Ambisi Tak Terbatas: Dari Dunia Ninja ke Kerusakan Lingkungan NTT

Dalam dunia yang penuh dengan hasrat dan intrik, penting untuk selalu mempertanyakan harga yang harus dibayar dalam mengejar ambisi

Oleh: Polykarp Ulin Agan

Salah satu tema yang sering menjadi biang kehancuran dalam banyak bidang kehidupan adalah ambisi untuk meraih kekuasaan dan keuntungan.

Banyak karya fiksi melukiskan dan mendramatisasi tema ini secara mengagumkan. Salah satu di antaranya adalah roman Land der Ninja karya penulis asal Jepang Ryō Wada yang terbit tahun ini.

Membaca roman ini – dengan latar zaman ninja dan samurai, berdasarkan fakta sejarah di Jepang-, kita disuguhkan dengan sebuah kenyataan lumrah yang sangat sering terjadi dalam kehidupan masyarakat, budaya dan politik.

Demi menggapai posisi tinggi, demi meraup kekayaan sebanyak mungkin, orang kerap mengorbankan moralitasnya.

Bahkan, kekuatan moralitas itu dibungkus sedemikian rupa, sehingga ia dapat dijadikan sebagai tameng untuk tujuan kekerasan yang destruktif.

Alur ceritra yang digambarkan oleh Ryō Wada dalam Land der Ninja ini menjadi inspirasi berharga untuk merefleksikan ambisi kekuasaan yang menghancurkan dalam konteks budaya dan lingkunangan NTT.

Ambisi Kekuasaan yang Menghancurkan

Ryō Wada berhasil mengalihkan perhatian setiap pembaca pada “ambisi“ sebagai tema dominan yang menghiasi alur ceritra.

Dalam roman ini, para tokoh, baik ninja maupun penguasa lokal, dilukiskan sebagai figur yang dibakar oleh ambisi untuk mencapai posisi dan kekuasaan yang lebih tinggi.

Menariknya, dalam amukan badai ambisi ini terselip juga tema-tema lain seperti kecemburuan, kekerasan, pengkhianatan, bahkan pertumpahan darah yang tidak dapat dipisahkan dari nafsu berkuasa.

Segalanya terjadi karena kepentingan pribadi diletakkan di atas kepentingan bersama.

Tokoh-tokoh utama yang terlibat dalam Land der Ninja ini berusaha mencari jalan yang paling cepat dan elegan untuk sampai pada kekuasaan.

Ambisi membakar naluri. Manipulasi dan pengkhianatan pun menjadi senjata utama. Parahnya lagi, manipulasi dan pengkhianatan ini terjadi dalam aliansi atau persekongkolan maupun pembunuhan berencana.

Semuanya dilakukan tanpa memperhitungkan nilai-nilai moral. Yang paling penting adalah bagaimana mencapai tujuan, meski harus „melangkahi mayat“ sekalipun.

Satu hal yang tak luput dari perhatian Ryō Wada dalam romannya adalah kekerasan psikologis di balik kekerasan fisik yang kasat mata.

Kekerasan dalam bentuk ini seringkali diabaikan. Padahal, dalam kenyataan, kekerasan ini memiliki daya destruktif yang besar dan dapat menekan jiwa, jika tidak ada penanganan yang serius.

Dalam Land der Ninja, tokoh-tokoh yang mengalami kekerasan psikologis ini kerap membayar harga mahal.

Hakikatnya sebagai makhluk bermoral direduksi sedemikian rupa, sehingga hampir tidak memiliki arti kepribadiannya lagi.

Mereka menjadi makhluk yang teralienasi, hidup di luar dirinya sendiri.

Singkatnya, pesan moral dari novel ini: Jalan menuju kekuasaan sering menuntut sebuah harga mahal yang harus dibayar oleh kelompok yang rentan dan lemah.

Dampak Ambisi Ekonomi dan Politik di NTT

Dosa dari ambisi yang tak terkendali tidak hanya diukir dalam karya fiksi tetapi sungguh nyata di bumi NTT.

Apa yang oleh Friedrich Nietzsche disebut sebagai der Wille zur Macht (nafsu menuju kekuasaan) membuat banyak orang menjadi buta mata dan buta hati.

