BerandaPERISTIWABupati dan Wakil Bupati...

Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Beda Pendapat Soal Wacana Ambil Alih Jalan Provinsi di Reok Barat

Di sejumlah tempat di Kabupaten Manggarai memang masih terdapat ruas jalan yang rusak, baik milik provinsi maupun kabupaten.

Floresa.co – Bupati Herybertus GL Nabit dan Wakil Bupati [Wabub] Heribertus Ngabut berbeda pendapat terkait rencana untuk mengambil alih jalan provinsi di wilayah Kecamatan Reok Barat yang baru-baru ini ramai dibicarakan menyusul protes warga terhadap kondisinya yang rusak parah dengan aksi menanam pisang.

Wabup Ngabut menghendaki agar ruas jalan itu dialihkan dari jalan provinsi menjadi jalan kabupaten, sementara Nabit menolaknya karena banyak jalan kabupaten yang tidak terurus lantaran minimnya anggaran.

Segmen terakhir dari ruas jalan Simpang Nggorang-Simpang Noa-Kedindi itu menjadi sorotan, ketika warga di Kampung Munta, Desa Kajong menanam pisang di badan jalan itu pada pekan lalu, sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang membiarkannya rusak selama belasan tahun.

Ngabut mengatakan, ia berniat agar jalan tersebut dialihkan menjadi jalan kabupaten sehingga bisa diperbaiki.

“Sangat terbuka kemungkinan agar status jalan tersebut berubah dari jalan provinsi menjadi jalan kabupaten,” katanya Kamis, 17 November.

Mantan birokrat yang pernah memimpin beberapa dinas dan badan di Kabupaten Manggarai ini membandingkannya dengan upaya pemerintah sebelumnya pada masa kepemimpinan Bupati Deno Kamelus yang mengalihkan ruas jalan Ruteng-Golo Cala, akses utama penghubung ibukota dengan wilayah selatan Manggarai.

“Kita punya pengalaman soal ini, yakni ruas jalan Ruteng-Golo Cala, berubah menjadi jalan kabupaten,” katanya.

Namun, pendapat Wabup Ngabut berbeda dengan Bupati Nabit.

“Kita urus dulu yang kabupaten punya ini, masih banyak titik-titik yang perlu perbaikan. Jangan ambil alih provinsi punya sementara kita punya juga masih ada yang belum [diperbaiki],” kata Nabit saat ikut bersama warga Kampung Munta melakukan kerja bakti memperbaiki jalan yang sebelumnya mereka tanami pisang.

“Kondisi keuangan kita begitu-begitu saja, harap sama-sama memahami,” katanya seperti dilansir Telisik.id, Selasa, 22 November.

Ia mengatakan, sambil menunggu respon Pemprov NTT memperbaiki jalan itu, pihaknya membuka jalan baru sebagai alternatif yang akan menghubungkan Kampung Munta dan Sambor, Desa Nggalak.

Selain dijadikan alternatif untuk jalan provinsi yang rusak, kata dia, jalur baru itu berfungsi sebagai jalan perluasan pertanian dan pemukiman.

“Rencananya kami mau buka jalan baru itu sampai 6 kilo meter, semoga tidak ada hambatan. Untuk sementara sekitar 3 kilo yang sudah dibuka,” katanya.

Sebelumnya wacana Wabub Ngabut juga dikiritik oleh Silvester Nado, anggota DPRD Manggarai asal Reok Barat.

Ia mengatakan, niat menambah volume ruas jalan kabupaten mesti diikuti dengan keseriusan bupati bersama tim kerjanya untuk mendapatkan anggaran.

Ia menilai ini pemerintahan Nabit-Ngabut gagal mendapatkan anggaran dari pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pembangunan jalan karena tidak mampu mengurus dokumen pendukung.

“Tahun 2022 ini, Kabupaten Manggarai tidak mendapat DAK jalan, yang berdampak terhadap terbatasnya anggaran untuk membangun infrastruktur jalan karena hanya mengandalkan Dana Alokasi Umum atau DAU,” katanya.

Sil juga menyentil sejumlah ruas jalan kabupaten yang tidak terurus.

Di sejumlah tempat di Kabupaten Manggarai memang masih terdapat ruas jalan yang rusak, baik milik provinsi maupun kabupaten.

Warga setempat telah melakukan beragam upaya untuk mendapat perhatian pemerintah. Selain protes melalui tanam pisang seperti di Kampung Munta, banyak juga yang memilih mengunggah foto dan video di media sosial. Ada juga yang memilih memperbaikinya sendiri.

Pada 20 Oktober lalu misalnya, sejumlah sopir secara swadaya memperbaiki badan jalan yang rusak parah yang menjadi penghubung antara Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat, tepatnya di Puar Lewe.

Sebagaimana dilansir Floresku.com, mereka memperbaikinya dengan peralatan dan material seadanya, seperti pasir, semen dan batu yang dibeli dengan dana urusan Rp 100.000 per orang.

Selain itu, jalan kabupaten yang menjadi jalan alternatif penghubung Kajong, Reok Barat menuju jalan negara di Bajak, Kecamatan Reo yang baru-baru ini dilalui jurnalis Floresa.co juga rusak parah dan belum diperbaiki.

Tidak hanya di wilayah pedalaman, jalan rusak juga masih banyak ditemukan di Ruteng.

Baru-baru ini sebuah video beredar di Tiktok, di mana seorang pengendara motor kecelakaan saat melalui jalan berlubang di depan Gereja Katedral. Pengendara tersebut tidak melihat lubang itu yang digenangi air hujan.

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga