Floresa.co– Seorang kepala desa atau kades di Kabupaten Manggarai, NTT tidak melanjutkan pengerjaan beberapa proyek infrastruktur hingga mangkrak, sementara beberapa lainnya sama sekali belum dikerjakan.
Warga pun menuding Bonefasius Sel, Kades Wae Codi, Kecamatan Cibal Barat itu menilep dana desa yang sudah dianggarkan untuk proyek-proyek itu.
Dalam wawancara dengan Floresa, Bonefasius tidak membantah laporan warganya, menyatakan ia mengaku salah dan berjanji akan melanjutkan pengerjaan proyek.
Seorang warga desanya yang menemui Floresa pada 7 Februari berkata, lima proyek bermasalah itu semuanya dikerjakan langsung oleh kades.
Warga itu yang memilih merahasiakan identitasnya karena alasan keamanan menyebut proyek-proyek itu mencakup infrastruktur jalan, Tembok Penahan Tanah (TPT) dan deker – jembatan kecil atau gorong-gorong – yang dianggarkan pada 2024 dan 2025.
“Tahun 2024 ada proyek jalan rabat beton di tengah Kampung Purang dan Kampung Kalo, termasuk satu segmen TPT, tetapi tidak dikerjakan tuntas sesuai janji kades,” katanya.
Proyek lainnya pada tahun yang sama, kata AB, adalah peningkatan jalan usaha tani di Kampung Cia yang juga tidak dikerjakan sampai tuntas.
Sementara pada 2025 terdapat tiga proyek, dua di antaranya sama sekali belum mulai dikerjakan.
“Ada pembangunan jalan rabat beton di pemukiman Kampung Cekok yang tidak tuntas, walaupun segmen TPT dikerjakan sampai selesai,” katanya.
Proyek yang sama sekali belum mulai dikerjakan hingga akhir tahun anggaran adalah deker di Kampung Cekok dan jalan rabat beton di Kampung Raci.
“Material batu sudah ada di pinggir jalan di Raci, tapi pengerjaan sama sekali belum dimulai sampai sekarang,” kata AB.
Ia berkata, semua proyek tersebut tidak dilengkapi papan informasi, “kemungkinan supaya warga tidak tahu pagu anggaran dan spesifikasi fisiknya di lapangan.”
“Periode kades sebelumnya selalu ada papan informasi,” katanya menyebut Bonefasius mulai menjabat sejak 2022.
Bonefasius Mengaku Salah
Floresa menghubungi Bonefasius pada 7 Februari siang untuk mengonfirmasi laporan warganya.
Ia menolak merespons melalui pesan dan telepon, meminta waktu untuk bertemu langsung.
“Semakin cepat kita ketemu, (saya) semakin lega,” katanya membuka percakapan dalam wawancara di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai.
“Kalau warga betul-betul mau berbuat baik untuk desa, konfirmasi dulu ke pemerintah setempat, wartawan itu kan terlalu jauh dari desa,” lanjutnya.
Namun ia berkata, semua informasi yang disampaikan AB “benar terkait proyek pada 2025.”
Sementara terkait proyek tahun 2024, katanya, “sebenarnya selesai, tetapi materialnya terbawa banjir karena dikerjakan saat musim hujan.”
Ia menyebut material yang terbawa banjir di Kampung Cia, yang dikerjakan pada Februari 2024, sebagai musibah, dan “tanggung jawab saya untuk mengerjakan ulang pada tahun yang sama.”
“Tapi saat itu saya sudah tidak punya uang lain, semua anggaran sudah habis,” lanjutnya.
Terkait proyek mangkrak di Kampung Purang, ia mengklaim “warga tidak tahu persoalan sebenarnya.”
Proyek tersebut, akunya, terkendala seorang warga dari Desa Timbu, tetangga desanya yang tidak sepakat jalan dibangun di atas lahannya.
“Dan, batas proyek memang hanya sampai di situ, kalau mau dilanjutkan maka perlu anggaran baru dalam APBDes,” katanya.
Sedangkan jalan di Kampung Kalo, ia tak membantah kondisi mangkrak, dan “kira-kira kalau saya kerjakan mungkin hanya sehari sudah selesai, material sudah saya simpan di sana.”
“Pengakuan warga tidak salah, saya tidak akan bantah,” katanya.
Sementara terkait tiga proyek yang mangkrak dan sama sekali belum mulai dikerjakan pada 2025, ia mengklaim “kalau tidak sibuk terima Bupati (Hery Nabit) pekan ini, kami sudah memulainya.”
Kunjungan Nabit, kata dia, mendampingi Tim Yayasan Plan Indonesia yang hadir untuk aksi sosial terkait pendidikan anak usia dini.
Soal proyek jalan rabat di Kampung Cekok, ia mengklaim warga sendiri yang meminta mendahulukan pengerjaan TPT.
“Sebenarnya TPT direncanakan hanya delapan meter, tapi tiba-tiba tukang kerjakan sampai 15 meter,” katanya, mengklaim anggaran jalan habis pada proyek TPT.
“Bahan-bahan proyek sudah ada, rencananya kemarin – 6 Februari – saya minta para tukang kerjakan, jangan lagi pakai alasan ‘pili welu’ – aktivitas petani mengumpulkan kemiri di kebun,” klaimnya.
Persalahkan Operator Desa
Bonefasius mengklaim, beberapa informasi dari warga terkait spesifikasi proyek keliru dan tidak sesuai RAB.
Salah satunya proyek jalan di Kampung Cekok yang menurutnya tidak direncanakan hingga 150 meter seperti pengakuan warga.
“150 itu dulu kalau cukup anggaran, RAB tertulis tidak begitu,” katanya.
“Tapi kesalahan saya adalah ‘omong lepas’ tanpa berita acara,” lanjutnya.
Namun saat ditanyai ulang terkait RAB tersebut, ia kembali mengatakan benar “ukur tembus 150 meter, tetapi keadaan uang tidak sampai.”
“Yang tembus (tuntas) hanya pengukuran, anggaran tidak bisa.”
Terkait tidak adanya papan informasi di semua item proyek, ia berkata, “benar, kami ini kepala desa yang tidak tahu pegang komputer.”
“Bendahara sudah beri uang (ke operator) untuk bikin papan informasi, tapi dia tidak buat,” katanya.
Ia juga mengklaim papan nama desa dan informasi lainnya di depan kantor desa itu dibuatnya dengan memakai uang pribadi, “kendati anggaran sudah diberikan ke operator.”
Terkait anggaran proyek, Bonefasius mengklaim bendahara sendiri yang memegang uang dan “kalau butuh uang baru minta ke bendahara.”
Sementara Helmi Fratmi Nunia Neno, bendahara desa mengatakan kepada Floresa pada 9 Februari bahwa seluruh dana proyek sudah “dicairkan sesuai aturan” dan “untuk pekerjaan fisik, kades sendiri yang tangani.”
Helmi berkata, dana proyek seluruhnya diserahkan kepada kades sebelum mulai pengerjaan.

Janji Kerjakan Kembali Pekan Ini
Bonefasius berkata, semua proyek mangkrak dan yang belum dikerjakan itu akan dilanjutkan pada pekan ini.
Namun ia juga mengaku berada dalam posisi terdesak karena “pemerintah yang lebih tinggi bilang ‘kerjakan saja’, tetapi warga saya sendiri bilang ‘kami kumpul kemiri dulu’.”
Ditanyai terkait anggaran yang sudah habis, ia berkata “bagaimanapun caranya akan saya kerjakan karena saya punya tanggung jawab moril.”
“Kalau tidak bisa, sampai akhir masa jabatan saya itu harus tuntas,” katanya. Masa kepemimpinannya berakhir pada 2029.
“Ngaji dami, bom diang poli ket masa jabatan gah, lewe bailn gah,” katanya dalam bahasa Manggarai: “Kami berdoa semoga besok masa jabatan sudah berakhir karena sudah terlalu lama.”
Ia mengklaim, semua material proyek jalan sudah tersedia dan ia “takut semen yang sudah ada membatu dan tidak bisa dipakai lagi nanti.”
“Semua batu sudah saya muat ke lokasi, tinggal kerja,” katanya.
Bonefasius juga berjanji menghubungi Floresa saat proyek tersebut mulai dikerjakan kembali pekan ini.
Pada 10 Februari pagi, ia mengirimi Floresa foto pengerjaan lanjut jalan rabat beton di Kampung Cekok.
Editor: Ryan Dagur




