Perempuan Asal Manggarai Tewas Dianiaya Pacarnya di Jakarta, “Bukti Tajamnya Pisau Patriarki”

Pelaku berusia di bawah umur dan mengakui perbuatannya

Floresa.co – Seorang perempuan asal Kabupaten Manggarai tewas di Jakarta karena dianiaya pacarnya.

IM yang berasal dari Kecamatan Satarmese ditemukan meregang nyawa di kamar kosnya di Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur pada 12 September. 

Berdasarkan keterangan dari Polsek Ciracas, ia dianiaya oleh pacarnya, Fakhri Feryyansyah pada 11 September sebelum ditemukan sehari kemudian pukul 22.00 WIB oleh seorang tetangga kamar kosnya. 

“Saat dicek, korban ditemukan dalam keadaan telungkup di dalam kamar dengan kondisi tubuh penuh luka lebam, terutama pada leher, wajah dan tangan,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polsek Ciracas, IPTU Hasnan Nasruki pada 14 september.

Ia menambahkan, polisi sudah mengamankan barang bukti berupa satu unit telepon genggam dari lokasi kejadian.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur, AKBP Dicky Fertoffan berkata, Fakhri yang berusia 16 tahun telah ditangkap pada 13 September.

Dicky menyebut, hingga kini polisi masih mendalami kasus tersebut, termasuk status hukum Fakhri yang masuk kategori anak berhadapan dengan hukum.

“Pelaku yang masih di bawah umur ini sudah diamankan di Sat Reskrim Polres Metro Jakarta Timur untuk proses penyidikan lebih lanjut,” ujarnya. 

Menurut keterangan polisi sebelumnya, Fakhri telah mengakui perbuatannya.

Ia mengaku mendatangi kamar kos korban pada 11 September pukul 23.45 dan bertengkar dengan korban.

Ia mengklaim cemburu karena menuding korban jalan dengan laki-laki lain.

Pada dini hari pukul 01.30 WIB, Yasmin yang adalah tetangga kamar kos korban, mengaku mendengar pertengkaran itu.

Ia lalu meminta bantuan warga untuk mengusir Fakhri dari kamar korban. Fakhri lalu keluar dari kamar korban dan pintu ditutup dari luar. 

Ia disebut kembali mendatangi kamar korban pada 12 September pukul 11.00 dan mendapati korban sudah tak bernyawa. 

Berdasarkan pengakuannya kepada polisi, ia kemudian memindahkan posisi kepala korban dan menutupinya dengan selimut agar seolah-olah korban sedang tertidur.

Selanjutnya pelaku kembali ke rumah dan menutup sedikit pintu kos korban.

Irene Kanalasari, aktivis perempuan dari komunitas Solidaritas Perempuan Flobamoratas mengaku prihatin dan marah dengan kejadian ini.

“Kejadian ini menjadi bukti tajamnya pisau patriarki menghujam seksualitas perempuan,” katanya kepada Floresa.

Ia menjelaskan bahwa seksualitas dalam hal ini bukan hanya terkait tubuh seorang perempuan, tetapi menyangkut pikiran, kedaulatan diri dan kemanusiaan seorang perempuan. 

“Perempuan dianggap telah diikat, dimiliki dan dikuasai ketika berada dalam hubungan percintaan,” tambahnya. 

Ia juga menegaskan bahwa “pengekangan atas nama ‘tidak ingin kehilangan’ adalah bentuk penindasan secara halus terhadap perempuan.”

“Perempuan selalu tidak aman di segala aspek selama patriarki dilanggengkan semenjak dari unit terkecil, misalnya di dalam keluarga,” katanya. 

Irene menyayangkan pola asuh keluarga yang kebanyakan hanya “fokus mengajarkan anak perempuan menjaga dirinya, tetapi kerap lupa mengajarkan anak laki-laki untuk bersikap hormat dan tidak mensubordinasi perempuan.”

Ia berharap kasus ini tidak menjadi teror bagi perempuan yang mengalami hal yang sama, tetapi memunculkan keberanian untuk mencari ruang aman dan meminta pertolongan.

Suster Herdiana Randut, SSpS, Koordinator Komunitas Puan Floresta Bicara menuntut agar kasus tersebut diusut tuntas “karena banyak kasus serupa yang tidak jelas proses penyelesaiannya.”

“Jangan sampai masalah ini ditutup sampai proses pemulangan korban saja,” katanya kepada Floresa.

Ia berkata, pelaku dijerat hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA