Manggarai Masih Dibanjiri Hortikultura dari Luar Daerah, Apa Kabar Program Petani Milenial H2N?

Saat kampanye Pilkada 2020, Program Petani Milenial jadi magnet untuk meraih dukungan kaum muda. Ambisi program itu bertolak belakang dengan realisasinya

Floresa.co – Dalam sejumlah pernyataan saat kampanye pemilihan kepala daerah [Pilkada] empat tahun silam, pasangan Herybertus GL Nabit dan Heribertus Ngabut berjanji “akan memperkuat lagi sektor pertanian Manggarai.”

Janji itu misalnya terlontar dalam debat publik pada 14 November 2020, ketika keduanya menggaungkan, salah satunya, Program .

Nabit menggadang-gadang “Program Petani Milenial akan merangsang pemuda mengerjakan lahan produktif maupun yang belum digarap.”

Program itu “bakal menyediakan komoditas strategis sesuai tren pasar,” target yang menurutnya akan “menjadi salah satu jalan keluar mengatasi pengangguran.”

Strategi yang saat itu digaungkan H2N–singkatan nama pasangan tersebut–tak terkecuali bantuan dana Rp1 juta per petani muda untuk membersihkan lahan.

“Dari perjalanan kami keliling Manggarai,” kata Nabit, “ketiadaan modal pembersihan lahan turut memicu perginya tenaga kerja produktif Manggarai ke Papua, Kalimantan dan .”

Selain program yang langsung menyasar warga, Nabit juga “menghendaki Balai Benih dan Penyuluh Pertanian Lapangan dilengkapi staf dengan beragam keahlian,” seperti soal tanah dan pengairan.

Dengan begitu, “masalah pertanian di tingkat bawah dapat segera teratasi, tak menunggu terjadi bencana dulu baru merespons.”

Bagaimana Realisasinya?

Dengan catatan mengalahkan telak pasangan incumben saat pilkada 2020, harapan besar diberikan kepada H2N yang meraih simpati pemilih dengan jargon membawa perubahan.

Program Petani Milenial H2N salah satu yang ketika itu banyak dibicarakan.

H2N akan mengakhiri masa kepemimpinannya dalam hitungan bulan. 

Keduanya hampir pasti tidak akan berkoalisi lagi dalam pilkada November mendatang, usai berulang kali melontarkan pernyataan yang mengindikasikan ketidakakuran.

Lantas, bagaimana realisasi program yang dibangga-banggakan itu?

Data yang diperoleh Floresa menunjukkan kendati merupakan program unggulan, tak cukup jelas dukungan bagi realisasi program ini.

Salah satunya soal alokasi anggaran yang saat itu dijanjikan bersumber dari investasi [MMI]. BUMD milik Kabupaten Manggarai ini kini terlilit persoalan piutang yang sulit ditagih.

Selama tiga tahun terakhir, keseluruhan anggaran Program Petani Milenial hanya Rp1.234.573.250. Rinciannya Rp265.641.525 pada 2021; Rp505.806.725 pada 2022 dan Rp463.125.000 pada 2023.

Anggaran tersebut, menurut Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan , Laurensius A. Laot, dialokasikan untuk bantuan modal awal kepada para petani milenial.

“Modal awal yang diberikan itu berupa benih hortikultura dan peralatan, serta biaya pembukaan lahan mereka,” katanya kepada Floresa.

Ia mengklaim, malah kalau dihitung, nilainya sudah lebih Rp1 juta per petani penerima bantuan, bila termasuk pembelian benih dan peralatan kerja.

Ia menyebut nominal itu yang selaras dengan janji bantuan Rp1 juta dari H2N saat kampanye pilkada 2020.

Berdasarkan data yang diberikan Laurensius kepada Floresa, mayoritas bantuan disalurkan untuk “mendukung pengembangan sektor hortikultura, khususnya olerikultura.”

Anggaran tahun 2021, misalnya, digunakan untuk kegiatan pendampingan dan bantuan benih hortikultura.

Benih termasuk bawang merah, bayam merah, cabai keriting, cabai rawit, kacang panjang, jagung manis, mentimun, porang, buncis, jahe, kangkung, pare dan terung.

Sementara pada 2022, anggaran dialokasikan untuk pengadaan drum plastik, plastik sungkup, kotak semai benih, gunting pangkas biasa dan plastik mulsa. 

Alokasi lainnya untuk pengadaan benih adalah benih cabai besar, cabai keriting, cabai rawit, kubis, dan petai hibrida.

Setahun berikutnya, anggaran disalurkan untuk pengadaan benih seperti terung, tomat, cabai keriting dan jagung manis. 

Selain itu adalah untuk pengadaan tandon air, traktor mini [cultivator], mesin pompa air dan selang air.

Tren yang Menurun

Sementara klaim program itu sudah berjalan dengan indikator keberhasilan yang tidak dipaparkan, data statistik dan pengakuan petani serta pedagang pasar menunjukkan sebaliknya.

Badan Pusat Statistik [BPS] mendefinisikan petani milenial sebagai petani berusia 19-39 tahun, dan/atau petani yang adaptif terhadap teknologi digital.

Secara keseluruhan di NTT, berdasarkan hasil ST2023, petani milenial yang berumur 19–39 tahun, baik menggunakan maupun tidak menggunakan teknologi digital, sebanyak 225.185 orang atau 25,48 persen dari total petani di NTT yang sebanyak 883.667 orang.

Sementara itu, petani yang berumur lebih dari 39 tahun dan menggunakan teknologi digital sebanyak 144.933 orang [16,40 persen] dan petani yang berumur kurang dari 19 tahun dan menggunakan teknologi digital sebanyak 103 orang atau hanya 0,01 persen dari keseluruhan petani di NTT.

Dalam piramida kependudukan , termasuk Manggarai, warga yang saat ini berusia 15-39 tahun mencatatkan populasi terbesar berdasarkan kelompok umur.

Penduduk Manggarai berusia 15-39 tahun, berdasarkan data Manggarai Dalam Angka 2023, mencapai 134.779 jiwa atau sekitar 41 persen dari total populasi Manggarai 328.758 jiwa.

Sementara berdasarkan data Sensus Tani 2023 [ST2023], Manggarai merupakan kabupaten dengan jumlah petani milenial terbesar kedua setelah Timor Tengah Selatan.

Meski demikian, hal ini tidak linear dengan jumlah milenial yang benar-benar jadi petani, mengingat minat kelompok ini pada sektor pertanian terus berkurang dari tahun ke tahun.

Dampaknya, merujuk ke salah satu indikator yang tersedia untuk konteks Manggarai adalah menurunnya luas panen tanam sayur serta produksinya.

Mengacu pada data BPS Kabupaten Manggarai yang sudah diperiksa Floresa, luas panen tanaman sayur menurun selama periode kepemimpinan H2N.

Selama tiga tahun sebelum 2021, luas panen tanaman sayuran di Manggarai selalu di atas 700 hektare [ha], masing-masing 744 ha [2018], 776 ha [] dan 761 ha [2020].

Selama era H2N, luas panen tanaman sayuran menurun drastis menjadi hanya sekitar 464 ha [2021], 497 ha [2022] dan 416 ha [2023].

Produksi sayuran juga menurun pada 2021 dan 2022. Dari 15.846 kuintal pada 2021 menjadi 10.065 kuintal pada 2022.

Pada 2023, produksi sayuran di Manggarai memang kembali naik menjadi 26.956 kuintal. Namun, jumlah tersebut masih lebih rendah ketimbang produksi sayuran pada 2020 yang mencapai 29.104 kuintal.

Bergantung ke Daerah Lain

Sementara realisasi program dukungan pengembangan potensi pertanian tidak menunjukan hasil memuaskan, warga Manggarai masih bergantung pada hasil pertanian dari daerah lain.

Arsenius Juniagu, pedagang sayur di Ruteng berkata, pasokan sayur dari di Manggarai “masih sangat terbatas” untuk memenuhi kebutuhan pasar-pasar di Ruteng.

Keterbatasan pasokan sayur membuatnya “terpaksa menerima stok dari luar kabupaten.”

Sawi putih misalnya, katanya kepada Floresa pada 10 Juni, “kami pasok dari Bajawa.”

Bajawa–yang tercakup dalam wilayah administratif Kabupaten Ngada–terpaut sekitar 135 kilometer atau 3,5 jam perjalanan dengan mobil dari Ruteng.

