Keadaan Azelia sekarang membuatku seakan melepuh terpakar panas matahari, limbung dihantam ombak dan menciut dicengkram angin. Aku ingin sekali merasakan kemenangan manis yang gilang gemilang dan kekalahan getir yang paling memalukan dalam petualangan hidupku..tentu saja bersama Azelia.

Azelia masih tak bergerak. Kucoba menelpon dokter. Ternyata, kabel teleponnya putus. Ingin kubangunkan tetangga namun tak jadi karena takut dimaki tetangga.

Lagipula, ini sudah larut malam.

Untuk keseribu kalinya aku memandang Azelia. Aku mengerti sekarang. Pager itu membukakan mataku bahwa Azelia adalah seorang kupu-kupu malam.

Aku mengamatinya dengan baik-baik. Seribu kata ingin meledak tapi mulutku keluh. Tanganku ingin menggapainya tapi sendi-sendiku mati.

Azelia terbangun, berbalik, dan aku terhempas di atas lututku. Ia terpana menatapku seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Ia berusaha bangkit, tapi terlalu lemah. Air mata mengumpul di pelupuk matanya. Aku bergetar, seluruh tubuhku bergetar waktu ia menyebut namaku.

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

BACA JUGA

BANYAK DIBACA