Yang ada di benaknya hanyalah bagaimana mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di depan mata semaksimal mungkin, tanpa peduli apakah langkah ini dapat merusak sektor pertanian dan perikanan yang sudah menjadi tiang utama penopang ekonomi NTT atau tidak.

Para tokoh antagonis mungkin dapat berargumentasi: Bukankah pengelolaan sumber daya itu dapat memberi keuntungan kepada masyarakat secara ekonomis, daripada membiarkannya menua bersama waktu?

Pertanyaan seperti ini sah-sah saja! Tetapi mereka lupa bertanya: Apakah infrastruktur dan teknologi sudah cukup memadai dan siap menjawabi akibat-akibat yang akan muncul dari usaha pengelolaan ini, sehingga kelestarian alam tetap terjaga?

Pertanyaan ini mendorong kita untuk tidak menutup telinga terhadap „jeritan angka dan data statistik“ tentang kerusakan hutan di NTT.

Global Forest Watch mewanti-wanti bahaya deforestasi di NTT dengan memaparkan data kehilangan hutan primer basah di NTT dari 2002 sampai 2024 sebanyak 5.5 kha.

Kalau mau jujur, fakta kehilangan hutan ini pun berhubungan erat dengan pengembangan sektor-sektor tertentu dengan dalih kemajuan tanpa memperhitungkan kerentanannya.

Katakan saja sektor pariwisata seperti Pulau Komodo dan Labuan Bajo, lewat invansi perusahaan-perusahaan swasta yang mau membangun berbagai sarana pariwisata di kawasan yang seharusnya ditujukan untuk konservasi.

Der Wille zur Macht dari pihak-pihak tertentu untuk meraup keuntungan semaksimal mungkin dapat menjadi ancaman serius bagi kelestarian budaya dan lingkungan.

Apalagi ketika ideologi kapitalisme sudah bergaung dalam insting kekuasaan: “Seseorang hanya dapat menjadi manusia, kalau ia sudah dapat menghasilkan secara optimal!“

Der Wille zur Macht yang didengungkan Friedrch Nietzsche tidak hanya bersentuhan dengan eksploitasi lingkungan yang tidak bertanggung jawab. Ia juga berhubungan erat dengan ambisi kekuasaan politik yang sering membawa dampak bagi ketidakstabilan ekonomi.

Ketika kekuasaan politik itu diraih dengan cara yang tidak elegan, kekisruhan dalam masyarakat karena kepentingan-kepentingan tertentu akan mudah tersulut.

Kekisruhan ini dapat menjadi penghalang bagi para investor untuk mengembangkan perekonomian lokal.

Pembangunan pun terhambat. Di beberapa daerah, pembangunan infrastruktur jalan tidak dapat dilanjutkan lagi karena permainan politik lokal yang memperburuk distribusi anggaran.

Waspada dengan Ambisi Ekonomi

Pada saatnya kita tidak boleh menutup mata terhadap pembangunan yang hanya didorong oleh ambisi ekonomi.

Ketika ambisi semau gue berada di balik slogan pembangunan, kerap yang terjadi adalah kesenjangan sosial dan kemiskinan yang memprihatinkan.

Data BPS 2025 menunjukkan bahwa sekitar 19% penduduk NTT hidup di bawah garis kemiskinan.

Ironisnya, sementara ambisi untuk meningkatkan sektor pariwisata dan industri digembar gombor sebagai pemicu pembangunan, justru banyak masyarakat lokal yang terpinggirkan oleh kemajuan yang hanya menguntungkan segelintir pihak.

Pengusaha besar dan investor asing tersenyum di atas ketertinggalan dan mimpi masyarakat lokal untuk „mengendarai kereta kemajuan“.

Ryō Wada lewat novelnya Land der Ninja memberikan peringatan yang kuat tentang bahaya ambisi yang tak terkendali.

Seperti dalam kehidupan nyata, kekuasaan yang diraih dengan cara yang curang dan kejam hanya akan membawa kehancuran bagi mereka yang terlibat.

Dalam dunia yang penuh dengan hasrat dan intrik, penting untuk selalu mempertanyakan harga yang harus dibayar dalam mengejar ambisi.

Pada banyak kasus, ia bisa menghancurkan segalanya, bahkan yang paling berharga sekalipun.

Polykarp Ulin Agan adalah dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman.

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING