Tak Ada Jembatan, Pelajar di Manggarai Timur Harus  Seberangi Sungai Berarus Deras untuk ke Sekolah

Warga berharap pemerintah menyediakan infrastruktur dasar, bukan hanya mengumbar janji saat pilkada

Baca Juga

Floresa.co – Para pelajar di pedalaman Kabupaten Manggarai Timur harus menyeberangi suatu sungai berarus deras menuju sekolah karena ketiadaan jembatan.

Para pelajar SMA Negeri 6 Borong itu saban hari terpaksa mengarungi Sungai Wae Laras menuju sekolah di desa tetangga.

Fherdynan Pantur, warga Desa Lalang berkata, sungai itu memisahkan desanya dan Desa Satar Lahing dengan Desa Torok Golo – semuanya berada di Kecamatan Rana Mese. 

Tiga desa tersebut berada di sebelah barat Golo Mongkok, wilayah di jalur utama Jalan Trans Flores. 

Fherdynan mengunggah sebuah video di Facebooknya pada 7 Juni, yang memperlihatkan tiga pelajar berseragam pramuka tengah menyeberangi sungai itu.

“Video ini menunjukan situasi Wae Larak saat musim hujan, namun ini bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk mendapatkan ilmu,” tulis Fherdynan. 

“Mereka [siswa]dari Lalang dan setiap hari menyeberangi kali tersebut ketika hendak ke sekolah,” katanya 

Desa Torok Golo, katanya kepada Floresa, berada di sebelah Timur Desa Lalang dengan jarak tempuh sekitar tiga kilometer. 

Fherdynan berkata di wilayah tersebut SMP dan SMA hanya ada di Torok Golo. 

Tidak ada jalan yang menghubungkan kedua desa tersebut sehingga saat musim hujan pelajar kesulitan menyeberang, katanya. 

“Itu satu-satunya jalan yang paling singkat [menuju sekolah mereka], namun tidak bisa dilewati kendaraan.”

Selain tak ada jembatan, jalur yang dilewati para siswa tersebut diapit pepohonan besar yang “sangat mengancam keselamatan mereka, apalagi ketika musim hujan dan angin.”

Selain di Wae Larak, penyeberangan darurat Sungai Wae Musur yang menghubungkan Golo Mongkok dan tiga desa tersebut juga dikeluhkan warga. Kedua sungai itu berdekatan.

Romo Elias Amut, pastor rekan di Paroki St. Maria Fatima Nangalanang – tercakup dalam wilayah Kecamatan Rana Mese – berkata, jalur penyeberangan Wae Musur “sangat vital” bagi warga tiga desa itu.

Ia mengaku acap kali meminta bantuan umat mengangkat sepeda motornya saat melewati sungai tersebut. 

“Itu jalur penting yang jadi jalan bagi warga untuk aktivitas ekonomi dan administrasinya ke Borong,” katanya, merujuk pada ibu kota Kabupaten Manggarai Timur.

Selain itu, kata dia, terdapat sebuah Puskesmas di Desa Lalang yang membutuhkan akses jalur tersebut jika ada pasien yang dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Borong.

Ia juga menyebut jalur tersebut penting untuk pelayanan pastoral umat Katolik di Stasi Puntu, Stasi Lepeng, Stasi Watu Tewuk, Stasi Golo Borong dan Stasi Lalang. 

“Kami berharap pemerintah benar-benar memperhatikan kondisi umat dan warga di sini, bukan hanya mengumbar janji-janji setiap kali menjelang pilkada,” katanya

Harapan serupa disampaikan Fherdynan agar Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur memperhatikan infrastruktur di wilayah tersebut. 

“Buka jalan umum agar bisa dilewati kendaraan. Bagi saya, itu sudah cukup,” katanya.

Ketua DPRD Manggarai Timur, Agustinus Tangkur tidak merespons permintaan komentar tentang hal ini.

Ia hanya membaca pesan Floresa pada 8 Juni, yang sudah bercentang dua dan biru.

Manggarai Timur Memiliki wilayah seluas 2.643,41 kilometer persegi yang terbagi dalam 12 kecamatan.

Yoseph Tote memimpin kabupaten itu – hasil pemekaran dari Manggarai – selama dua periode, berpasangan dengan Andreas Agas. Pada periode 2019-2024 Agas menjadi bupati, hingga mengakhiri masa jabatannya pada Februari. Ia sudah menyatakan akan ikut bertarung kembali pada Pilkada November mendatang.

Manggarai Timur masuk dalam daftar 13 kabupaten tertinggal di NTT, merujuk pada Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020-2024. 

Dari total 1.281,29 kilometer jalan kabupaten di Manggarai Timur, merujuk pada data Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada 2023, 690,92 kilometer berada dalam status rusak, di mana yang rusak berat 306,43 kilometer.

Pada 2021, Manggarai Timur juga masuk dalam daftar lima kabupaten dengan penduduk miskin ekstrem tertinggi di NTT, selain Sumba Timur, Sumba Tengah, Rote Ndao, dan Timor Tengah Selatan. 

Anno Susabun berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Editor: Ryan Dagur

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kawan-kawan bisa berdonasi dengan cara klik di sini.

Terkini

spot_img