Selain sayuran, pasokan ayam pedaging di Ruteng juga bersumber dari luar Manggarai.

Sebastianus Mbang, pedagang ayam di Pasar Inpres Ruteng mengaku memasok ayam pedaging dari Bajawa dan Maumere, .

“Manggarai memang ada [pasokan ayam pedaging], tetapi ukurannya lebih kecil ketimbang yang dari Maumere. Stoknya juga sedikit,” katanya.

“Kalau dari Maumere, kami mendapat pasokan hampir setiap hari,” tambah Sebastianus.

Di Manggarai, katanya, “peternak biasanya memelihara 50 ekor ayam per satu rumah.”

Tanpa memerinci perbandingan dengan kuantitas ayam di Maumere, Sebastianus mengatakan “jumlahnya jauh lebih sedikit di Manggarai.”

Meski ukurannya lebih kecil dan secara jarak distribusi lebih dekat, tambahnya, “harganya sama dengan yang dibawa dari Maumere.”

Tak hanya sayur, ayam pedaging pun bergantung pada pasokan dari daerah lain. (Mikael Jonaldi/Floresa)

Perlunya Intervensi Pemerintah

Heribertus Lanur, seorang petani di Cibal berkata, “intervensi pemerintah diperlukan guna memajukan kembali sektor pertanian Manggarai” sesuai janji kampanye H2N.

Heri memilih menanam sayur di kebun yang sebelumnya ditanami kemiri. Ia menggantinya dengan sayur setelah melihat kemiri yang “cukup boros lahan,” hanya memberinya pemasukan tak lebih dari Rp300 ribu dalam setahun untuk setiap pohonnya.

Sawi hijau merupakan jenis sayur pertama yang ia tanam pada tujuh tahun lalu.

“Tiap tiga pekan saya terima uang [dari hasil panen] sawi hijau,” katanya tanpa mendetailkan pemasukannya.

Hal ini membuat Heri makin berkemauan kuat menjadi petani sayur-mayur [olerikultura].

Selain sawi hijau, ia juga menanam kacang panjang, bayam, tomat, cabai dan mentimun.

Heri biasa menjual hasil taninya ke Ruteng, Pagal dan Reo–semuanya di Manggarai. Ia juga menyisihkan pendapatan untuk ditabung, yang memampukannya memperluas lahan.

Dari pengalamannnya, Heri menyebut setidaknya dua kondisi pertanian Manggarai yang membutuhkan perubahan kebijakan serta keterlibatan aktif pemerintah.

Kondisi pertama terkait kecenderungan petani yang pada akhirnya bergantung pada bantuan sosial, lantaran pemberian modal awal bertani tak kunjung terealisasi.

Modal awal bertani yang disebutkannya mengacu pada janji H2N soal dana Rp1 juta bagi petani muda untuk membersihkan lahan.

“Andai diberi modal awal bertani, paling-paling 3-4 tahun lagi petani tak lagi bergantung pada bantuan pemerintah,” katanya kepada Floresa.

Karena pemberian dana pembersihan awal lahan tak juga terwujud, “petani jadi bergantung pada bantuan sosial, sementara lahan mereka tetap sulit berkembang.”

Sementara kondisi kedua, kata Heri, terkait dengan membanjirnya produk pertanian dan peternakan dari luar Manggarai, misalnya Ngada, seperti yang diakui para pedagang di pasar di Ruteng.

Ia mengaku berusaha secara mandiri sebagai petani, “tak sekalipun mendapat bantuan pemerintah, baik modal maupun pelatihan, apalagi pendampingan.”

Karena itulah ia mengkritisi Program Petani Milenial H2N yang tidak berdampak pagi petani, kendati ia sempat antusias saat mendengarnya tiga tahun lalu.

“Sampai hari ini, mau selesai juga [masa kepemimpinan mereka], tidak ada hasilnya,” katanya.

Laporan ini dikerjakan oleh Petrus Dabu dan Mikael Jonaldi

Editor: Anastasia Ika

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kamu bisa memberi kami kontribusi, dengan klik di sini. Gabung juga di grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini.

TERKINI

BANYAK DIBACA

BACA JUGA