Marah Terhadap Tambang Sebagai “Good Temper”

Salah satu lokasi tambang di Sirise, Kabupaten Manggarai Timur.
Salah satu lokasi tambang di Sirise, Kabupaten Manggarai Timur.

Oleh: Filmon Nanga Sede, pemuda asal Manggarai, Mahasiswa Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta.

Beberapa tahun terakhir, masalah ambang menjadi salah satu topik perbincangan yang hangat di tengah-tengah masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).

Banyak kalangan menyatakan protes keras, mengumbar kemarahan, memaksa pemerintah yang dianggap bagian dari monster tambang untuk turun dari jabatan.

Itulah yang juga ditunjukkan oleh massa di sejumlah tempat di Manggarai Raya pada demo tolak tambang 7 Oktober 2014 lalu. Mereka, antara lain para pastor, aktivis, mahasiwa dan elemen lain berorasi menyatakan penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang pro tambang.

Ada banyak cerita tentang warga lain di republik ini yang dengan berani mengambil sikap marah terhadap kinerja pemerintah yang tidak becus.

Terhadap sikap marah demikian, ada pertanyaan penting yang selalu muncul: pantaskah kita marahan terhadap pemerintah yang pro tambang?

Sebagian orang menjawab pertanyaan itu demikian: menghadapi birokrasi yang bobrok dan mental pemerintah yang tidak profesional, masyarakat harus bisa protes, tegas dan keras.

Tetapi ada juga yang berpendapat, mengumbar kemarahan adalah hal yang tidak perlu dilakukan. Kebobrokan itu harus diselesaikan secara baik-baik, tidak perlu dengan konfrontasi.

Dalam buku keempat, bab kelima karya Nicomachean (2011), Aristoteles mendefenisikan sifat marah yang positif, yang ia sebut marah secara tepat. Ia mengatakan, sifat marah ini merupakan bagian dari watak yang baik (good temper).

Ia juga menyebut dua sifat marah yang tidak tepat, yang  harus dihindari yaitu sifat marah yang tidak jelas (irascibility) dan tidak marah padahal seharusnya marah (inirascibility).

Orang yang mempunyai  sifat marah yang tidak tepat ini, kata dia, adalah orang yang tidak pantas dijadikan sahabat.

Aristoteles banyak mengkritik orang yang tidak marah ketika harus marah. Orang seperti itu adalah orang yang selalu ingin tampil menawan, wibawa dan tidak marah hanya karena ingin disenangi.

Contoh dalam kalangan masyarakat kita orang seperti ini adalah anggota DPR yang hanya diam ketika seharusnya menjadi wakil dari suara protes rakyat.

Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang tidak memiliki good temper dan sebenarnya tidak pantas untuk menjadi wakil rakyat.

Masyarakat NTT memang pantas untuk marah terhadap tambang.

Aristoteles mendefenisikan sifat marah secara tepat ketika marah itu ditujukan kepada orang yang tepat dan pada kejadian yang tepat.

Pemerintah adalah orang yang pantas kita marah, karena menjadi bagian dari monster tambang.

Alih-alih membawa kesejahteraan, dari pengalaman warga di lingkar tambang, tambang justeru merusak dan membawa konflik.

Masyarakat sudah seharusnya marah manghadapi praktik birokrasi yang tidak menjunjung tinggi prinsip mewujudkan kesejahteraan bersama. Lebih baik kita tidak disenangi daripada menolerir kejahatan dan kebobrokan pemerintah.

Kemarahan terhadap berbagai bentuk kebobrokan, ketidakadilan adalah bagian dari apa yang disebut keberanian moral. Keberanian moral merujuk pada sikap berani dalam bertindak sesuai prinsip-prinsip moral dan kesediaan menanggung resiko yang ditimbulkannya (Rushworth M Kidder, Moral Courage:2006).

Berani marah dan protes terhadap kinerja pemerintah yang tidak becus adalah bukti kita punya keberanian moral.

Lantas, kalaupun kita dimusuhi karena keberanian moral itu, tetaplah berpegang pada prinsib, bahwa yang hendak kita perjuangkan adalah nasib masyarakata secara umum.

Good temper adalah solusi terbaik menghadapi berbagai bentuk ketidakbecusan.

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kamu bisa memberi kami kontribusi, dengan klik di bawah ini.

Baca Juga Artikel Lainnya

Virus ASF Kembali Serang Babi di Manggarai Barat, Warga yang Rugi Hingga Ratusan Juta Berharap Pemerintah Tak Sekadar Beri Imbauan

Selama beberapa tahun terakhir, virus ini terus muncul dan tidak ada upaya penanganan yang signifikan 

Polisi Sudah Tangkap Frater Tersangka Kasus Pelecehan Seksual, Sedang Dibawa ke Ngada, Flores

Floresa.co - Polisi mengonfirmasi sudah menangkap frater tersangka kasus pelecehan seksual di seminari di Flores yang sebelumnya jadi buronan. Frater Engelbertus Lowa Soda, kata Iptu Sukandar, Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Ngada ditangkap pada 29 Februari...

Pemerintah Manggarai Barat Salurkan Bantuan untuk Cegah Stunting dan Dukung Tumbuh Kembang Anak

Kabupaten itu mencatat tren penurunan angka stunting pada tiga tahun terakhir

Mereka Hanya Bicara Dampak Perubahan Iklim, Bukan Dampak Proyek Geotermal Poco Leok; Bantahan Warga terhadap Klaim PT PLN Telah Sosialisasi FPIC

PT PLN melakukan sosialisasi pada 27 Februari di Kampung Lengkong, bagian dari rangkaian upaya mengegolkan proyek geotermal perluasan PLTP Ulumbu, salah satu dari Proyek Strategis Nasional di Flores