Nabit dan Ngabut ‘Berpisah’ di Pilkada 2024; Bagaimana Peta Dukungan, Siapa Punya Kans Besar Jadi Pemenang?

Pada pilkada 2020, pasangan dengan sebutan H2N ini meraup suara 60,66%, unggul di 10 dari 12 kecamatan. Apa yang akan terjadi ketika mereka kini memilih jalan masing-masing?

Floresa.co – Bupati dan Wakil Bupati Manggarai, Herybertus Nabit dan Heribertus Ngabut hampir pasti tak lagi berpasangan pada pemilihan kepala daerah [pilkada] 2024. 

Bila hal ini benar-benar terjadi, maka pasangan yang mengusung tagline ‘perubahan’ pada pilkada 2020 ini membuat sejarah baru dalam dinamika politik di Manggarai.

Pendahulu mereka, Christian Rotok dan Kamelus Deno tetap kompak dengan pasangan masing-masing dalam perhelatan pilkada 2010 usai satu periode [2005-2020] memimpin wilayah di Flores barat tersebut.

Deno juga tetap menggaet Victor Madur pada pilkada 2020 setelah menang pada pilkada 2015.

Hal berbeda ditunjukan Nabit dan Ngabut yang saat pilkada 2020 dikenal dengan sebutan H2N.

Mereka kini berjalan sendiri-sendiri mencari pendamping sekaligus kendaraan politik untuk berlaga pada pilkada November mendatang.

Perpisahan keduanya mencuat ke publik ketika pada Maret 2024 Ngabut menyatakan secara terbuka niat maju sebagai bakal calon bupati.

Tekadnya dipertegas lagi saat melakukan pendekatan ke partai politik.

Soal alasan tak lagi bersama, dalam beberapa kesempatan Ngabut blak-blakan menyampaikan ketidakharmonisan relasi dengan Nabit. 

Salah satunya karena merasa tak diberi peran sebagai wakil bupati.

“Jabatan wakil bupati itu seakan menjadi jabatan inkonstitusional, dia hanya sebagai mandatoris, atributifnya tidak kelihatan. Jadi tunggu dipakai sama bupati baru bisa. Selama ini saya alami seperti itu,” katanya.

Pernyataan itu seakan mengafirmasi klaim Nabit yang pada masa kampanye Pilkada 2015 pernah melontarkan pernyataan kontroversial soal peran wakil bupati.

Jabatan wakil bupati, katanya, ibarat “ban serep,” yang “kalau perlu dipakai, kalau tidak perlu tidak dipakai.”

Kans Dukungan Partai, Siapa Unggul?

Pada pilkada 2020, H2N diusung oleh PDI-Perjuangan, Golkar, PKB, Gerindra, Hanura dan PKS. 

Konfigurasi dukungan partai-partai ini tentu akan berubah pada pilkada 2024, seiring dengan dinamika politik terkini.

Nabit dan Ngabut kini sama-sama berjuang mendapat dukungan partai-partai tersebut, termasuk PAN, Nasdem dan Demokrat yang pada pilkada 2020 mendukung pasangan Deno-Madur.

Keduanya memang sama-sama kader partai politik besar di Indonesia. 

Nabit saat ini menjabat Wakil Ketua Bidang Kehormatan DPC PDI-Perjuangan Kabupaten Manggarai. 

Sementara Ngabut adalah mantan Pegawai Negeri Sipil yang bergabung dengan Partai Golkar sejak pilkada 2020.

Saat ini, Ngabut juga menjabat sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu [Bapilu] DPD Golkar Manggarai.

Meski sama-sama kader partai, tetapi kans untuk mendapatkan dukungan partai tempat keduanya bernaung tampaknya akan lebih berpihak ke Nabit.

PDI-Perjuangan sudah resmi merekomendasikan mantan salah satu direktur Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores itu.

Partainya mengumumkan nama Nabit bersama 61 calon kepala daerah lainnya pada 1 Juni 2024, bertepatan dengan upacara Hari Lahir Pancasila di Ende. 

Namun, dukungan PDI-Perjuangan belum cukup untuk Nabit. Kursi partai itu di DPRD Manggarai hasil pileg 2024 hanya lima.

Ia harus berkoalisi dengan minimal satu partai lagi untuk bisa menggenapi jumlah 20% kursi legislatif, syarat untuk mengusung satu pasangan calon.

Di sisi lain, kendati Ngabut menjabat Ketua Bapilu Golkar, partai yang dipimpin Airlangga Hartarto itu belum memberikan rekomendasi kepadanya. 

Di tubuh Golkar, yang memperoleh empat kursi DPRD Manggarai pada pileg 2024, masih ada nama Yoakim Jehati yang juga didorong untuk maju.

Yoakim sudah menjadi anggota DPRD Manggarai periode 2014-2019 dan terpilih lagi pada periode 2019-2024 dan 2024-2029.

Pria asal Cibal itu saat ini juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah [DPD] Golkar Manggarai.

