Lapangan Sepak Bola di Desa Arus, Manggarai Timur Terbengkalai Usai Penggusuran yang Tidak Tuntas, Warga Tuntut Tanggung Jawab Pemerintah Desa

Alat berat rusak saat penggusuran, sempat dibiarkan parkir berbulan-bulan di lapangan, sebelum kemudian dipulangkan, meninggalkan lapangan yang tidak terurus

Floresa.co – Warga di Kabupaten Manggarai Timur menuntut tanggung jawab pemerintah desa karena lapangan yang mereka sebut ‘bertahun-tahun menjadi kebanggaan’ terbengkalai dan penuh genangan air pasca penggusuran yang tidak tuntas.

Yulius Irwan Candra, seorang warga Desa Arus di Kecamatan Lamba Leda Timur yang berbicara kepada Floresa pada 8 April berkata penggusuran lapangan yang terletak di Kampung Pandang itu dilaksanakan di bawah kendali Kepala Desa, Beri Jematu.

Dalam prosesnya, kata dia, penggusuran ini sempat menuai polemik antara Beri dan Andreas Agas, Bupati Manggarai Timur.

Irwan berkata, dalam sebuah kunjungan pada Maret 2022, Agas membawa serta alat berat untuk menggusur lapangan itu.

Beri, kata dia, menolaknya, dengan memerintahkan pihak keamanan desa memulangkan alat berat itu. 

Namun, pada Agustus 2022, pemerintah desa justru mendatangkan alat berat dengan jenis yang sama untuk menggusur lapangan tersebut.

“Dan petaka pun dimulai,” kata Irwan, “penggusuran memakan waktu berbulan-bulan.”

Ia mengaku “tidak mengetahui penyebabnya,” namun menduga karena “alat jenis itu tidak cocok untuk penggusuran.” 

Penggusuran itu, kata dia, akhirnya terhenti ketika alat berat itu rusak dan diparkir di lapangan selama berbulan-bulan. 

Dalam rentang waktu itu, katanya, pemerintah desa sepertinya “tidak punya solusi untuk mengatasi masalah yang terjadi.”

“Sampai akhirnya alat berat itu pulang dan meninggalkan lapangan dalam kondisi yang mengenaskan, jauh dari harapan masyarakat,” katanya. 

Irwan berkata pasca ditinggal alat berat itu, “banyak diskusi bermunculan terkait masa depan lapangan itu.”

“Namun semuanya hanya sebatas diskusi. Alat berat pergi, lapangan terbengkalai,” katanya. 

Ia berkata beberapa orang tergerak membereskan lapangan itu dengan membersihkan beberapa gundukan tanah dan membuat saluran pembuangan air.

Namun, kata dia, hal itu tidak banyak membantu pemulihan kondisi lapangan itu.

Ia berkata warga sempat melakukan protes dengan menanam pohon pisang di tengah lapangan itu pada Mei 2023.

Saat itu, kata dia, situasi sempat memanas, namun tidak ada tindak lanjut dari pemerintah desa. 

“Dalam situasi ini pihak desa tidak berperan sama sekali. Tak ada tindakan berarti untuk memulihkan kondisi lapangan ini,” katanya. 

Pada tahun yang sama, kata Irwan, pemerintah desa sempat membuat Tembok Penahan Tanah [TPT] yang “minim desain dan asal jadi.” 

Pembangunan TPT itu justru memunculkan beberapa masalah baru, yakni lapangan semakin digenangi air dan ukurannya semakin kecil, katanya.

Ia mengatakan setelah digusur, lebar lapangan di sisi selatan hanya sekitar 63/64 meter, sisi utara 75/76 meter dan panjangnya 83/84 meter.

Padahal, kata dia, sebelum digusur panjangnya 85 meter dan lebarnya 67 meter.

Hal yang paling parah, katanya, TPT itu hanya berjarak sekitar satu meter dari tiang gawang.

“Hal ini bisa menimbulkan risiko cedera berat bagi pemain,” ungkapnya. 

Singkatnya, kata Irwan, setelah penggusuran, pemerintah lepas tangan dan membiarkan lapangan dalam kondisi terbengkalai. 

“Ini adalah hal paling menyakitkan dan memilukan bagi sebagian masyarakat di Kampung Pandang. Pedih dan perih,” ungkapnya. 

