Bersama Floresa, Saya Mengalami Cara Media Alternatif Menapaki Jalur Sunyi Jurnalisme 

Seorang mahasiswa mengatasi keraguan dosennya, meyakini Floresa sebagai tempat yang tepat untuk magang selama tiga bulan

Tak sedikit orang, termasuk dosen di kampus saya Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, yang menyayangkan keputusan saya tahun lalu memilih magang atau kerja praktik bersama Floresa. 

Seorang dosen bahkan ngotot meminta magang pada media berbasis di Jakarta yang menurutnya sesuai dengan kemampuan saya.

Seorang dosen lainnya secara gamblang berkata: “Mengapa kembali ke Flores? Kamu dapat apa nanti? Floresa itu isinya masalah semua.” 

Namun, saya tetap pada pendirian karena meyakini Floresa menjadi bagian dari “fenomena” yang sangat berbeda dengan media siber umumnya.

Kesan itu muncul sejak saya mengikuti pemberitaan Floresa, meski lupa kapan itu bermula. Semakin lama mengikutinya, semakin besar pula ketertarikan saya pada praktik jurnalistiknya.

Ketertarikan itu mendorong saya untuk tidak hanya menjadi pembaca, tetapi turut menulis. 

Pada November 2022, tulisan pertama saya berupa resensi buku berhasil dipublikasi dan selanjutnya disusul beberapa tulisan lain.

Dalam artikel ini, saya berbagi pengalaman magang, baik terkait alasan tidak mengikuti kehendak dosen hingga pengalaman-pengalaman berkesan selama tiga bulan berdinamika dengan Floresa.

Dari Keresahan dengan Situasi Media

Rasa penasaran untuk mengenal lebih dekat Floresa muncul dari keresahan saya tentang kondisi media saat ini.

Sebagai orang yang mendalami Ilmu Komunikasi – termasuk di dalamnya tentang jurnalistik – saya suka mengamati media-media online atau siber yang saat ini menjamur. 

Tentu saya tak mengamati semuanya. Namun, tidak butuh membaca semua media untuk sampai pada kesimpulan umum bahwa praktik jurnalistik saat ini memprihatinkan.

Saya menemukan akarnya pada inkompetensi dan profesionalitas jurnalis, juga ketidakjelasan prinsip media dan orang-orang di balik meja redaksi. 

Untuk menjadi jurnalis, banyak orang yang tidak mempelajari ilmu komunikasi atau jurnalistik – baik melalui pendidikan formal maupun non formal dengan pelatihan intensif. 

Dengan hanya modal percaya diri dan “bisa” menulis, seseorang merasa sudah menyebut diri sebagai jurnalis, tanpa punya komitmen bagaimana menjalankan kewajiban untuk bekerja secara profesional. 

Karena banyak yang hanya berprinsip demikian, tak heran jika begitu banyak jurnalis dan media tidak menganggap pentingnya peran pers sebagai alat kontrol sosial.

Ada yang kongkalikong dengan pihak tertentu untuk menutupi kejahatan dan memuluskan kepentingan mereka yang berkuasa.

Pilihan menulis berita pun tidak berdasarkan pada pertimbangan soal pentingnya suatu topik untuk publik, tetapi mana topik yang bisa mengundang klik dan membawa keuntungan ekonomi.

Tom Nichols dalam bukunya “The Death of Expertise” mengingatkan hal ini, bahwa “wartawan menanyai pembaca apa yang ingin dibaca, bukan memberikan informasi mengenai hal-hal yang harus mereka ketahui” (Nichols, 2021: 173). 

Basis kalimat Nichols adalah pada kritiknya terhadap praktik jurnalistik yang “mengejar klik,” menumbalkan kualitas. 

Lantas, kita amat mudah menemukan media yang lebih memilih menulis berita tentang pasangan yang selingkuh, alih-alih masalah sosial yang penting dan berdampak untuk publik.