Peluang Golkar mengusung kadernya sendiri sempat disinggung Simprosa Rianasari Gandut atau Ossy Gandut, mantan anggota DPRD Manggarai beberapa periode yang pada Pileg 2024 terpilih sebagai anggota DPRD NTT.

“Intinya Golkar tetap menjalankan sistem survei dan figur yang didorong dari Golkar hanya Yoakim Jehati. Kalau terkait siapa-siapa figur yang disurvei silahkan tanya sendiri ke sekretariat,” katanya.

Syarat wajib mundur bagi anggota dewan yang hendak ikut pilkada, bisa jadi alasan yang memicu Yoakim akan tetap berpikir dua kali.

Kans Ngabut untuk diusung Golkar juga kian berat, karena partai berlambang beringin itu juga memasukan nama Nabit sebagai salah satu bakal calon yang akan disurvei secara internal untuk mengukur elektabilitas.

Kepada Floresa, Yoakim mengatakan Nabit dan Ngabut sudah menyatakan kesediaan untuk mengikuti survei. 

Ia juga berkata, ada kandidat lain dari internal Golkar yang akan disurvei, meski tak menyebut nama, yang kemungkinan merujuk ke dirinya sendiri.

Ngabut juga harus bersaing ketat dengan bakal calon lainnya untuk mendapatkan tiket dari Nasdem, PAN, PKB, Demokrat, Perindo dan Hanura. 

Ia sudah mendaftarkan diri di partai-partai tersebut. Namun, Nabit juga sudah mendaftar di Nasdem, PAN dan PKB.

Bersaing dengan Kandidat Lain

Seperti pemberitaan berbagai media, selain Nabit dan Ngabut, beberapa nama lain juga sudah mendaftarkan diri di berbagai partai politik untuk mendapatkan tiket pencalonan pada Pilkada Manggarai 2024.

Mereka adalah pasangan Viktor Slamet dan Frans Ramli – yang kini dikabarkan sudah pecah kongsi – , Thomas Dohu, Ronald Susilo, Ben Isidorus, Eber Ganggut, Marta Muslin Tulis dan Flory Santosa Nggagur.

Partai Gerindra satu-satunya yang tak membuka pendaftaran bakal calon bupati dan wakil bupati, sebagaimana klaim dari Adrianus Sehadun, Ketua DPC Gerindra Manggarai.

“Kami sedang berproses dan akan mengusung kader sendiri di Pilkada 2024,” ujar Adrianus Sehadun, Ketua DPC Gerindra Manggarai, dikutip dari video yang diperoleh Floresa.

Partai besutan Prabowo Subianto itu mengklaim mengutamakan kader sendiri yaitu Yohanes Halut. Ia adalah anggota DPRD NTT periode 2019-2024 yang tak maju lagi pada Pileg 2024 karena disebut hendak fokus mempersiapkan diri maju calon bupati.

Pemetaan Basis Massa Pendukung

Pada pilkada 2020, pasangan H2N meraup 103.872 suara sah. Jumlah itu setara dengan 60,66 persen dari total 171.226 suara sah. 

Pasangan ini unggul di 10 kecamatan yaitu Kecamatan Ruteng, Kecamatan Satar Mese Barat, Kecamatan Satar Mese, Kecamatan Reok Barat, Kecamatan Rahong Utara, Kecamatan Lelak, Kecamatan Satar Mese Utara, Kecamatan Langke Rembong, Kecamatan Wae Ri’i, dan  Kecamatan Reok. 

Sementara pesaing mereka satu-satunya Deno-Madur hanya menang di dua kecamatan, Cibal Barat dan Cibal.

Pada pilkada 2015, Nabit, ketika berpasangan Adolfus Gabur, unggul di Kecamatan Langke Rembong, Kecamatan Lelak, Kecamatan Satar Mese dan Kecamatan Satar Mese Barat. Saat itu, belum ada Kecamatan Satar Mese Utara.

Perolehan suara pasangan Nabit dan Gabur ketika itu mencapai 71.820 [49,37%], terpaut hanya 1.846 suara dengan pemenang, pasangan Deno-Madur.

Dari hasil pilkada 2015 dan 2020, Nabit bisa dikatakan memiliki basis massa loyal di Langke Rembong dan Satar Mese Raya, wilayah yang mencakup tiga kecamatan di wilayah Manggarai bagian selatan – Satar Mese, Satar Mese Barat dan Satar Mese Utara.

Hal ini tidak terlepas dari asal usul Nabit. Ia memang lahir di Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, namun ayah dan kakeknya berasal dari Todo, Satar Mese Barat.

Tiga kecamatan di Satar Mese Raya merupakan wilayah dengan kontribusi sekitar 22 persen pemilih di Manggarai, berdasarkan Daftar Pemilih Tetap pemilu 2024. 

Ngabut berasal dari Langke, wilayah Rahong, yang masuk Kecamatan Rahong Utara, pemekaran dari Kecamatan Ruteng. 

Wilayah Rahong, yang mencakup dua kecamatan itu merupakan penyumbang sekitar 21 persen pemilih di Manggarai.

