Lamunanku langsung buyar ketika mendengar bunyi deru ban mobil di sebelah kamarku. Ketika aku bangun, satu per satu partikel pikiranku dilanda gugup sekaligus penasaran ingin tahu siapa malam-malam begini baru pulang.

Aku menempelken wajahku ke jendela dan langsung kaget ketika yang turun dari mobil itu ternyata belahan jiwaku, Azelia.

Hatiku langsung ambruk. Tanpa menunggu banyak waktu aku langsung bergegas keluar rumah, aku ingin mendengar penjelasan darinya.

Seorang perempuan dengan wajah cantik yang merias dirinya dengan sapuan warna yang tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan.

‘Ngapain kamu ke rumahku?”

“Aku ingin mendengar penjelasan darimu.”

“Tentang apa? Sok banget sih kamu…”

“Pulang dari mana kamu?”

“Bukan urusanmu.”

“Tapi ini urusanku ju..”

Belum selesai, tanpa alasan yang jelas ia menampar pipiku. Azelia memang menyebalkan, namun dari situlah aku menaruh hati padanya.

Ia mengusirku dan menutup pintu dengan segera.

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

BACA JUGA

BANYAK DIBACA