Sayur Basi, Pelajar Sakit Perut Massal; Prahara MBG di Manggarai Barat

SPPG Nao Kolang yang mengelola MBG di wilayah itu bernaung di bawah yayasan milik kader Partai Gerindra

Floresa.co –  Yohana, samaran seorang siswi salah satu sekolah di Kecamatan Kuwus Barat, merasa ada yang aneh pada menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tiba di sekolahnya pada 28 Januari.

Ia dan teman-temanya mencium aroma basi pada sayur, membuat mereka memilih tak mengonsumsinya.

“Kami buang saja sayurnya,” katanya kepada Floresa.

Menu sayur MBG hari itu adalah labu, sawi hijau dan tauge, yang dipadu dengan telur rebus dan buah semangka.

Sementara Yohana dan beberapa temannya aman, kondisi berbeda dialami pelajar lain yang hari itu sakit perut massal karena memilih tetap mengonsumi makanan program Presiden Prabowo Subianto itu.

Menu MBG pemicu prahara tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Nao Kolang di Kecamatan Kuwus Barat.

Setidaknya 132 siswa SD hingga SMA yang menikmati menu dari dapur itu terpaksa dilarikan ke Puskesmas Golo Welu di Kecamatan Kuwus.

Mereka berasal dari sejumlah sekolah, yakni SMAN 1 Kuwus (42 orang), SMKN 1 Kuwus (9 orang), SMPN 2 Kuwus (31 orang), SDI Golo Welu 2 (20 orang) dan SDI Golo Bombong (30 orang).

Rival Mbaku, guru penanggung jawab MBG di SMA Negeri 1 Kuwus berkata, para pelajar di sekolahnya sempat mengikuti aktivitas seperti biasa pada 29 Januari pagi.

“Namun, satu-satu di antara mereka mulai mengeluh sakit perut,” katanya.

Tak lama kemudian, Rival, 30 tahun, mendapat informasi bahwa di SDI Golo Welu dan SMPN 2 Kuwus sudah ada pelajar yang dilarikan ke puskesmas karena masalah serupa.

“Kami akhirnya mengambil tindakan membawa mereka ke puskesmas,” katanya.

Ia berkata, para siswa mengaku mulai sakit perut sejak 28 Januari malam, setelah siangnya mereka mengkonsumsi MBG.

Rival menyebut, menu diibagikan kepada siswa pada pukul 12.00 Wita, dua jam setelah didistribusi.

Kepala SMKN 1 Kuwus Egideus Helmon berkata sembilan dari total 515 siswa di sekolahnya sakit perut sebelum kemudian segera dilarikan ke puskesmas.

Hingga kini, ia masih menanti informasi penyebabnya.

“Kami masih menunggu informasi dari dinas, karena itu kapasitas mereka,” katanya.

Apa Kata Kepala Puskesmas?

Floresa menemui Kepala Puskesmas Golo Welu, Yosep Sudi di rumah dinasnya pada 30 Januari.

Kendati mengakui bahwa ada 132 siswa yang mengeluh sakit perut sejak 28 Januari malam dan dirawat, ia mengklaim tak bisa menjelaskan apakah pemicunya karena keracunan.

“Tidak ada pasien keracunan MBG yang kami tangani di sini,” katanya.

Kepala Puskesmad Golo Welu Yosep Sudi saat diwawancarai di rumah dinasnya pada 30 Januari 2026. (Dokumentasi Floresa)

Ia berkata, para pelajar hanya menjalani pemulihan di Unit Gawat Darurat dan “tidak ada yang rawat nginap.”

Puskesmas “hanya menemukan gejala-gejalanya seperti buang air besarnya encer, mengeluh sakit perut dan muntah-muntah, namu “tidak punya kapasitas untuk mendiagnosa penyebabnya.”

“Itu harus melalui uji lab dan kami sudah mengirim sampelnya ke dinas untuk diuji,” katanya. 

Sampel itu berupa air yang diminum para siswa dan muntah mereka.

Ia mengklaim bisa jadi pemicu sakit massal itu karena virus dan bakteri, air minum dan faktor cuaca.

Saat menemui Yosep, Floresa bertemu dengan Kapolsek Kuwus, Arsilinus Lentar bersama dua anggota polisi dan seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). 

Di tengah wawancara,  tiga orang yang mengaku dari intel Polres Manggarai Barat hendak menemui Yosep.

Namun, Yosep meminta mereka untuk menunggu hingga wawancara selesai.

Arsilianus mengklaim kehadiran polisi dan TNI di rumah itu “hanya untuk mencegah atau menghindari reaksi orang tua siswa” yang anaknya sakit.

Ia mengaku telah berada di puskesmas sejak 29 Januari saat para siswa mulai ditangani oleh perawat.

Hentikan Sementara Aktivitas SPPG

Merespons kasus ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Adrianus Ojo menyatakan seluruh kegiatan produksi dan distribusi makanan oleh SPPG Nao Kolang dihentikan sementara.

Selama penghentian itu, akan ada observasi internal dari pihak Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk untuk memastikan seluruh protokol keamanan pangan telah dipatuhi.

Kebijakan penutupan sementara, kata Adrianus, diambil karena pemeriksaan sampel makanan tidak dapat dilakukan.

Ia menjelaskan, tidak tersedia sampel makanan di dapur sehingga tim surveilans  hanya mengambil sampel air minum dan muntah.

Adrianus berkata, dinasnya telah melakukan inspeksi kesehatan lingkungan eksternal lokasi dapur MBG. 

Hasil inspeksi mencapai skor 94% yang dikategorikan sangat baik, melampaui  syarat kesehatan lingkungan yang ditetapkan 70%.

“Hal ini menunjukan bahwa secara umum, kondisi sanitasi lingkungan di lokasi dalam kategori baik,” kata Adrianus. 

Sementara pemeriksaan kualitas air, kata dia, menunjukkan negatif terhadap bakteri E. Coli dan Total Koliform. 

“Hal ini mengindikasikan bahwa air bukan merupakan sumber masalah kejadian ini,” katanya. 

Floresa menghubungi Kepala Badan Gizi Nasional Wilayah Manggarai Barat, Damnia Ulfi soal penutupan dan keberadaan sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) SPPG Nao Kolang.

Namun, ia tidak merespons pesan yang dikirim pada 2 Februari.

Bagaimana Kondisi SPPG Nao Kolang?

SPPG Nao Kolang telah beroperasi sejak Desember dan melayani beberapa sekolah di Kecamatan Kuwus dan Kuwus Barat.

Dapur ini berada di bawah naungan Yayasan Bangkit Mulia Mabar. Ketuanya adalah Hironimus Suhardi, Sekretaris DPC Gerindra Manggarai Barat. 

Yayasan Bangkit Mulia Mabar juga mengelola SPPG Macang Tanggar dan SPPG Golo Koe, dua dari empat dapur di Labuan Bajo.

Saat Floresa mendatangi dapur itu, beberapa pekerja sedang merapakian seng.

Tampak beberapa alat pertukangan masih berserakan di depan dapur, sementara beberapa bagian atap bangunan masih bolong dan semen pada lantai terlihat masih basah.

Seorang pekerja sedang memaku dinding sebuah bangunan di depan dapur SPPG Nao Kolang di Kecamatan Kuwus Barat pada 30 Januari 2026. (Dokumentasi Floresa)

Tandon air berukuran 5000 liter tampak di depan pintu masuk dapur. Namun, pipa untuk mengalirkan air dari tandon itu tak terlihat.

Di sebelah barat dapur, Floresa menjumpai tiga orang polisi. Salah satunya adalah Adhar, Kepala Unit Tindak Pidana Tertentu (Kanit Tipiter) Polres Manggarai Barat.

Saat Floresa tiba di tempat itu, Adhar meninggalkan dua rekannya dan masuk ke sebuah ruangan di dapur MBG.

Saat Floresa hendak menyusulnya, Gervatius yang mengaku sebagai koordinator SPPG di Kecamatan Kuwus Barat mengandang.

Saat memberitahunya soal permintaan wawancara, ia berkata baru bisa dilakukan jika mendapat surat izin dari Kepala Satgas MBG Manggarai Barat, Fransiskus Sodo.  

“Maaf, ada  surat izin dari kepala Satgas MBG Kabupaten?” katanya.

“Kalau kalian bawa surat izin dari Kepala Satgas untuk wawancara, kami baru bisa memberi keterangan,” tambahnya.

Floresa menghubungi Fransiskus Hans Sodo – yang juga sebagai Sekretaris Daerah Manggarai Barat, soal surat tersebut. 

Ia hanya berkata, “tidak ada aturan yang mengikat” yang membatasi wawancara itu.

Menambah Deretan Kasus 

Kejadian di Kecamatan Kuwus menambah daftar catatan korban keracunan MBG di NTT. 

Kasus sebelumnya terjadi pada 24 September 2025 di SDI Liliba, Kota Kupang saat 11 siswa dari kelas 5A dan 5D mengaku pusing, perut melilit, mual, panas tinggi dan muntah usai menyantap MBG.

Para siswa sempat dirawat intensif pada 24-25 September di Rumah Sakit Leona Kupang.

Masih pada bulan yang sama, tujuh siswa SMK Negeri 1 Maumere di Kabupaten Sikka juga dilaporkan mengalami gejala keracunan usai menyantap MBG yang didistribusikan oleh Yayasan Makmur Sejahtera.

Sebelumnya, kasus keracunan karena MBG juga terjadi pada 22 Juli yang menimpa 140 siswa SMP Negeri 8 Kupang.

Maria Theresia Lana, kepala sekolah itu mengaku kasus tersebut bermula ketika sejumlah siswa meminta izin ke toilet dan mengeluh sakit perut saat kegiatan belajar mengajar. 

Beberapa siswa, katanya, mengaku tahu dan sayur di menu MBG terasa asam.

Dalam laporan hasil pemeriksaan laboratorium yang diteken pada 25 Juli, Dinas Kesehatan Provinsi NTT menemukan bakteri Strepcoccus Sp dan Staphylococcus dalam menu MBG itu.

Kedua bakteri itu memicu gangguan pencernaan dan infeksi pada tubuh dan menyebabkan gejala keracunan seperti mual, muntah, dan diare.

Lasus keracunan MBG juga terjadi di Pulau Sumba. Kasus pertama terjadi pada 18 Februari. Korbannya adalah 29 siswa di SDK Andaluri, Kabupaten Sumba Timur.

Pada 26 Juli, 77 siswa dari tiga sekolah di Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya juga keracunan usai mengonsumsi ikan menu MBG. 

Sepanjang Januari 2026, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia mencatat 1.242 orang diduga menjadi korban keracunan makan bergizi gratis.

Ditambah dengan tahun lalu, total korban keracunan MBG tahun ini telah mencapai 21.254 orang.

Laporan ini dikerjakan oleh Doroteus Hartono dan Venansius Darung

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img