Judul buku: Botchan; Penulis: Natsume Sōseki; Penerjemah: Indah Santi Pratidina; Jumlah halaman: 224; Tahun terbit: 2016; Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
_________________
“Aku sudah sampai pada kesimpulan bahwa aku bukanlah tipe yang disukai banyak orang. Karenanya aku tak ambil pusing ketika mereka memperlakukanku seperti serpihan kayu,” tulis Botchan dalam suratnya kepada Kiyo.
Kiyo membalas suratnya, menulis “semenjak kecil kamu selalu tegak menghadapi perilaku culas dan manipulatif. Namun, berani dan berterus terang saja tak cukup untuk mengingatkan kesalahan mereka dalam dunia yang kompleks ini.”
Bukan sekali, dua kali Botchan dan Kiyo berkirim surat. Puluhan amplop berisi berlembar-lembar kertas tulisan tangan Botchan terkirim ke Kiyo sejak ia pindah dari Edo ke Matsuyama.
Edo merupakan pusat kepemimpinan panglima militer Jepang (shogun) sebelum pada 1868 berubah nama menjadi Tokyo.
Sedangkan Matsuyama kini merupakan kota terbesar di Shikoku—satu dari empat pulau besar di Jepang selain Hokkaido, Honshu dan Kyushu.
Kiyo menjadi tempat terakhir Botchan menuangkan kegelisahan akan kecurangan dan korupsi, praktik yang tanpa basa-basi ia kritik dalam lingkungan kerjanya.
Tegurannya yang tanpa pilih kasih membuat ia kerap merasa dibuang—baik dalam relasi pribadi maupun profesional.
Selagi orang-orang menepiskan tangan, tanda tak ingin mendengar sentilannya, Kiyo berusaha membalas setiap surat Botchan.
“Kamu mungkin merasa kehadiranmu tak lagi dipandang oleh mereka,” tulis Kiyo, “tetapi bagiku, kamu selamanya sebongkah permata yang bersinar.”
Penggalan surat itu dibalas Botchan, tulisnya, “pujianmu yang berlebihan selalu terdengar menakutkan selama 23 tahun hidupku. Bisakah Kiyo hentikan itu?”
Pas-Pas Saja
Botchan bukanlah nama sebenarnya. Bermakna “tuan muda,” sebutan Botchan disematkan pada anak laki-laki para tuan tanah sebelum Restorasi Meiji bermula di Jepang.
Restorasi Meiji menandai berakhirnya kekuasaan shogun yang berganti menjadi kekaisaran. Pergantian disertai sejumlah perubahan mendasar, salah satunya pergeseran nama Edo menjadi Tokyo.
Selain itu, Kaisar Mutsuhito sebagai pemegang tampuk kekuasaan pertama era Meiji turut menghapus praktik politik isolasi yang selama 265 tahun membebat Jepang.
Botchan dikisahkan memasuki masa dewasa pada 1890-an, mencerminkan perubahan dan tantangan sosial dalam tahun-tahun awal Restorasi Meiji.
Ia bukan mahasiswa superior yang aktif dalam pelbagai organisasi dan menorehkan beragam prestasi. Nilai akademisnya pas-pas saja, cukup untuk membuatnya lulus.
Botchan menolak pendekatan salah satu kolega mendiang orang tuanya demi mendapat pekerjaan pertama usai lulus dari jurusan matematika. Ia berkeras akan berusaha sendiri yang kemudian betul-betul dibuktikan.
Nilai plus dalam wawancara kerja pertama Botchan justru kefasihannya berbicara di depan publik. Kemampuan itu membantunya diterima sebagai guru matematika sekolah menengah di suatu desa Matsuyama.
Botchan menerima tawaran gaji sebesar 20 yen per bulan—kini setara Rp2.343—yang ia anggap “sesuai bagi saya yang belum berpengalaman kerja.”
Ditusuk dari Belakang
Semula ia membayangkan kehidupan yang damai dan sarat nostalgia di desa. Orang Jepang menyebut desa semacam itu furusato.
Botchan mengidamkan bisa memetik kastanye (chesnut) dan plum yang tumbuh liar di sisi jalan, menyambut musim semi yang ditandai sakura bermekaran serta memancing di waduk dekat sekolah.
Namun, pekerjaan pertamanya di furusato justru sarat masalah.
Sifat Botchan yang blak-blakan membuat murid yang habis dimarahi malah berbalik mengerjai.
