Oleh: Onessimus Febryan Ambun
Natal pada 25 Desember yang dirayakan umat Katolik setiap tahun merupakan peringatan atas kisah kelahiran Yesus Sang Juru Selamat. Kisah ini sejatinya lekat dengan kesederhanaan.
Natal menggambarkan kerendahan hati Allah yang berinkarnasi, mau menjadi manusia. Ia hadir sebagai bayi yang rapuh, lahir di kandang domba, tanpa kemewahan duniawi.
Dalam teologi Kristiani, momen ini dipahami sebagai kenosis, yakni pengosongan diri Allah yang memilih merendahkan diri dan memasuki kondisi kemanusiaan yang penuh kelemahan.
Melalui kenosis, Allah menyatakan solidaritas dengan mereka yang hidup di pinggiran dan yang memikul beban penderitaan.
Kelahiran Kristus dalam kemiskinan menjadi tanda bahwa Allah berpihak pada mereka yang tidak dihargai dunia.
Karena itu, Natal sejak awal mengandung kritik halus terhadap obsesi kemewahan yang menyingkirkan nilai kesederhanaan, solidaritas dan kasih.
Namun, dewasa ini kemewahan justru menjadi jantung perayaan Natal. Pusat perbelanjaan dipenuhi ornamen berkilauan. Rumah-rumah berlomba memasang lampu hias mahal dan dengan beragam jenis makanan di meja.
Lantas, akumulasi kekayaan material dan daya beli seolah menjadi ukuran kesuksesan merayakan Natal. Mereka yang mampu membeli pohon Natal impor, lampu LED otomatis, hingga kado bermerek dianggap merayakan Natal dengan layak.
Kemeriahan itu bahkan ikut menjadi patokan soal kualitas iman.
Dari Palungan ke Kemerlapan
Pergeseran dari palungan sederhana menuju kemerlapan menandai transformasi radikal makna Natal. Pada gilirannya hal ini menunjukkan betapa dalamnya penetrasi kapitalisme, yang mengubah palungan sederhana menjadi tempat yang lekat dengan kemewahan.
Makna sakral, solider dan sederhana dari kisah kelahiran tersebut pun tergerus oleh komersialisasi masif, yang berkelindan dengan budaya konsumerisme.
Hal ini dilihat dari fenomena momen Natal yang telah berubah menjadi salah satu musim belanja terbesar setiap tahun.
Pusat perbelanjaan menjadi ibarat “gereja baru” perayaan Natal, tempat di mana orang berbondong-bondong mencari “keselamatan” melalui diskon dan promosi.
National Retail Federation (NRF), sebuah asosiasi perdagangan ritel terbesar di dunia yang berbasis di Amerika Serikat memperkirakan bahwa belanja musim liburan di Amerika Serikat saja akan menembus lebih dari 1 triliun dolar pada musim Natal-Tahun Baru 2025. Jumlah itu setara Rp16.771 triliun.
Angka ini merupakan rekor baru dalam sejarah belanja liburan modern. Rata-rata konsumen negara Barat mempersiapkan anggaran natal sekitar 890-902 dolar per orang untuk hadiah, makanan dan dekorasi, setara Rp14,9-15,4 juta.
Pola serupa tercermin di Indonesia. Berdasarkan pengamatan sepintas saya, satu keluarga kelas menengah sering kali menghabiskan Rp2-5 juta demi satu malam perayaan.
Jika kita membedah harga di pasar digital, biaya tersebut terdistribusi untuk membeli pohon Natal (Rp500.000-Rp2 juta), dekorasi lampu dan pernak-pernik (Rp800 ribu-Rp1,2 juta), kudapan premium (hingga Rp2 juta), serta kado untuk keluarga (jutaan rupiah lagi).
Sayangnya, akumulasi ini sering melampaui batas anggaran riil, tetapi demi menjaga gengsi, pengeluaran tetap dipaksakan.
Riset UNA Financials dan Experian baru-baru ini menunjukkan bahwa fenomena belanja masif ini diperparah lagi dengan kemudahan kredit instan melalui fitur paylater di platform e-commerce. Tekanan sosial untuk tampil “paripurna” menjebak konsumen dalam jeratan utang digital impulsif.
Akibatnya, sukacita Natal yang seharusnya spiritual justru meninggalkan residu finansial berupa tumpukan cicilan yang membebani rumah tangga hingga berbulan-bulan.
Fenomena ini sebenarnya telah dicermati secara kritis dalam antologi Christmas Unwrapped: Consumerism, Christ, and Culture (2022). Buku tersebut menunjukkan bagaimana Natal yang awalnya bersifat religius dan komunal kini diselimuti “kemasan sekuler-kapitalistik” yang menggeser pusat perayaan dari pengalaman iman menuju kalkulasi pasar.
Natal saat ini dimaknai sebagai momentum ekonomi strategis yang menentukan performa tahunan industri ritel, logistik dan periklanan.
Dalam konteks ini, simbol-simbol iman direduksi menjadi bahasa promosi, diskon dan target penjualan.
Kapitalisme dan Kolonisasi
Pertanyaan mendasar yang muncul dari fenomena ini adalah berapa sebenarnya harga dari sukacita Natal yang autentik? Pertanyaan ini sebenarnya muncul sebagai gejala dari penyakit yang disebut kapitalisme lanjut (late capitalism).
Filsuf Jürgen Habermas dan Mahzab Frankfurt pada umumnya melihat fenomena ini sebagai pendangkalan makna dalam masyarakat modern.
Dalam struktur kapitalisme lanjut, budaya dan agama tidak lagi berfungsi otonom, melainkan diserap ke dalam industri budaya (culture industry) yang menyeragamkan hasrat manusia demi kepentingan pasar.
Pada tahap ini, kapitalisme menjajah ruang makna, hasrat dan imajinasi.
Akibatnya, konsumsi menjadi sarana pembentukan identitas dan ukuran keberhasilan eksistensial. Manusia akhirnya dinilai dari apa yang ia miliki, kenakan dan pamerkan, termasuk dalam merayakan Natal.
Habermas menyebut hal ini sebagai colonization of the lifeworld—kolonisasi dunia kehidupan. Menurutnya logika instrumental-rasional pasar mengkolonisasi wilayah yang seharusnya diatur oleh nilai komunikatif dan solidaritas.
Natal yang sejatinya merupakan ruang sakral kini terkolonisasi, diambil alih logika pasar brutal.
Akibatnya, kesederhanaan palungan terasa asing di tengah gemerlap pusat perbelanjaan. Ruang refleksi spiritual digantikan hiruk-pikuk transaksi komersial.
Mendiang Paus Fransiskus mengkritik fenomena ini dengan menyebut bahwa kita hidup dalam “a society often intoxicated by consumerism … wealth and extravagance” atau masyarakat yang sering kali mabuk oleh konsumerisme… kekayaan dan kemewahan.
Ungkapan ini menangkap secara tepat situasi di mana perayaan iman mudah larut dalam euforia konsumsi dan sukacita Natal beralih rupa menjadi hasrat untuk membeli, memiliki dan memamerkan.
Kritik ini bukan penolakan terhadap kodrat manusia untuk mengkonsumsi barang atau jasa, melainkan terhadap kecenderungan menjadikan kemewahan dan pemborosan sebagai ukuran kebahagiaan.
Padahal, kisah Natal sendiri menyuguhkan kritik paling tajam terhadap logika ini. Allah tidak lahir di istana atau pusat kekuasaan ekonomi, melainkan di pinggiran.
Pilihan ini adalah pernyataan politis dan etis di mana martabat manusia tidak ditentukan oleh daya beli atau status sosial.
Solidaritas dengan Mereka yang Terpinggirkan
Peristiwa Natal seharusnya menjadi kontra narasi terhadap kapitalisme lanjut yang memuja efisiensi, keuntungan dan pertumbuhan tanpa henti.
Menjadi sebuah kontra narasi berarti berupaya untuk mengembalikan Natal pada esensinya.
Krisis kapitalisme lanjut semakin terasa ketika jurang ketimpangan melebar, pekerja terjebak kerja prekariat dan bumi menanggung beban eksploitasi berlebihan.
Natal dirayakan berlimpah oleh sebagian kecil umat manusia, sementara sebagian lain berjuang untuk kebutuhan paling dasar.
Dalam konteks ini, perayaan Natal yang larut dalam kapitalisme justru berisiko menutupi realitas penderitaan yang sejatinya menjadi pusat perhatian iman Kristiani.
Natal, dengan demikian, adalah undangan refleksi kritis. Ia mengajak manusia menimbang kembali apa yang benar-benar bernilai.
Apakah hidup diukur dari seberapa banyak yang dikonsumsi atau dari seberapa dalam solidaritas yang dibangun? Apakah kebahagiaan lahir dari kepemilikan atau dari relasi yang memanusiakan?
Jika Natal hendak dirayakan setia pada makna asalinya, ia lebih dari sekadar belanja dan perayaan. Natal berarti berani melawan arus dominan, menghidupi kesederhanaan dan berpihak pada mereka yang tersisih.
Uang yang biasanya dihabiskan untuk lampu berkilauan, pohon sintetis impor atau kue mewah akan jauh lebih bermakna jika disalurkan kepada yang membutuhkan.
Di tanah air saat ini, ratusan ribu bahkan jutaan korban bencana alam di Sumatera kehilangan tempat tinggal, krisis makanan dan kebutuhan dasar. Mereka menunggu uluran tangan nyata.
Mendonasikan sebagian dana perayaan Natal untuk mereka adalah wujud nyata solidaritas yang diajarkan Kristus.
Sebab, Natal yang sejati tidak ditemukan dalam gemerlap kemewahan untuk memuaskan ego, tetapi dalam hangatnya tangan yang terulur meringankan beban sesama.
Menjadi pengikut Kristus berarti menjadi ‘Imanuel’—Tuhan beserta kita—yang berani berkenosis di tengah nestapa dan membagikan harapan di balik puing-puing bencana.
Onessimus Febryan Ambun adalah Mahasiswa Magister Teologi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
Editor: Ryan Dagur