Ia mengirimkan empat buah foto yang menampilkan kondisi lapangan itu sebelum dan sesudah digusur.

Dua foto menampilkan kondisi lapangan yang ditumbuhi rumput hijau.

Kondisi lapangan sebelum digusur. (Yulius Irwan Candra)

Sementara dua foto lainnya menampilkan kondisi lapangan yang penuh dengan genangan air dan tumpukan tanah.

Ia mengatakan situasi kembali memanas ketika sebuah rapat di kantor desa pada 5 April menghasilkan keputusan bahwa akan diadakan turnamen sepak bola dan voli di lapangan itu. 

“Desa Arus Cup 2 pun terpampang di sebuah gambar,” katanya. 

Irwan mengatakan munculnya undangan itu membuka kembali unek-unek lama, yang berujung pada penolakan terhadap pelaksanaan turnamen itu.

Alih-alih melaksanakan turnamen, kata dia, warga justru meminta pemerintah desa membereskan kembali lapangan itu.

“Realisasi atas permintaan ini adalah keharusan,” ungkapnya. 

Siapa Menginisiasi Penggusuran?

Irwan mengatakan lapangan itu sebenarnya masih layak digunakan warga kendati strukturnya sedikit miring.

Lapangan itu, kata dia, tidak saja digunakan untuk turnamen, tetapi juga untuk kegiatan Sekolah Dasar Katolik Pandang karena “letaknya di kompleks sekolah itu.”

Ia mengaku “belum ada kepastian” apakah penggusuran itu merupakan program desa atau dari pihak lain.

Ia juga mengaku “tidak tahu” terkait anggaran penggusuran lapangan itu.

“Banyak informasi yang beredar. Mungkin untuk kepastian ditanyakan langsung ke kepala desa,” katanya.

Ia mengaku “tidak tahu” apakah penggusuran itu dibahas atau tidak di dalam musyawarah desa karena “saya tidak terlibat dalam urusan desa.”

Yang jelas, kata dia, “banyak yang tidak peduli dan cari aman” karena takut berkonflik dengan pemerintah desa.

“Mereka takut bermasalah dengan keluarga sendiri,” katanya.

Seorang sumber mengatakan “kalau tidak salah, lapangan itu digusur Nadus Nuel atas permintaan warga.”

Nadus Nuel yang disebut sumber itu merujuk pada Bernadus Nuel, Wakil Ketua 1 DPRD Manggarai Timur dari daerah pemilihan II, meliputi Kecamatan Lamba Leda Selatan dan Lamba Leda Timur. Dalam pemilihan legislatif 14 Februari, Nuel gagal terpilih kembali.

Laporan Suara Flores pada 8 Januari menyebutkan dalam sebuah reses di Desa Ulu Wae, Kecamatan Lamba Leda Timur, Nuel mengklaim bidang olahraga merupakan salah satu persoalan yang kerap diadukan warga kepadanya. 

Legislator dari Partai Hanura itu mengaku selama ini telah mendukung dan memberikan bantuan sarana dan prasarana olahraga kepada sejumlah pemuda dan pemudi di Kecamatan Lamba Leda Timur, berupa bola kaki, bola voli, net serta kostum. 

Kendati tidak merinci, Nuel juga mengaku “selama ini, saya sudah melakukan penggusuran lapangan yang bergelombang di sejumlah desa di Kecamatan Lamba Leda Timur.”

Merespons informasi dari sumber itu, Irwan mengatakan “saya juga bingung apakah penggusuran itu merupakan usulan warga atau tidak. Pertanyaanya, warga yang mana?”

“Masalahnya warga di sini tidak mau bersuara. Apa yang dilakukan pemerintah desa, mereka ikut saja,” ungkapnya.

Ia berkata “mungkin informasi bahwa penggusuran itu merupakan program Bernardus Nuel benar. Tapi kan programnya lewat [pemerintah] desa dan mereka yang menyelenggarakan itu.”

Jadi, kata dia, “pemerintah desa yang harus bertanggung jawab atas penggusuran yang mangkrak itu.”

Alat berat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah sedang menggusur lapangan di Kampung Pandang pada akhir Agustus 2022. (Yulius Irwan Candra)

Kepala Desa Arus, Beri Jematu yang berbicara kepada Floresa pada 10 April mengatakan penggusuran itu merupakan usulan warga yang disampaikan secara langsung kepada Andreas Agas.

