“Ya, aku gila karenamu,” sambungku dengan cepat. “Otakku nyaris pecah karena terus memikirkan dirimu..”

“Tapi..”

“Tidak, Azelia. Aku menerima dirimu apa adanya dan semoga engkau menerima diriku apa adanya pula. Sungguh, berada di dekatmu, aku merasa berarti, merasa menjadi seorang pria yang lebih baik..”

Kejadian ini membuat pipinya yang putih bersih tiba-tiba memerah dan matanya yang indah itu seperti ingin menghamburkan air mata.

Aku tahu bahwa ia juga mencintaiku. Aku mencoba mengatur napas dan darahku berdesir menyelusuri seluruh tubuhku yang berkeringat dingin. Aku baru saja dihantam secara dahsyat oleh cinta. Sebuah perasaan hebat yang mungkin dirasakan manusia.

Kemudian ia melangkah, semakin dekat dengan diriku, dekat sekali. Kami beradu pandang dekat sekali..dan suasana seketika menjadi hening..mata kami bertatapan dengan perasaan yang tak dapat kulukiskan dengan kata-kata.

“Alvin..”

Ah Tuhan..sekali lagi ia menyebut namaku. Namun aku kaget, ketika tiba-tiba ia memelukku dengan eratnya.

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

BACA JUGA

BANYAK DIBACA