Floresa.co– Mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng berkolaborasi dengan petani di Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai menginisiasi program pendokumentasian hingga pemasaran pangan lokal, bagian dari upaya mendorong kedaulatan pangan di wilayah itu.
Program tersebut, yang melibatkan mahasiswa dari Kelompok Narasi Untuk Kolaborasi (NUK) dimulai dengan pertemuan awal yang berlangsung selama dua hari di dua lokasi berbeda, yakni Desa Lungar dan Desa Iteng, pada 10–11 Januari.
Trisno Arkadeus, Ketua Kelompok NUK Unika berkata program tersebut didukung Jaringan Biodiversity Warriors Yayasan Keanekaragaman Hayati (BW Kehati), bagian dari upaya sistematis untuk mengembalikan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, akan pentingnya pangan lokal di tengah derasnya arus makanan instan, impor, dan produk pangan modern.
Selain pendampingan, kata Trisno, kegiatan ini juga fokus pada pendokumentasian ragam pangan yang dihasilkan petani yang masih setia menjaga dan mengembangkan warisan leluhur mereka.
“Pendekatan tersebut dilakukan untuk memastikan pangan lokal tidak hanya bertahan sebagai konsumsi rumah tangga, tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya dan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
Pater Calvin Pala, SVD, dosen yang juga koordinator kelompok mahasiswa tersebut berkata pangan lokal merupakan penjaga kedaulatan dan identitas masyarakat.
“Saat generasi muda beralih ke makanan instan dan impor, kita kehilangan bukan hanya sumber gizi, tetapi juga kebanggaan dan kedaulatan pangan keluarga,” katanya.
Menurutnya, sorgum, jagung, kelor dan berbagai jenis lainnya bukan sekadar bahan pangan, melainkan sejarah hidup yang harus diwariskan lintas generasi.
Maria Teme, salah satu petani di Poco Leok mengungkapkan keprihatinannya terhadap perubahan pola konsumsi generasi muda. Menurutnya, banyak anak muda kini merasa malu mengonsumsi pangan lokal seperti jagung atau jenis umbi-umbian.
“Mereka lebih suka mie instan. Padahal pangan lokal itu warisan yang sangat bernilai, sehat, murah dan bisa ditanam sendiri,” katanya.
Maria berharap program tersebut mampu mengubah cara pandang generasi muda terhadap pangan lokal.
Agustinus Tuju, petani lainya dari Poco Leok berkata sejak kecil hidupnya cukup bergantung pada ubi kayu dan ubi jalar, jagung serta kelor.
“Itu yang membuat kami kuat dan bisa sekolah tanpa kelaparan,” katanya.
Hingga kini, kata dia, mereka tetap setia mengonsumsi pangan lokal karena baginya makanan tradisional bukan sekadar pengisi perut, tetapi juga pengingat akan jasa orang tua dan alam yang telah menghidupi mereka.
Sementara itu, Lambertus Mon, petani asal Purang, Desa Iteng berkata pangan lokal masih menjadi tulang punggung konsumsi sehari-hari masyarakat setempat.
“Kami di sini masih menanam dan mengonsumsi sorgum, kelor, serta kopi dari kebun sendiri. Ini warisan yang tidak boleh hilang,” katanya.
Lambertus menambahkan, meningkatnya permintaan dari luar daerah justru semakin memotivasi petani untuk menjaga dan mengembangkan pangan lokal tersebut.

Dari Dokumentasi hingga Pemasaran
Trisno menjelaskan tim mahasiswa melakukan pendokumentasian berbagai jenis pangan lokal yang masih diproduksi dan dikonsumsi masyarakat.
“Di Desa Lungar, kami menemukan empat jenis umbi-umbian, jagung, wortel dan kopi, sementara di Desa Satar Loung terdapat kelor, cabai, serta satu varietas kopi arabika yang masih menjadi andalan,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan ini tidak berhenti pada tahap identifikasi, tetapi juga memetakan potensi pengembangan dan pemasaran, terutama untuk kopi arabika dan sorgum yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Menurutnya, BW Kehati memiliki orientasi yang jelas dengan menyasar generasi muda sebagai agen perubahan dalam pelestarian pangan lokal.
“Kolaborasi dengan NUK Unika bukan sekadar kegiatan lapangan, tetapi merupakan bagian dari pendekatan edukatif yang integratif bagi kaum muda dan masyarakat, khususnya kelompok tani,” katanya.
Salah satu bagian penting program tersebut, kata dia, adalah seminar yang membahas strategi menjaga kedaulatan pangan lokal yang akan berlangsung di kampus Unika St. Paulus Ruteng.
“Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog antara petani, akademisi dan mahasiswa. Tujuannya membangun kesadaran kritis bahwa pangan lokal adalah solusi bagi kedaulatan pangan, kesehatan dan ekonomi masyarakat di tengah krisis iklim dan tekanan pasar global,” katanya.
Ia berkata, kolaborasi ini menyentuh tiga aspek utama sekaligus, yakni pengetahuan lokal (local knowledge), keterlibatan pemuda (youth engagement) dan pendekatan naratif (narrative approach).
“NUK Unika berperan mendokumentasikan dan menyebarluaskan kisah-kisah petani, sementara BW Kehati menghadirkan jejaring serta perspektif lingkungan yang lebih luas,” katanya.
Ia berharap kolaborasi tersebut menjadi model penguatan pangan lokal berbasis komunitas dan kaum muda di kampus.
Editor: Anno Susabun





