Sepuluh menit telah berlalu, aku tak mengerti apa yang harus dibayangkan tentang Azelia.

Ketika kupikir tentang Azelia yang bahagia, aku hanya mendapatkan gambaran seseorang yang berantakan, tak pernah merawat diri, hanya bermodalkan bedak tebal dan lipstik merah.

Namun, bagiku Azelia tetap cantik. Berat sekali ketika harus kembali kutinggalkan dirinnya, sendirian.

***

Ia lebih cantik dari segala hal yang ada di dunia. Bahkan, selebritis yang sedang melangkah di catwalk akan bungkam waktu melihatnya berjalan anggun. Cantik rupawan melebihi mayoret manapun. Tingginya tak kurang dari 175 cm, jelas lebih tinggi dariku. Ada sedikit kilasan kedewasaan pada pancaran matanya.

Teori yang memaksakan pendapatku bahwa wanita bermata besar kelihatan lebih cantik akan runtuh berantakan jika melihat Azelia. Inilah pusat gravitasi pesona wajah Azelia.

Kelihatannya sore ini ia mau pergi. Azelia yang biasanya pulang malam-malam bahkan pagi dini hari masih nekat untuk berpergian lagi, apakah dia masih baik-baik saja?

Untuk pertama kalinya, sejak aku jatuh cinta padanya, aku menaruh rasa curiga.

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

BACA JUGA

BANYAK DIBACA