Floresa.co – Ukut Tawa, sebuah kolektif seni di Kabupaten Lembata, menggelar kegiatan nonton film bersama pada 28 Desember.
Berlangsung di markas Ukut Tawa di Ile Ape, kegiatan ini merupakan bagian dari program Layar Warga, sebuah platform pemutaran film yang melibatkan kelompok masyarakat umum.
Bartes Homa, Ketua Komunitas Ukut Tawa, berkata, Layar Warga merupakan ruang diskusi bersama warga, dengan film sebagai medium pemantik percakapan.
Program ini telah berjalan sejak 2024 dan dilaksanakan di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Ile Ape, Lebatukan dan Nubatukan.
Pada 28 Desember, Layar Warga menayangkan dua film produksi Anatman Pictures, yakni “Mother of Sea” dan “Terpejam untuk Melihat.”
Anatman Pictures merupakan rumah produksi film independen berbasis di Jakarta yang dikenal lewat karya-karya dokumenter tentang isu lingkungan, sosial dan budaya.
Agnesia Monika, salah satu anggota Ukut Tawa yang tengah menjalani program magang di Anatman Pictures menjadi penata musik dan sound engineer.
Ia menjelaskan bahwa pemilihan dua film tersebut bukan semata untuk mempelajari gaya penceritaan dalam film dokumenter, tetapi juga karena isu yang diangkat memiliki keterkaitan langsung dengan realitas warga.
“Keduanya menghadirkan isu yang beririsan dengan pengalaman warga, sekaligus membuka ruang diskusi tentang ketimpangan, resistensi dan pilihan-pilihan hidup sehari-hari,” kata Agnesia.
“Mother of the Sea” merupakan film dokumenter pendek karya sutradara Clarissa Ruth Natan yang merekam perjuangan Siti Darwati, seorang perempuan nelayan di Demak, Jawa Tengah.
Film ini menggunakan pendekatan observasional, mengikuti keseharian subjek di laut dan di ruang domestik untuk memperlihatkan beban kerja ganda yang ditanggung perempuan nelayan dan minimnya pengakuan negara terhadap mereka.
Dalam treatment film yang diterima Floresa, Clarissa menuliskan kegelisahannya terhadap representasi nelayan yang hampir selalu dilekatkan pada laki-laki.
Nelayan digambarkan sebagai pekerjaan maskulin, keras dan berbahaya, sementara peran perempuan kerap diabaikan.
Perempuan dalam keluarga nelayan, tulisnya, bekerja aktif dan menghadapi risiko yang sama, namun sering hanya diposisikan sebagai “pembantu,” bukan nelayan.
Akibatnya, pengakuan dan perlindungan negara bagi perempuan nelayan menjadi proses yang panjang dan berliku.
Film ini, menurut Clarissa, bertujuan menjadi ingatan kolektif atas kerja dan perjuangan perempuan nelayan yang selama ini tidak terlihat.
Sementara itu, “Terpejam untuk Melihat” yang disutradarai oleh Mahatma Putra mengambil pendekatan reflektif dan esaistik.
Film ini memadukan narasi puitik, wawancara dan pengamatan terhadap beragam subjek, mulai dari jurnalis, aktivis lingkungan, tokoh agama, hingga warga akar rumput untuk memandang politik secara lebih luas.
Berdasarkan dokumen konsep film yang diterima Floresa, “Terpejam untuk Melihat” berangkat dari gagasan tentang interkoneksi, bahwa manusia, alam dan sistem sosial saling terhubung.
Pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari dipandang sebagai tindakan politis yang memiliki dampak, meski sering tidak disadari.
Film ini, menurut sutradaranya, tidak dimaksudkan untuk “menawarkan sikap politik tertentu, melainkan membuka ruang refleksi tentang kesadaran, tanggung jawab dan relasi manusia dengan lingkungannya.”
Melawan dan Bertahan
Setelah pemutaran film, Layar Warga diisi dengan diskusi.
Warga yang hadir dipersilakan menyampaikan tanggapan secara bebas tentang kedua film itu.
Mengomentari “Mother of the Sea,” Enya Wahon-salah satu warga-menyebut pengalaman nelayan perempuan itu dekat dengan pengalaman hidup sehari-hari, terutama soal kerja yang terus dilakukan tanpa pengakuan.
“Dia melawan dengan caranya sendiri, tapi juga bertahan karena tidak punya pilihan lain,” katanya.
Pada film “Terpejam untuk Melihat,” Enya merasa bahwa ada perspektif baru.
Dengan sajian yang reflektif, “kita dibuat sadar, bahwa bicara politik itu juga tentang kehidupan sehari-hari.”
“Politik itu juga cara kita bertahan sebagai manusia,” katanya.
Vera Making, peserta lainnya melihat kedua film itu sebagai potret perlawanan yang tidak selalu tampil dalam bentuk konfrontasi.
“Bertahan hidup di situasi yang tidak adil itu juga bentuk melawan,” ujarnya.
Ia melihat bahwa tema melawan dan bertahan hadir dalam beragam bentuk.
“Bagi sebagian warga, melawan berarti bersuara. Bagi yang lain, bertahan dengan nilai dan kesadaran juga merupakan sikap politik,” katanya.
Bartes Homa melihat Layar Warga “menjadi ruang dimana pengalaman-pengalaman diceritakan, tanpa harus disimpulkan secara tunggal.”
Melalui dua film dengan pendekatan yang berbeda, kata dia, Layar Warga memosisikan film sebagai medium dialog.
“Film bukan hanya ditonton, tetapi untuk didiskusikan bersama, dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan warga,” katanya.
Editor: Ryan Dagur