Bila asal usul linear dengan perolehan suara, maka baik Nabit maupun Ngabut memiliki basis suara yang seimbang, kendati tentu saja di bilik suara, preferensi pemilih ditentukan oleh beragam faktor, tak hanya aspek primordial.

Dukungan pemilih Nabit di wilayah Satar Mese Raya juga bisa tergerus bila Viktor Slamet berhasil meraih tiket menjadi calon.  Mantan PNS Kementerian Pertanian yang kini menjadi pengusaha itu, lahir di Lawir, Kecamatan Langke Rembong, namun ayahnya berasal dari Satar Mese Utara.

Dukungan terhadap Hery dari wilayah Kecamatan Satar Mese juga berpotensi tergerus karena isu proyek panas bumi Poco Leok. 

Warga Poco Leok yang menolak proyek perluasan Ulumbu itu pernah menghadang Nabit yang melakukan sosialisasi proyek tersebut.

Suara Ngabut di wilayah Rahong juga bisa tergerus bila Eber Ganggut mendapatkan tiket.

Politisi PAN ini merupakan mantan anggota DPRD Manggarai beberapa periode itu berasal dari Kecamatan Rahong Utara. 

Pada Pileg 2024, Eber tak lagi maju karena memilih fokus menyiapkan diri berlaga pada pilkada.

Pilihan Wakil juga Penentu Kemenangan

Baik Nabit maupun Ngabut hingga saat ini masih ancar-ancar mencari pendamping.

Bila tiket Golkar diberikan kepada Nabit, kemungkinan ia akan menggaet Ketua DPD Golkar Manggarai, Yoakim Jehati sebagai calon wakilnya. 

Bila koalisi ini terjadi, tidak hanya memenuhi syarat pencalonan 20% jumlah kursi DPRD, tetapi juga memperkuat dukungan suara Nabit dari wilayah utara Manggarai.

Yoakim merupakan anggota DPRD Manggarai sejak 2014 dari daerah pemilihan Cibal, Cibal Barat, Reok dan Reok Barat, empat kecamatan di wilayah utara.

Cibal dan Cibal Barat, daerah asal Yoakim, merupakan penyumbang sekitar 14 persen jumlah pemilih di Manggarai. 

Nabit juga memiliki ikatan kekeluargaan dengan Cibal. Ayahnya, Daniel Nabit, lahir di Pagal, ibu kota Kecamatan Cibal.

Selain Yoakim, nama lain yang juga diisukan menjadi wakil Nabit adalah Flory Santosa Nggagur, Tomas Dohu, Hilarius Jonta.

Flory berasal dari Ruteng Pu’u. Mantan bankir ini bisa memperkuat basis dukungan Nabit di wilayah Kecamatan Langke Rembong.

Thomas Dohu, mantan Ketua KPU NTT yang berasal dari Cibal juga dapat memperkuat basis dukungan Nabit di wilayah Cibal dan Cibal Barat.

Sementara Hilarius Jonta, mantan PNS di Manggarai yang berasal dari Dimpong, Rahong Utara, dapat memperkuat dukungan terhadap Nabit dari wilayah Rahong, sekaligus menggerus dukungan terhadap Ngabut.

Di sisi lain, Ngabut diisukan akan menggandeng Ronald Susilo atau Karolus Mance.

Ronald, seorang dokter yang juga pemilik Apotek Wae Laku, merupakan anak muda yang selama ini aktif dalam berbagai kegiatan sosial terkait penyandang gangguan jiwa dan gerakan literasi.

Ronald diisukan memiliki kedekatan dengan salah satu petinggi Demokrat asal NTT, yang bisa membuka jalur komunikasi politik dengan partai itu.

Sementara Karolus Mance merupakan birokrat aktif, Kepala Tata Pemerintahan di Sekretariat Daerah Manggarai, yang diklaim berperan dalam menyelesaikan sejumlah konflik agraria di Manggarai.

Ia sudah menyatakan siap jika dipinang Ngabut.

Pria asal Cibal yang juga mantan Camat Cibal Barat itu bisa memperkuat dukungan terhadap Ngabut di wilayah Cibal, sekaligus menggerus dukungan terhadap Yoakim, bila politisi Golkar itu benar-benar maju.

Sebagai birokrat, catatannya tentu saja ia tidak memiliki dukungan partai politik, hal penting yang dibutuhkan Ngabut.

Sementara Ronal mengaku memang menjalin komunikasi dengan Ngabut, tapi belum final.

Nama lain yang juga diisukan menjadi pendamping Ngabut adalah Yohanes Halut. 

Namun, tidak mudah bagi Ngabut menggaetnya. Sebagai partai berkuasa di Indonesia periode 2024-2029, Gerindra kemungkinan mengincar posisi bupati. 

Laporan ditulis kontributor Berto Davids bersama Petrus Dabu

Editor: Ryan Dagur

spot_imgspot_img

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kamu bisa memberi kami kontribusi, dengan klik di sini.

Baca Juga Artikel Lainnya