Kepala Desa Ini Sangat Kecewa Masyarakatnya Tak Dapat Jatah Raskin

Baca Juga

Gambar: Ilustrasi
Gambar: Ilustrasi

Ruteng, Floresa.co – Yohanes Sudin sungguh kecewa. Pasalnya, Kepala Desa Wae Renca di Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Flores, ini sudah susah payah mengumpulkan uang dari rumah tangga miskin di desanya.

Uang tersebut untuk membeli beras miskin (raskin) dalam program Operasi Pasar Khusus (OPK) bulan ketigabelas. Harga per kilogram untuk pembelian beras tersebut adalah Rp 1.600. Setiap keluagra miskin akan mendapat jatah 15 kg.

Total rumah tangga miskin di desanya 236 kepala keluarga. Sehingga total uang yang dikumpulkan Yohanes dari warganya mencapai Rp 5.664.000.

Pada Senin 2 Februari 2015, Yohanes pun berangkat ke Ruteng. Tujuannya ke kantor Depot Logistik (Dolog). Uang tersebut akan disetor ke perwakilan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk kemudian ditransfer ke rekining Bulog di Jakarta.

Hanya sayangnya, Yohanes ternyata terlambat. Begitu kata petugas Dolog ketika dia mendatangi kantor tersebut.

“Saya bawah uang tanggal 2 Februari, karena tanggal 31 kan hari Sabtu, tanggal 1 Februari hari Minggu, tanggal 2 Februari saya bawah itu uang, mereka bilang terlambat,” ujar Yohanes ketika berbincang dengan Floresa.co Kamis (5/2).

Kepada Yohanes petugas menjelaskan bahwa batas akhir pengiriman uang ke Bulog adalah Jumat, 30 Januari 2014 pukul 12.00 WITA.

Yohanes lantas kecewa. Dia bertanya ke petugas Dolog, lalu beras murah jatah desa Wae Renca akan dikemanakan? “Petugas menjawab, nanti akan dikembalikan ke pusat,”ujar Yohanes.

Tak puas dengan jawaban petugas Dolog Yohanes lantas mengadukan masalah tersebut ke DPRD Manggarai pada Selasa (3/2015).

“Waktu saya mengadukan, DPRD langsung memanggil Kepala Bagian Ekonomi. Saat itu Kepala Bagian Ekonominya mengatakan kami mengikuti aturan dari pusat yang menutup setoran pada 31 Januari,” lanjutnya.

Dia mengakui dirinya memang terlambat menyetor uang tersebut ke Depot Logistik di Ruteng. Keterlambatan tersebut kata dia disebabkan karena memang tidak mudah masyarakat mengumpulkan uang tersebut.

“Uang itu terlambat karena tau sendiri kondisi orang di Kampung, untuk mengumpulkan uang sebesar itu saja susahnya minta ampun. Aturan boleh seperti itu, tapi ingat juga kepentingan masyarakat, ini namanya program setengah-setengah,” ujarnya.

Desanya pun tidak bisa mendapatkan jatah beras miskin itu tahun ini. “Saya rencananya akan kembalikan itu uang kepada masyarkat,” ujarnya.

Dia berharap agar pemerintah kabupaten Manggarai bisa mengusahakan agar desanya tahun ini tetap mendapatkan beras tersebut, sebab masyarkat memang sangat membutuhkan, terutama musim paceklik saat ini. (PTD/Floresa).

 

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kawan-kawan bisa berdonasi dengan cara klik di sini.

Terkini

spot_img