Merespons usulan itu, kata dia, Agas mendatangkan alat berat dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

“Warga melakukan swadaya untuk menyediakan solar serta makan dan minum operator alat berat itu,” ungkapnya.

Ia berkata lapangan itu memang agak miring sehingga perlu digusur agar permukaanya menjadi rata.

Penggusuran, kata dia, sudah dikoordinasikan dengan dengan pihak SDK Pandang sebagai pemilik lapangan.

“Mereka [pihak sekolah] tidak melarang warga untuk memanfaatkannya. Selama ini kami menggelar turnamen di situ,” katanya.

Beri mengaku ketika penggusuran hampir rampung, alat berat itu memang mengalami kerusakan dan telah dibawa pulang oleh operator.

Lantaran alat rusak, katanya, ada beberapa item yang belum sempat dibereskan operator, terutama tumpukan tanah.

Oleh karenanya, kata dia, Bernadus Nuel mengalokasikan anggaran Rp125 juta yang bersumber dari “dana pokir” untuk membantu warga membangun TPT. 

Pokir merupakan aspirasi warga yang dititipkan kepada anggota dewan untuk diperjuangkan dalam pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.  

“Jadi penggusuran itu bukan merupakan program pemerintah desa. Bukan juga program Bernadus Nuel. Dia hanya membantu membuat TPT,” katanya.

Beri mengaku saat musim hujan seperti sekarang ini, lapangan itu memang digenangi air “karena permukaannya belum terlalu rata.”

Karena itu, kata dia, pemerintah desa bersama warga akan melakukan bakti sosial untuk membersihkan dan membereskan lapangan itu.

“Hari Jumat nanti kami akan bakti sosial,” katanya merujuk pada 12 April, “kami akan menyiram sekam padi pada bagian yang belum terlalu rata itu.”

Ia mengatakan turnamen dalam rangka memperingati hari ulang tahun desa yang jatuh pada 16 Juni tetap akan dilaksanakan.

Ia menargetkan turnamen itu akan melibatkan 64 tim sepak bola di Manggarai Raya dan dilaksanakan dalam tempo sebulan yang dimulai pada 3 Mei.

“Sambil menunggu ada tim yang mendaftar, kami akan membereskan dan membersihkan lapangan itu. Ini bagian dari cara kami mengangkat potensi desa di bidang olahraga,” katanya.

Editor: Ryan Dagur

spot_imgspot_img

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kamu bisa memberi kami kontribusi, dengan klik di sini.

Baca Juga Artikel Lainnya

Dari Rotok Hingga Nabit, Retribusi Pemanfaatan Tanah oleh PT PLN Tak Bisa Ditagih; Apa Pemicunya?

Pemkab Manggarai kehilangan potensi pendapatan lebih dari empat miliar yang seharusnya bisa masuk ke khas daerah

Krisis Keteladanan dan Minim Fasilitas Pendukung, Pendidik dan Peserta Didik di NTT Sebut Dunia Pendidikan Butuh Kolaborasi dalam Menumbuhkan Semangat Literasi

Lomba menulis merupakan sarana untuk saling terkoneksi dan berbagi  praktik baik terkait pembelajaran di sekolah masing-masing

Manfaatkan Fleksibilitas Kurikulum Merdeka, SMP Negeri di Sabu Raijua Adakan Kegiatan Belajar Mengajar di Luar Ruang Kelas

Kurikulum Merdeka memungkinkan siswa untuk tidak hanya belajar terkait mata pelajaran dan sumber belajar bisa ada di mana saja, kata guru

Skandal Imam di Keuskupan Ruteng dengan Istri Umat, Apa Ancaman Hukumannya Jika Diproses Pidana?

Kasus ini bisa dikategorikan sebagai tindak pidana percobaan terkait perzinahan, kata pakar hukum

Komersialisasi Pendidikan dan Sistem Kerja yang Mengeksploitasi Buruh, Dua Masalah Pelik yang Jadi Fokus Diskusi Mahasiswa di Yogyakarta

Mahasiwa didorong membantu kaum buruh dan kaum tani agar mereka bisa keluar dari situasi yang sulit