Apa yang Khas pada Floresa?

Berkaca pada fenomena di atas, dalam suatu percakapan dengan seorang dosen di sela-sela bimbingan skripsi, ia berkata bahwa jurnalisme hari ini sedang mengalami keruntuhan dari dalam.

Pernyataan itu ada benarnya, meskipun tak sepenuhnya tepat.

Mengapa? Karena di tengah krisis ini, masih terdapat media-media yang memilih menapaki jalan sunyi dengan terus berupaya menjaga marwah jurnalisme. 

Media-media tersebut kita kenal dengan istilah media alternatif, media independen dan beberapa istilah lainnya. 

Floresa adalah salah satu di antaranya.

Sejak pertama kali mengikuti Floresa, saya melihat kekhasannya yang berupaya melawan arus: memilih hanya menulis isu yang penting untuk diketahui publik, meski isunya kerap rumit atau kompleks, bukan pada isu yang hanya mengundang klik. 

Contoh konsistensi ini adalah meliput proyek strategis nasional di Flores yang umumnya luput dari perhatian media arus utama, terutama media-media berbasis di Jakarta.

Topik liputan Floresa juga umumnya berisiko sebab menantang dan mengganggu mereka yang berkuasa dan para konconya.

Di tengah kecenderungan media nihil idealisme, Floresa teguh mengambil sikap kritis dan mempertahankan independensi, hal yang telah menjadi identitasnya. 

Karena itu, di tengah banyaknya kawan yang memilih magang pada perusahaan media besar di Jawa dengan benefit uang saku, saya dengan mantap kembali ke Flores. 

Saya optimistis bahwa di Floresa ada sesuatu yang lebih dari sekedar uang saku, tetapi bisa mendatangkan uang sewaktu-waktu. 

Saya sebut itu sebagai ilmu, yang tidak cukup dengan apa yang diajarkan dosen di ruang kelas.

Melelahkan, Namun Menyenangkan

Saya tiba di Flores pada penghujung Juli 2025. Tepat 1 Agustus saya mulai magang.

Tidak butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri karena saya dibimbing secara perlahan untuk mempelajari kerja jurnalistik Floresa.

Saat magang ini saya juga mendapat kesempatan istimewa, bisa bertemu dengan Kak Sita Dewi, dosen Universitas Multimedia Nusantara, yang sedang melakukan riset untuk studi doktoralnya di Australia National University. Salah satu objek risetnya adalah Floresa, membuat ia beberapa pekan tinggal di Flores.

Pada beberapa pekan awal, saya melakukan liputan bersama dengan jurnalis Floresa di Labuan Bajo. Saya diajak ke berbagai tempat, kadang untuk meliput satu topik yang sama, kadang topik berbeda. 

Apri Bagung saat menemani salah satu jurnalis Floresa melakukan peliputan di Labuan Bajo. (Dokumentasi Floresa)

Saya mengamati cara kerja mereka, mulai dari merumuskan topik liputan yang dibahas dalam rapat atau di grup internal, merumuskan angle hingga pertanyaan yang diajukan kepada narasumber, cara melakukan wawancara dan cara menulisnya menjadi berita.

Setiap draft naskah liputan biasanya disimpan di dalam Google document, lalu disunting editor dengan mode saran, sehingga jurnalis lapangan tahu bagian mana saja yang diubah atau perlu dilengkapi.

Seiring waktu, secara perlahan saya ingin melakukan liputan sendiri. 

Kesempatan itu tiba ketika seorang editor meminta saya melakukan penelusuran terkait informasi penemuan balok-balok batu atau columnar joint di pinggiran Labuan Bajo

Ini menjadi liputan lapangan pertama yang saya kerjakan sendiri. 

Saya memulainya dengan melakukan penelusuran lokasi menggunakan sepeda motor, bermodal petunjuk video singkat yang beredar di media sosial.

Pada hari pertama, saya mendatangi Kampung Marombok di arah timur Labuan Bajo dan menanyakan warga sekitar tentang lokasi penemuan batu itu. 

Tak ada yang mengetahuinya, sehingga saya harus mendatangi lokasi sekeliling kampung itu, di mana sedang ada pengerjaan proyek. 

Saya membuntuti beberapa truk yang kemudian membawa saya jauh ke dalam hutan dengan akses masuk yang ekstrem.

Di tengah jalan, ada petunjuk kunci dari seorang bapak yang mengarahkan saya mengecek di salah satu titik sekitar kampung itu.

Setelah perjalanan 20 menit, saya sampai pada lokasi yang ia tunjuk dan menemui para pekerja di dekat lokasi penemuan batu.

Tantangan selanjutnya adalah saya hanya diijinkan naik ke bukit titik penemuan batu jika mendapat izin dari pemilik lahan. Karena hari sudah malam, saya memutuskan melanjutkan peliputan pada hari lain.

Pada penelusuran kedua, saya berhasil mendapat ijin setelah berbicara singkat via telepon dengan pemilik lahan.

Saya menaiki bukit untuk mewawancarainya, dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah dibahas bersama editor.

Ada cerita berharga saat pengerjaan liputan ini. 

Usai mewawancarai itu, saya diberi amplop tebal berisi uang. Ada perdebatan kecil di antara kami. Saya bersikeras menolaknya, menjelaskan bahwa pekerjaan saya terikat kode etik. 

Namun, si pemilik lokasi tetap ngotot agar saya menerimanya, apalagi setelah ia tahu saya mahasiswa magang. 

“Kamu terima sudah. Anggap saja ini pemberian dari kakak untuk kamu,” katanya.

Perdebatan kecil itu berakhir setelah saya menerima amplop tersebut. Saya memasukkannya ke dalam tas, tanpa membukanya.

Dalam perjalanan pulang, pikiran saya campur aduk. Saya cemas, dengan banyak pertanyaan bermunculan di kepala: Salahkah keputusan saya menerima uang itu? Apakah saya sudah melanggar kode etik? Bagaimana reaksi tim Floresa nantinya? Apa anggapan mereka tentang saya?

Setibanya di kantor sekitar pukul 18.00 Wita, saya langsung mengajak tim Floresa untuk membahas soal amplop itu.

Mereka tampaknya mengetahui kecemasan saya. Salah satu editor kemudian meminta saya agar tidak menjadikan hal itu sebagai beban pribadi. Kuncinya adalah saya terbuka dan menjelaskan semuanya.

Setelah memastikan bahwa tak ada pesan khusus dari si pemberi uang itu kepada saya, redaksi memutuskan menerimanya. 

Namun, ada catatan: saya menghubungi si pemberi untuk menjelaskan bahwa uang itu kami masukkan sebagai bagian dari donasi publik, bukan ke saya pribadi. Jika ia keberatan, maka saya harus mengembalikan uang itu.

Saya lalu mengirimnya pesan singkat, memberitahukan hal itu. Pemberinya ternyata tidak keberatan. Ketakutan saya mendadak sirna.

Setelah amplop dibuka, jumlah uangnya ternyata Rp750.000.

Pimpinan Floresa memberi tahu saya bahwa jurnalis Floresa kerap mengalami kejadian demikian, tentang ada narasumber yang memberi uang. 

Floresa memegang prinsip untuk tidak menerimanya, apalagi jika disertai dengan pesan tertentu. 

Namun, ada kasus tertentu, seperti yang saya alami, di mana redaksi membuat pertimbangan khusus yang mesti diketahui oleh semua anggota tim.

Kalaupun keputusannya menerima, maka pemberian itu masuk ke kas Floresa dan tidak mengganggu atau membatasi independensi redaksi. 

Hal itu juga menjadi langkah untuk menghindari tekanan personal pada jurnalis yang menerimanya. Kalaupun kemudian ada persoalan, maka tanggung jawab ada pada redaksi, bukan individu jurnalis.

Kebijakan itu memang berdampak pada saya selama mengerjakan liputan. Saya tidak terbebani dengan pemberian narasumber itu. 

Saya hanya fokus memenuhi tuntutan redaksi untuk menulis secara akurat dan melengkapi setiap data yang kurang. 

Selain reportase dari lapangan, saya diwajibkan mendapat penjelasan dari narasumber yang otoritatif tentang fenomena penemuan batu itu. Hal itu membuat saya berusaha mendapat komentar dari geolog di kampus di Jawa.

Liputan itu baru selesai dalam tiga pekan dan dipublikasi pada 5 September, dengan judul Melacak Jejak Batuan Unik di Pinggiran Labuan Bajo.

Pengalaman menarik lainnya terjadi saat saya melakukan liputan tentang jalan jalur Momol-Waning-Wae Ncuring di Kabupaten Manggarai Barat yang menelan APBN senilai RP23 miliar. 

Saya menempuh perjalanan sekitar 98 kilometer dari Labuan Bajo dan menginap di rumah warga setempat.

Saya dikejutkan oleh fakta betapa perusahaan bertingkah semaunya. Kontraktor PT Bragas Cipta Konstruksi yang berbasis di Sulawesi Selatan dan mengerjakan proyek itu pada 2022 tidak saja meninggalkannya dalam keadaan mangkrak, tetapi berutang kepada warga.

Puluhan pekerja harian belum mendapatkan upah, sementara cengkeh, vanili dan tanaman lainnya di kebun warga digusur tanpa ganti rugi.

Hasil liputan itu kemudian dipublikasi dalam dua artikel, tentu setelah melewati proses editing yang ketat bersama para editor.

Artikel pertama berjudul Pupus Harapan Warga Ndoso, Manggarai Barat Usai Mangkraknya Proyek Jalan Rp23 Miliar dari Dana APBN terbit pada 10 Oktober, sementara artikel kedua Kabur, Tak Bayar Utang ke Warga: Ulah Kontraktor Asal Makassar yang Tinggalkan Proyek Jalan Mangkrak di Ndoso, Manggarai Barat terbit pada 13 Oktober.

Proses panjang menulis liputan dua topik itu memberi saya pelajaran tentang pentingnya menulis berita dengan informasi yang memadai, memastikan keakuratan data serta mendapat narasumber yang relevan dan kredibel.

Usaha mencari data dan informasi memang melelahkan. Namun, menyenangkan ketika mengerjakannya di bawah pendampingan intensif dan arahan yang jelas.

Tidak hanya menghasilkan sebuah karya jurnalistik, saya juga belajar pentingnya memiliki pengetahuan yang memadai tentang masalah yang ditulis, sekaligus mengambil sikap atasnya, yang dirumuskan dalam pemilihan framing dan cara mengemas struktur berita.

Di Floresa, saya menemukan bahwa proses-proses ini menjadi tahap penting dalam proses kerja jurnalistik. 

Karena itu, draft yang diutak-atik, catatan-catatan untuk perbaikan yang bisa muncul pada setiap kalimat, menjadi hal biasa.

Setelahnya semuanya dianggap beres dan atas keputusan bersama jurnalis dan editor, barulah sebuah hasil liputan bisa dipublikasi.

Bersama para jurnalis lain dan rekan-rekan dari beberapa lembaga dan komunitas, Apri Bagung berpose dalam perjalanan ke Kampung Mucu di Poco Leok. (Dokumentasi Floresa)

Catatan untuk Pembenahan

Saat menyerahkan draft tulisan ini kepada Floresa, saya diberi catatan oleh Ryan Dagur, pemimpin umum, bahwa catatan pengalaman saya hanya merekam hal-hal baik.

Ia meminta saya untuk juga menulis pengalaman tidak mengenakkan, yang bisa menjadi masukan bagi Floresa untuk pembenahan, termasuk ketika ada mahasiswa lain yang magang di kemudian hari.

Apalagi, saya adalah mahasiswa magang pertama di media ini.

Setelah berpikir-pikir, saya tidak menemukannya dalam hal prinsip dan cara kerja Floresa, tapi pada urusan teknis terkait satu pengalaman liputan yang sempat membuat saya kecewa.

Liputan itu terkait kegiatan masyarakat adat Poco Leok di Kabupaten Manggarai dalam rangka peringatan HUT RI pada 16-17 Agustus 2025. 

Kala itu mereka mengadakan dua agenda kegiatan utama, yaitu diskusi pada malam hari 16 Agustus dan upacara bendera pada 17 Agustus. Dua agenda itu berkaitan dengan perjuangan mereka melawan proyek geotermal.

Saya datang dari Labuan Bajo menempuh perjalanan 170 kilometer dan bersama seorang jurnalis Floresa di Ruteng bersepakat untuk masing-masing menulis satu liputan. 

Saya menulis liputan kegiatan diskusi itu, namun tidak jadi dipublikasi. Hal itu memunculkan banyak pertanyaan di benak; Apakah penulisannya tak sesuai gaya Floresa? Apakah tidak ada news value dalam liputan itu? Apakah saya keliru dalam memilih angle

Ketika berbincang dengan seorang jurnalis Floresa di Labuan Bajo, ia menyampaikan kepada saya agar sebaiknya mengingatkan editor via grup internal soal naskah itu.

“Kadang ada naskah yang terlewatkan jika editor harus menyunting banyak naskah” katanya.

Saya menjalankan sarannya, namun naskah liputan itu tetap tak kunjung diedit dan dipublikasi. 

Belakangan saya diberi tahu bahwa angle liputan itu terlalu mirip dengan yang dikerjakan rekan jurnalis yang ikut bersama saya ke Poco Leok, tidak ada kebaruan, sehingga membuatnya tidak layak diproses.

Ada perasaan kecewa karena hal itu tidak diberitahukan segera, sehingga bisa menjadi pelajaran agar saya tidak mengulang kesalahan serupa.

Dari cerita beberapa jurnalis Floresa, hal seperti ini seringkali terjadi. 

Beban kerja yang menumpuk pada editor, yang juga mengurus hal-hal lain karena keterbatasan tenaga, kerap membuat mereka lupa memberi masukkan pada naskah-naskah yang dianggap tidak layak untuk diproses, apalagi ketika ada naskah lain yang lebih mendesak untuk diedit dan isunya lebih kuat.

Kontribusi Penting Media Alternatif

Dinamika pengalaman magang ini, dengan suka dukanya, memperkaya pengetahuan saya tentang jurnalistik, khususnya juga terkait media alternatif dan cara kerjanya.

Hal ini tidak saya peroleh dari ruang formal di dalam kelas.

Sejauh pengalaman saya di kampus, pembahasan tentang media alternatif memang masih sangat terbatas.

Dalam kuliah tentang jurnalistik, dosen umumnya hanya memberikan materi standar, misalnya soal bagaimana menulis berita dengan piramida terbalik atau menggunakan rumus 5W+1H (Who, What, Where, When and How). Tema lain adalah soal cara memilih angle berita dan menentukan topik liputan. 

Soal prinsip-prinsip dasar peran jurnalisme dalam kehidupan masyarakat, dosen memang mengajarkannya. Adagium tentang peran media sebagai voice of voiceless diucap berulang-ulang. Doktrin bahwa pers harus independen, berimbang dan netral (tidak berpihak) juga dibahas.

Namun, semua itu tidak diletakkan dalam perspektif kritis.

