Warga Rana Mese, Manggarai Timur Gotong Royong Perbaiki Jalan Kabupaten yang Rusak parah, Patungan Beli Material

Warga berharap gotong royong yang mereka tunjukkan membuka mata pemerintah untuk segera memperbaiki jalan itu

Floresa.co – Warga sebuah desa di Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur berinisiatif mengumpulkan uang untuk membeli material, bagian dari cara mereka bergotong royong memperbaiki jalan kabupaten yang rusak parah.

Kabar inisiatif yang berlangsung pada 7 sampai 9 Mei itu dibagikan oleh Adrianus Dadu, warga Kampung Gurung, Desa Sita, Kecamatan Rana Mese lewat unggahan di Facebook. 

Dalam akunnya dengan nama Putra Liar, ia mengunggah dua buah foto yang menampilkan puluhan warga sedang membersihkan rumput liar di kanan-kiri jalan.

Foto-foto yang diunggah pada 7 Mei itu juga menampilkan beberapa warga sedang menyerok pasir dan semen yang akan digunakan untuk memperbaiki jalan itu.

“Seluruh warga yang sering melintas di jalur Kaca-Gurung, kalau ada waktu besok, mari sama-sama memperbaiki jalan ini dan wajib mengumpulkan uang Rp20 ribu untuk beli pasir dan semen,” tulisnya pada takarir pelengkap foto.

“Jangan hanya nonton. Kegiatan ini bukan hanya untuk kebaikan satu orang, tetapi untuk kebaikan bersama.”

Ia menambahkan, “ kalau berharap pada pemerintah, mereka tidak akan perhatikan, sehingga kita sebagai warga yang harus membuatnya [jalan] lebih bagus.”

Adrianus yang berbicara kepada Floresa pada 11 Mei mengatakan jalan itu masuk kategori jalan kabupaten. Pengerjaan lapennya pada pada 2017, tetapi mulai rusak dua tahun lalu.

Kerusakan terparah, kata dia, sepanjang tiga kilometer, antara Kampung Gurung dan Kaca.

“Bahkan motor tidak bisa melintas,” katanya.

Ia mengatakan sebelumnya warga beberapa kali memperbaiki jalan itu.

Lantaran kerusakannya makin parah, “kami meminta warga mengumpulkan uang dan sama-sama memperbaikinya.”

Ia berkata kegiatan itu diinisiasi Hubertus Udat, Ketua Rukun Tetangga dan didukung oleh seluruh warga Gurung dan sebagian warga Kaca.

Untuk mendukung kegiatan itu, setiap kepala keluarga di kampungnya mengumpulkan uang Rp20 ribu untuk membeli semen dan pasir.

“Ada 10 orang warga Kampung Kaca yang ikut kerja dan mengumpulkan uang. Ada juga warga dari kampung tetangga yang menyumbang lima sak semen. Mungkin karena mobil warga itu sering melintas di jalur ini,” ungkapnya.

Adrianus berkata total 87 orang yang mengumpulkan uang berjumlah Rp1.750.000.

Ia merinci uang itu digunakan untuk membeli dua rit pasir dengan harga Rp450 ribu per rit dan 15 sak semen dengan harga Rp55 ribu per sak.

Perbaikan jalan itu memang urgen, katanya, karena berkaitan dengan mobilitas warga.

“Sebelum rusak parah, semua kendaraan bisa masuk ke kampung. Kalau kami tidak memperbaikinya, maka kami harus jalan kaki menuju jalur negara [jalan Trans Flores],” katanya.

Ia mengatakan mayoritas warga di kampungnya berprofesi sebagai petani dengan hasil panen utamanya adalah kemiri yang biasanya dijual ke Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur.

Jika hendak ke Borong yang jaraknya sekitar 13 kilometer, warga biasanya menumpang travel dengan ongkos pergi-pulang sebesar Rp50 ribu.

Adrianus mengaku bersyukur atas antusiasme dan kerja sama warga selama tiga hari memperbaiki ruas jalan kabupaten itu.

“Semoga apa yang kami kerjakan bisa membuka mata pemerintah agar membuat jalan ini lebih bagus dan rapi.” 

Kristo Hadu, warga lainnya berkata, “gotong royong menunjukkan bahwa warga prihatin dengan kondisi jalan itu dan “kami mau berpartisipasi memperbaikinya.”

Ia berkata “alangkah baiknya jika pemerintah mengambil bagian, melihat, dan membantu akses jalan tersebut.” 

Editor: Ryan Dagur

spot_imgspot_img

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kamu bisa memberi kami kontribusi, dengan klik di sini.

Baca Juga Artikel Lainnya