Sekali pernah kasurnya penuh dengan belalang mati, yang membuatnya berteriak saking terkejut. Selagi itu terjadi, beberapa murid cekikikan di pintu kamarnya.
Setiap melapor kenakalan murid pada kepala guru, ia justru dicaci maki. Botchan dianggap berbohong dan tak berkompeten mendampingi murid.
Bayangan akan kehidupan damai di desa terus mengabur seiring rangkaian ketidaktulusan dan tipu daya.
Klimaksnya saat ia melaporkan seorang guru yang ia juluki “Kaus Merah”—lantaran berbaju flanel merah sepanjang tahun—sesudah kedapatan korupsi.
Alih-alih ditindak, Kaus Merah malah mendapat dukungan dari petinggi sekolah dan jajaran guru.
Botchan berusaha melawan sistem yang korup dalam lingkungan kerja pertamanya dan karenanya “mereka malah menusukku dari belakang,” cara yang baginya “keculasan demi mempertahankan posisi dalam organisasi.”
Satu per Satu Pergi
Keterusterangan Botchan membuat satu per satu orang-orang terdekat meninggalkannya. Kiyo menjadi satu-satunya sandaran yang ia punya.
“Hanya karena kamu berterus terang mengkritiknya, maka ia meninggalkanmu?,” tulis Kiyo dalam sepenggal surat balasan akan cerita Botchan tentang pasangannya yang baru pergi.
Botchan membalas bagian kalimat itu, menulis “malam ini bulan tampak biru,” caranya supaya tak lebih lanjut ditanya Kiyo.
Namun, Kiyo tahu, Botchan sedang merasa sendirian.
Kiyo mengenal Botchan sejak ia balita. Tak hanya bekerja mengurus rumah keluarganya, Kiyo pula yang maju menghadapi serangkaian kenakalan Botchan.
Ia pernah melompat dari jendela lantai dua sekolah dasarnya cuma karena ditantang, berkelahi dengan anak tetangga di tengah kebun sayur serta menutup sumber irigasi tetangga hanya karena penasaran.
Sekali, Kiyo pulang dari rumah sebelah sembari menenteng sehelai lengan kimono Botchan yang habis dicabik anak tetangga. Melihat itu, Botchan diam saja sambil meringis menahan sakit pada lengannya.
Natsume Sōseki–penulis Botchan–nyaris tak pernah mengisahkan detail kenakalan si tuan muda. Ia tak menceritakan duduk perkara perkelahian, mengapa lengan kimono sampai terlepas maupun seberapa tinggi lantai dua itu dari permukaan halaman sekolah.
Pada akhir cerita, Sōseki hanya menulis, misalnya “petugas sekolah membopongnya pulang” yang membuat pembaca mereka-reka ketinggian lantai itu dan bahwa kaki Botchan terimbas kenekatannya.
Ia menutup cerita tentang perkelahian di kebun sayur dengan dua kalimat pendek “tak satu pun wortel pada bedeng itu dapat dipanen. Akhirnya uang yang berbicara.”
Meski kebandelan Botchan kecil ibarat tak tertolong, tetapi ia tak segan mengakui kesalahan dan meminta maaf. Itulah mengapa Kiyo berkali-kali menyebut Botchan memiliki karakter baik, meski kerap ditampik si tuan muda.
“Mengapa Kiyo selalu mengada-ada? Tunjukkan kesalahanku supaya aku tetap berpijak di atas tanah,” katanya suatu waktu.
Satire dalam Fiksi dan Jurnalisme
Sōseki memunculkan berlipat-lipat monolog dan dialog bernuansa humor, ironi serta satire dalam 224 halaman Botchan. Ia berusaha menggunakan ketiganya guna meningkatkan kesadaran pembaca akan korupsi dan ketidakadilan, bahkan dalam lingkungan terdekat.
Satire serupa dapat ditemukan dalam Don Quixote karya Miguel de Cervantes, Animal Farm yang ditulis George Orwell serta Max Havelaar oleh Multatuli.
Don Quixote memutuskan menjadi pengembara setelah tergila-gila membaca roman kesatria. Ia menjelajahi dunia dan bertekad membenahi sistem yang korup, melawan kincir angin yang ia yakini sebagai raksasa guna menyelamatkan seorang gadis petani bernama Dulcinea.
Sementara Animal Farm merupakan fabel yang berlatar pemberontakan para satwa di suatu peternakan. Mereka menggulingkan manusia peternak demi mewujudkan cita-cita akan masyarakat yang setara.