Selama bersama Floresa, kami ikut membahas soal doktrin-doktrin itu. Dengan pilihan sikapnya, Floresa memberi banyak catatan pada konsep netralitas media – sesuatu yang dianggap tidak mungkin atau ilusi dalam kerja-kerja jurnalistik.

Netralitas menjadi mustahil karena setiap media pasti punya preferensi sikap sendiri yang mempengaruhi cara kerjanya, mulai dari pemilihan topik liputan hingga cara menulisnya. Dan, yang paling mendasar adalah pada identitas medianya.

Karena itu, dalam kaca mata Floresa, media yang mengklaim diri netral sebetulnya tidaklah netral. Semua media berpihak, hanya soalnya berpihak pada siapa dan untuk apa.

Tentu saja ada catatan di sini, yang juga selalu ditekankan oleh Floresa bahwa fakta selalu diperlakukan sebagai sesuatu yang sakral, tidak dimanipulasi. Ruang bagi redaksi untuk merumuskan keberpihakan ada pada pemilihan framing atau angle.

Pembahasan tentang topik-topik ini selalu menarik dan kerap menjadi bahan obrolan di Floresa dalam berbagai kesempatan.

Pengalaman bersama Floresa memberi jejak penting bagi perjalanan akademik saya. Dan, saya sama sekali tidak menyesal setelah mendapat cerita dari rekan mahasiswa yang magang di tempat lain.

Salah satu rekan yang magang di media siber di Surabaya mengaku tak pernah melakukan liputan lapangan. Editor hanya memintanya menulis berita dari apa yang dia lihat di media sosial. Jadi, sumber utama berita yang ditulisnya adalah media sosial.

Seorang kawan lain bahkan menyampaikan cerita yang tak kalah mengejutkan. Selama tiga bulan menjadi reporter desk hukum, ia tidak pernah melakukan liputan lapangan. Berita yang dihasilkannya pun hanya satu. 

Keduanya tentu amat berbeda dengan pengalaman saya.

Di Floresa, saya memang tidak mendapat uang saku, tapi untuk setiap liputan yang saya kerjakan, redaksi menyiapkan biaya operasional sekaligus honor. Saya juga bisa menikmati fasilitas yang mereka sediakan, termasuk akses internet dan tempat kerja yang berdampingan dengan rumah kopi.

Sementara makan siang biasanya di lokasi liputan, sebagaimana jurnalis lainnya, makan malam biasa di kantor – meski Floresa sendiri enggan menyebutnya kantor, tapi sebagai rumahyang sekaligus menjadi momen untuk merasakan keakraban sebagai keluarga. Tak ada yang membantu mengurus rumah itu, membuat kami berbagi peran untuk menanganinya, termasuk untuk masak.

Apri Bagung bersama jurnalis Floresa sedang membahas hasil liputan lapangan dengan editor. (Dokumentasi Floresa)

Saya merasa bersyukur karena selama tiga bulan itu saya mengalami sendiri dari dekat bagaimana mengusahakan praktik jurnalisme yang ideal, mengupayakan media benar-benar menjadi “voice of voiceless” sebagaimana diajarkan dosen di kelas.

Saya akhirnya berkesimpulan bahwa materi ideal yang diajarkan dosen dalam perkuliahan formal dipraktikkan secara baik oleh media-media alternatif seperti Floresa.

Karena itu, sudah saatnya mendorong lebih banyak mahasiswa untuk magang di media alternatif. Hal ini akan sangat membantu mahasiswa untuk belajar menjadi jurnalis yang kompeten dan bekerja secara profesional, bukan menjadi jurnalis yang biasa-biasa saja. 

Saya juga berharap kampus-kampus bisa memberi perhatian serius untuk mempelajari media-media alternatif dan menjadikannya sebagai bagian penting dalam kurikulum.

Kendati umumnya berskala kecil, media-media ini yang menurut saya setia bertahan di jalan sunyi menjaga marwah jurnalisme.

Apri Bagung adalah mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA