusia 16 tahun itu? Mengapa aparat bisa kecolongan dua kali?
Kini, kasus kematian Vian Ruma hanya menambah daftar panjang tanda tanya. Publik semakin sulit menahan kesabaran, sebab setiap kali ada tragedi, alih-alih jawaban memuaskan, yang tersisa justru kabut misteri.
Situasi ini menciptakan krisis kepercayaan terhadap Polres Nagekeo.
Polisi bukan sekadar aparat penegak hukum tetapi wajah negara di hadapan rakyat. Jika wajah itu selalu tampak lamban, tumpul, bahkan tak mampu memberi kepastian hukum, legitimasi dan wibawanya akan runtuh.
Penting dicatat bahwa dua kasus terakhir memiliki koneksi yang kuat. Vian Ruma merupakan aktivis lingkungan yang intens melakukan penolakan secara terbuka terhadap rencana proyek geotermal di Nagekeo. Sementara kasus penculikan AGFG diduga punya kaitan dengan perjuangan masyarakat adat menuntut hak terkait pembangunan Waduk Lambo, salah satu proyek strategis nasional di Flores.
Menurut keluarga AGFG, sebelum penculikan pertama, salah satu kakak kelasnya di sekolah itu berinisial EC mengancam akan menculik dan menganiaya AGFG tanpa alasan jelas. EC adalah anak dari salah satu pejabat Nagekeo, pengambil kebijakan terkait pembangunan Waduk Lambo.
Proyek ini dibangun tanpa sosialisasi transparan dan menyeluruh kepada warga. Karena dianggap mengancam eksistensi keberadaan suku asli dengan budayanya, seperti kuburan leluhur dan rumah adat, hingga kini resistensi masih muncul kendati waduk sedang dikerjakan.
Jika benar dalam dua kasus ini ada keterlibatan pihak tertentu atau resistensi dari oknum-oknum yang agendanya tidak ingin diganggu, maka ini menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Apalagi jika tidak ada upaya serius dari aparat untuk mengungkapnya.
Kegagalan mengungkap kasus-kasus jenis ini bukan hanya soal teknis penyelidikan, melainkan soal moral dan keberpihakan.
Apakah polisi berdiri bersama korban dan masyarakat atau justru membiarkan ketidakadilan menumpuk demi kepentingan yang tak kasat mata?
Jika Polres Nagekeo terus membiarkan kasus-kasus ini berlalu tanpa penyelesaian, maka wajar bila masyarakat kehilangan rasa percaya.
Lebih berbahaya lagi, ketika rakyat tak lagi percaya pada hukum, mereka bisa mencari jalannya sendiri. Di situlah chaos bisa bersemi.
Christo Maria Sultan Tuzagugu adalah mahasiswa asal Nagekeo, sedang kuliah di Jakarta
Editor: Ryan Dagur