Max Havelaar berkisah tentang seorang pegawai negeri sipil Belanda. Ia ditempatkan di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) pada pertengahan abad ke-19. Max Havelaar berusaha melawan korupsi dan eksploitasi penduduk setempat oleh penjajah Belanda.
Yang membedakan Botchan dari ketiga novel satire lainnya barangkali cara Sōseki memunculkan anekdot yang menghibur sekaligus mencerahkan disertai pesan-pesan tersembunyi. Pembaca diajak, tak hanya membaca, melainkan juga berpikir untuk menemukan intisari pesan tersirat itu.
Secara umum Botchan menghadirkan cerita personal dan terasa dekat yang membuat kisahnya beresonansi lintas generasi.
Melalui seorang guru yang dianggap tak mampu menjadi teladan para murid, Sōseki turut mendorong pembaca muda untuk berintegritas sedari pekerjaan pertama mereka.
Botchan telah diterjemahkan ke dalam setidaknya lima bahasa—Inggris, Jerman, Rusia, Cina dan Indonesia. Penerjemahan yang diperkaya keragaman interpretasi membuat jalinan ceritanya mudah diakses pembaca non-penutur bahasa Inggris dan tinggal di negeri dengan korupsi merajalela.
Terpisah dari karya fiksi, satire acapkali digunakan jurnalis di tempat-tempat yang sarat swasensor.
Chip Tsao, jurnalis tiga dekade yang berdomisili di Hong Kong, memanfaatkan satire tajam demi menggugah pikiran pembaca akan korupsi yang seumpama gunung es.
“Ketika kritik terhadap penguasa tidak dapat diungkapkan secara bebas, satire dapat menjadi metode menyampaikan pesan yang sama kepada pembaca dengan cara yang lebih halus,” katanya dalam sesi “Satirical Strategies: Exposing Corruption with Humour,” bagian dari Global Journalism Seminar Series yang terselenggara Januari tahun silam.
Triyo Handoko dalam “Tertawa Bersama Jurnalisme Satire” menyebut satire yang digunakan dengan baik dalam pemberitaan dapat “mengomunikasikan kebenaran, menantang tabu sekaligus menghibur tanpa mengurangi daya kritis audiens.”
Sementara Tsao merasa perlu mengingatkan bahwa setiap sentilan seorang jurnalis “harus tetap menyajikan fakta dengan setia memeriksa semua bukti dan menghindari komentar subjektif diri sendiri.”
Selain sejalan dengan etika jurnalisme, prinsip tersebut dapat meminimalisasi risiko keamanan seorang jurnalis yang mengkritik ketidakadilan lewat satire.
“Bertahan hidup adalah hal terpenting bagi jurnalis,” kata Tsao, “maka mari bertahan hidup untuk melihat akhir dari suatu hari yang melelahkan.”
Habis Kata-Kata
Botchan juga berusaha bertahan hidup meski merasa terasing di furusato. Namun, caranya bertahan hidup bukan dengan berlama-lama di sekolah menengah yang mengunci mulut terhadap korupsi.
Tekadnya sudah bulat. Botchan menulis surat pengunduran diri. Ia sudah terlalu lelah berkata-berkata tanpa didengar, yang membuat surat itu hanya terdiri dari tiga baris, tanpa nama dan tanda tangan.
Kepada Yang Terhormat,
Kepala Sekolah
Sehubungan dengan alasan pribadi, saya akan kembali ke Tokyo. Terima kasih atas pengertian Anda.
Kiyo menyambut kepulangannya dengan gembira meski sedang didera radang paru-paru, penyakit yang tak sekalipun ia ceritakan dalam suratnya kepada Botchan.
“Kiyo sakit begini, kenapa terus membalas suratku?,” tanya Botchan saat mengetahui pneumonia yang menjangkiti perempuan sepuh itu.
“Tahukah kamu, Botchan? Bagiku tak ada yang namanya ‘tak punya waktu.’ Waktu itu selalu ada, asalkan kita mau membuat waktu itu untuk sesuatu atau seseorang yang kita pedulikan,” kata Kiyo.
Ia meninggal hanya beberapa bulan sesudah bereuni dengan Botchan. Abu kremasinya disimpan dalam kuil keluarga besar Botchan.
Dalam upacara penguburan, Botchan terngiang-ngiang kalimat Kiyo dalam salah satu suratnya: “Musuh terbesar para petinggi yang korup, dan hal paling pasti untuk melawan mereka, adalah tawa.”
Editor: Ryan Dagur


