Merayakan Natal dari Pinggiran

Yesus telah memilih lahir di wilayah pinggiran. Pada zaman ini, wilayah pinggiran itu tampak dalam ruang hidup mereka yang terjebak dalam kubangan kemiskinan, yang digusur buldoser dan tank kekuasaan

Oleh: Wihelmus Kelvin

Peristiwa kelahiran Yesus merupakan sebuah permulaan. Ia menjadi awal, bukan akhir. 

Hal yang dirayakan pada peristiwa ini adalah perwujudan keterlibatan Allah secara langsung ke dalam sejarah manusia. 

Jika dalam Perjanjian Lama Allah hadir melalui perantaraan para nabi, maka kelahiran Yesus yang kita rayakan dalam Natal menunjukkan Ia hadir secara langsung untuk terlibat dan berjumpa dengan manusia lewat pengalaman hidup yang konkret. 

Meski demikian, makna keselamatan yang dimulai dari reinkarnasi Allah dalam diri Yesus baru mencapai puncaknya pada Peristiwa Salib yang berujung kebangkitan pada Paskah.  

Merayakan Natal berarti merayakan sebuah permulaan, ikhtiar menuju Jalan Salib di medan kehidupan yang sesungguhnya. 

Konsekuensinya, dunia dan kompleksitasnya menjadi medan pergumulan iman dalam merayakan Natal. 

Pinggiran, Sebuah Anomali

Palungan tempat Yesus dilahirkan merupakan sebuah anomali dari perwujudan dan keterlibatan Allah yang akbar itu. 

Alih-alih dilahirkan di istana yang megah – dengan  seremonial  trompet dan sangkakala – Yesus justru lahir di tempat yang banal dan luput dari perhatian banyak orang. 

Betlehem, tempat Yesus dilahirkan, bukanlah Yerusalem yang ketika itu menjadi pusat dari aktivitas religius dan politik. 

Ia bukan centre of excellence dari peradaban Yahudi, melainkan wilayah periferi yang berada nun jauh dari jantung kekuasaan. 

Menariknya, justru dari tempat seperti inilah Allah mewujudnyatakan keterlibatan-Nya dalam sejarah manusia. 

Dari tempat yang dari perhitungan penguasa ini, Allah memulai karya-Nya yang akbar—sebuah karya yang lahir bukan dari kemapanan, melainkan dari penderitaan yang telah lama menghiasi panggung kehidupan manusia.

Ekumene Penderitaan

Penderitaan mendapat aksentuasi khusus dalam peristiwa kelahiran Yesus, terutama dalam Injil Matius. 

Matius menggambarkan bagaimana bayang-bayang penderitaan mengiringi kelahiran Sang Mesias. 

Raja Herodes, yang memerintah sewaktu Yesus dilahirkan, mengeluarkan ultimatum agar semua bayi yang baru lahir di Betlehem dan di daerah sekitarnya haruslah dibunuh. 

Kekerasan, yang semata-mata lahir dari ketakutan dan dahaga kekuasaan, menjadi penderitaan yang teramat berat bagi banyak keluarga pada saat itu.

Mengapa  penderitaan mendapat tempat sedemikian sentral? Sebab pengalaman terdalam dari manusia ialah pengalaman akan penderitaan. 

Penderitaan menandai suatu batas hidup manusia, sebuah pengalaman ekstrim yang kerap sulit dipahami, baik secara rasional, etis, ataupun hermeneutik.

Dalam pencarian makna hidup, manusia hampir selalu berjumpa dengan pengalaman ini. 

Penderitaan menjadi sesuatu yang absurd karena ia menyentuh sisi paling enigmatik dari pengalaman manusia. Ia hadir tanpa penjelasan yang memadai, yang kerap tidak sepenuhnya bisa dipahami. . 

Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa setiap orang akan bergumul dengan pengalaman penderitaan di dalam hidupnya. 

Edward Schillebeeckx (1914-2009), teolog asal Belgia menyebut bahwa sejarah manusia sebagai ekumene penderitaan. Penderitaan menjadi titik simpul yang mempertemukan manusia satu dengan yang lain, melampaui batas agama, budaya dan identitas. Dalam penderitaan, manusia menemukan kesamaannya yang paling mendasar.. 

Apakah dengan demikian penderitaan menjadi tidak berarti? Justru dalam absurditas penderitaan itulah intervensi Allah dimulai.  Penderitaan memungkinkan Allah untuk turut hadir dan terlibat secara penuh.. 

Wujud Allah  yang melibatkan diri dalam penderitaan menjadi kritik tajam terhadap penguasa arogan yang mengabaikan penderitaan rakyat. 

Dalam peristiwa kelahiran Yesus, arogansi ini menyata dalam perbedaan penyebutan diri-Nya. 

Ketika Orang Majus dari Timur menyebut Yesus sebagai Raja, Herodes justru mereduksinya dengan menyebut-Nya sebagai seorang anak. 

Sekilas, kontras ini tampak sepele, tetapi sesungguhnya sarat makna politis.

Herodes merupakan wajah rapuh dari kekuasaan yang ditopang oleh ketakutan. Kekuasaan Herodes menganggap yang lain tidak sepadan dan kerap meremehkan, kalau bukan merendahkan. 

Dalam logika semacam ini, kekuasaan dan narasi publik harus terpusat dan berada di bawah satu komando. Segala sesuatu yang berada di luar kontrol dianggap ancaman. 

Pola kepemimpinan seperti ini bukan hanya milik masa lalu, melainkan terus hadir dalam berbagai bentuk dalam kehidupan bersama hari ini.

Merayakan Keterlibatan

Bagaimana kemudian kita sebagai seorang Kristen memaknai peristiwa ini? 

Natal merupakan panggilan untuk terlibat dalam beragam masalah yang tiada henti menggerogoti kemanusiaan kita. 

Yesus telah memilih lahir di wilayah pinggiran. Pada zaman ini, wilayah pinggiran itu tampak dalam ruang hidup mereka yang terjebak dalam kubangan kemiskinan, yang digusur buldoser dan tank kekuasaan. 

Pinggiran menjadi “rumah” bagi mereka yang kalah dalam pertarungan hidup, yang  suaranya  diabaikan, dibungkam.

Namun, pemilihan pinggiran bukanlah romantisasi kemiskinan atau penderitaan. Sebaliknya, ia merupakan kritik radikal terhadap logika kekuasaan yang selalu memusatkan makna dan keselamatan pada yang kuat dan mapan. 

Karena itu, Natal menjadi ujian iman, bukan sekedar perayaan liturgis. Ia menjadi ujian pembuktian komitmen untuk mau terlibat, senantiasa hadir bersama yang lain, termasuk dalam penderitaan. 

Memahami Natal sebagai perayaan keterlibatan berarti sekaligus melihatnya sebagai panggilan moral untuk berempati pada realitas konkret manusia, terutama mereka yang terpinggirkan dan hidup dalam penderitaan, sebagaimana teladan Yesus Sang Guru. 

In suffering and loneliness someone can be a true Christian,” kata Kierkegaard (1813-1855). Menjadi seorang Kristen yang sejati berarti ikut melibatkan diri dalam aneka penderitaan, meski toh pada akhirnya menyeret kita pada kesepian dan ketidaknyamanan.  

Adalah sesuatu yang memalukan jika kita sebagai orang Kristen memilih diam terhadap aneka ketimpangan yang melahirkan penderitaan. 

Jika demikian, hidup kita seperti katak dalam tempurung, berdiam dalam kemapanan. Atau seperti orang-orang Roma yang bermain biola, sementara kota Roma terbakar. 

Kita tidak peduli dengan situasi sekitar. 

Wilhelmus Kelvin adalah mahasiswa Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING