Komentar Paus Fransiskus yang Dicap ‘Homofobia’ – Apa Kaitannya dengan Polemik Larangan Pria Gay Jadi Imam?

Pernyataan pemimpin tertinggi Gereja Katolik ini menuai protes luas, termasuk di kalangan umat Katolik sendiri

Baca Juga

Floresa.co – Paus Fransiskus – yang pada September mendatang akan bertandang ke Indonesia – memicu polemik pada beberapa hari ini, perihal pernyataannya yang dinilai menghina kaum pria gay.

Lewat juru bicara kepausan, ia pun menyampaikan permintaan maaf pada 28 Mei.

Permintaan maaf itu muncul usai media di Italia pada 25 Mei, yang juga diikuti media di seluruh dunia, mengutip pernyataan uskup di Italia bahwa dalam pertemuan dengan mereka, Paus Fransiskus dengan nada canda menyatakan sudah banyak frociaggine di lembaga pendidikan calon imam.

Istilah dalam bahasa Italia itu yang diterjemahkan sebagai faggotness dalam bahasa Inggris merupakan sebutan kasar untuk kaum homoseksual.

Dia menggunakan istilah tersebut untuk menegaskan kembali larangan Vatikan terhadap pria gay masuk seminari dan ditahbiskan menjadi imam.

Pernyataan paus dianggap menggarisbawahi ajaran resmi gereja tentang homoseksualitas yang bertentangan dengan kenyataan – kendati masih saja tidak diakui – bahwa ada banyak pria gay yang menjadi imam. 

Di samping itu, banyak umat Katolik LGBTQ+ – singkatan dari lesbian, gay, bisexual, transgender, intersex, queer/questioning, asexualyang ingin sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan dan sakramen gereja.

Juru bicara Vatikan, Matteo Bruni dalam pernyataan pada 28 Mei mengakui polemik di media terkait komentar paus.

Ia berkata Paus Fransiskus mengetahui berita tersebut, sembari mengingatkan bahwa paus asal Argentina itu telah menjadikan upaya merangkul umat Katolik LGBTQ+ sebagai ciri khas kepausannya.

Paus, katanya, telah lama menegaskan bahwa ada “ruang untuk semua orang” di dalam Gereja Katolik.

“Paus tidak pernah bermaksud menyinggung atau mengekspresikan dirinya dalam istilah yang homofobia, dan dia menyampaikan permintaan maafnya kepada mereka yang tersinggung dengan penggunaan istilah itu yang disampaikan orang lain,” kata Bruni.

Dalam pernyataannya, Bruni dengan hati-hati menghindari konfirmasi langsung bahwa paus memang menggunakan istilah tersebut, sesuai dtradisi Vatikan yang tidak secara gamblang mengungkapkan apa yang dikatakan paus secara tertutup.

Namun, ia juga tak menampik bahwa paus memang berkata demikian.

Bagi mereka yang telah lama mengadvokasi pentingnya inklusi dan penerimaan yang lebih besar terhadap umat Katolik LGBTQ+, isu ini lebih besar dari sekadar penggunaan sebuah istilah.

“Lebih dari cercaan ofensif yang dilontarkan paus, yang lebih merusak adalah desakan gereja institusional untuk ‘melarang’ pria gay menjadi imam, seolah-olah kita semua tidak mengenal  banyak imam gay yang berbakat, setia dan selibat,” kata Natalia Imperatori-Lee, ketua departemen studi agama di Manhattan College.

“Komunitas LGBTQ+ tampaknya terus-menerus menjadi sasaran ‘kesalahan’ yang dilakukan begitu saja oleh orang-orang di Vatikan, termasuk paus, yang seharusnya memiliki pemahaman yang lebih baik,” tambahnya.

Pernyataan paus disampaikan dalam pidato saat sidang para uskup Italia, yang baru-baru ini menyetujui dokumen baru tentang pembinaan bagi para seminaris.

Dokumen tersebut, yang belum dipublikasikan dan menunggu peninjauan oleh Takhta Suci, dilaporkan berupaya membuka ruang larangan mutlak Vatikan terhadap imam gay.

Larangan Vatikan sebelumnya diartikulasikan dalam dokumen Kongregasi untuk Pendidikan Katolik pada 2005, dan kemudian diulang dalam dokumen berikutnya pada 2016.

Kedua dokumen itu menyatakan bahwa gereja tidak dapat menerima seminaris atau menahbiskan pria yang “melakukan tindak homoseksual, menunjukkan kecenderungan atau dukungan yang kuat terhadap homoseksual, yang disebut sebagai budaya gay.”

Posisi tersebut telah lama dikritik sebagai homofobia dan munafik bagi sebuah institusi yang tentu saja memiliki pria gay di dalam jajaran para imamnya.

Psikoterapis mendiang Richard Sipe, yang pernah menjadi biarawan Benediktin dan mengajar di seminari-seminari di Amerika Serikat, memperkirakan pada awal 2000-an, 30% imam di negara itu berorientasi homoseksual.

Almarhum Pastor Donald Cozzens, seorang rektor seminari, bahkan mengatakan persentasenya lebih tinggi. Dalam bukunya The Changing Face of The Priesthood ia menulis, imamat di Amerika Serikat semakin menjadi profesi gay karena begitu banyak pria heteroseksual yang meninggalkan imamatnya untuk menikah dan berkeluarga.

Apakah Paus Fransiskus dengan komentarnya menunjukkan ia anti dengan kelompok gay, atau yang lebih luas LGBT+?

Bagaimanapun, paus berusia 87 tahun itu juga dikenal karena upayanya menjangkau umat Katolik LGBTQ+, mulai dari komentarnya yang terkenal pada 2013 “Siapakah saya sehingga berhak menghakimi mereka?”

Paus Fransiskus juga telah melayani umat Katolik transgender, mengizinkan para imam untuk memberkati pasangan sesama jenis dan menyerukan diakhirinya undang-undang anti-gay.

Pada 2023 dalam suatu wawancara dengan The Associated Press, ia mengatakan “menjadi homoseksual bukanlah sebuah kejahatan. ”

Namun, ia kadang-kadang menyinggung perasaan kelompok LGBTQ+ dan pendukungnya, termasuk dalam wawancara yang sama saat ia menyiratkan bahwa meskipun homoseksualitas bukanlah kejahatan, namun itu adalah dosa.

Dia kemudian mengklarifikasi bahwa yang dia maksud adalah aktivitas seksual, dan bahwa segala jenis hubungan seks di luar nikah antara seorang pria dan seorang wanita adalah dosa di mata gereja.

Dan yang terbaru, dia menandatangani dokumen Vatikan yang menyatakan bahwa operasi ganti kelamin adalah pelanggaran berat terhadap martabat manusia.

New Ways Ministry, yang mengadvokasi umat Katolik LGBTQ+, menyambut baik permintaan maaf Paus Fransiskus pada 28 Mei dan mengatakan pihaknya menegaskan bahwa “penggunaan hinaan tersebut adalah bahasa sehari-hari yang ceroboh.”

Namun direktur kelompok itu, Francis DeBernardo, mempertanyakan poin yang mendasari pernyataan paus dan larangan menyeluruh terhadap kaum gay dalam imamat.

“Tanpa klarifikasi, kata-katanya akan ditafsirkan sebagai larangan menyeluruh terhadap penerimaan pria gay ke seminari,” kata DeBernardo dalam rilisnya, meminta pernyataan yang lebih jelas tentang pandangan paus tentang imam gay karena “begitu banyak di antara mereka yang dengan setia mengabdi pada umat Allah setiap hari.”

Andrea Rubera, juru bicara Paths of Hope, sebuah asosiasi Kristen LGBTQ+ di Italia, mengatakan dia tidak percaya ketika pertama kali membaca komentar Paus, kemudian sedih ketika tidak ada bantahan dari Vatikan.

Hal ini, kata dia, menunjukkan bahwa paus dan Vatikan masih memiliki “pandangan terbatas” terhadap realitas kelompok LGBTQ+.

“Kami berharap sekali lagi, tiba saatnya untuk melakukan diskusi di gereja menuju pendalaman isu LGBT+, terutama dari pengalaman umat sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Pastor James Martin, SJ, yang dikenal karena pelayanan terhadap kelompok LGBT+ dalam Gereja Katolik menulis di akun Facebooknya pada 28 Mei: “selama 25 tahun sebagai imam dan hampir 40 tahun sebagai Jesuit, saya telah mengenal ratusan imam gay yang suci, setia, dan selibat.”

“Mereka adalah atasan saya, guru saya, bapa pengakuan saya, mentor saya, pembimbing spiritual saya dan teman-teman saya,” katanya.

“Dan jika Anda seorang Katolik, mereka telah merayakan Misa untuk Anda, membaptis anak-anak Anda, mendengarkan pengakuan dosa Anda, mengunjungi Anda di rumah sakit, memimpin upacara pernikahan Anda, dan menguburkan orang tua Anda,” tulisnya.

Ia menambahkan, “Gereja akan menjadi jauh lebih miskin tanpa mereka.”

Editor: Anastasia Ika

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kawan-kawan bisa berdonasi dengan cara klik di sini.

Terkini

spot_img