Lapen yang Baru ‘Seumur Jagung’ di Lamba Leda Selatan, Manggarai Timur Rusak, Warga Menanti Realisasi Janji Kontraktor Lakukan Perbaikan

Warga menyebut pengerjaan lapen itu terburu-buru dan asal jadi

Baca Juga

Floresa.co – Warga sebuah desa di Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur masih menunggu realisasi janji kontraktor memperbaiki lapisan penetrasi atau lapen yang rusak kendati baru dikerjakan.

Warga Desa Leong di Kecamatan Lamba Leda Selatan itu menyebut kontraktor yang mengerjakan proyek pada ruas jalan Wae Lekem-Nteweng di Dusun Nteweng sudah berjanji memperbaiki bagian jalan yang rusak, namun tak kunjung menepatinya.

Rikardus Oki, seorang warga yang berbicara kepada Floresa pada 19 Mei berkata, proyek dengan anggaran Rp277.489.010 bersumber dari dana desa tahun anggaran 2023 dikerjakan pada awal Oktober, tetapi “pada akhir bulan tersebut, jalan itu mulai rusak.”

Proyek peningkatan jalan di Dusun Nteweng menelan anggaran lebih dari Rp200 juta dengan jangka waktu 53 hari kalender kerja. (Dokumentasi Rikardus Oki)

Ia mengirimkan empat buah foto kepada Floresa yang menampilkan kondisi terkini jalan itu, di mana aspalnya mulai berlubang dan terkikis.

Rikardus berkata, proyek itu dikerjakan kontraktor dan warga lokal, namun  terkesan “asal jadi” karena aspalnya terlalu tipis.

Sejak awal, katanya, ia meragukan kualitasnya karena “orang-orang yang mengerjakan jalan itu tidak punya pengalaman di bidang tersebut [pengaspalan].”

Rikardus berkata, kerusakan jalan itu sempat ramai dibicarakan pada akhir Oktober di sebuah grup WhatsApp “Keluarga Besar Nteweng,” beranggotakan warga Dusun Nteweng.

Seorang warga di grup itu mengirimkan foto kondisi aspal berlubang dan terkikis, dengan tulisan “semoga ada masa pemeliharaan agar segera diperbaiki.”

Rikardus berkata, pesan itu direspons beberapa anggota grup yang kemudian menuntut kontraktor memperbaikinya.

Beberapa hari kemudian, kata dia, Badan Permusyawaratan Desa [BPD] meninjau lokasi tersebut.

Namun, katanya, aksi BPD itu tidak ada hasilnya.

Merespons desakan berulang dari warga, menurut Rikardus, pada 6 Februari, Kepala Desa Leong, Gaspar Mbolong Nagang menemui kontraktor proyek itu, CV Piang Jaya yang berbasis di Kampung Rejo juga bagian dari Desa Leong, dan memintanya segera memperbaiki jalan itu.

Hardianus Pi, pemilik CV Piang Jaya, kata Rikardus, berbicara lewat sebuah video yang dikirimkan Gaspar ke grup WhatsApp “Forum Peduli Desa Leong,” berjanji akan melakukan perbaikan.

“Selaku mitra, saya siap kerja ulang [titik-titik] yang rusak. Saya mau kerja sekarang, masalah cuaca tidak mendukung, cuaca tidak bersahabat. Bukannya saya selaku mitra tidak bertanggung jawab. Saya tetap bertanggung jawab untuk bekerja [memperbaiki] yang rusak,” kata Hardianus dalam video itu.

Namun sampai saat ini Hadrianus belum menepati janjinya, kendati “cuaca semakin baik dan bersahabat.”

Rikardus mengaku warga sudah beberapa kali mengingatkan pemerintah desa dan kontraktor segera memenuhi janji, tetapi “tidak ada respons sama sekali.”

Karena itu, kata dia, “saya menghubungi media agar pembangunan infrastruktur yang begitu buruk di Desa Leong bisa diketahui publik.”

Pemerintah desa dan kontraktor harus bertanggung jawab mengerjakan ulang atau memperbaiki beberapa titik yang rusak parah, kata Rikardus.

“Jika tidak dikerjakan ulang atau diperbaiki, kami berharap Pemerintah Manggarai Timur segera menyelidiki proyek asal-asalan itu.”

Ia juga berharap pemberitaan mendorong mereka “segera melakukan perbaikan” karena “warga belum puas menikmati jalan tersebut yang usianya boleh dikatakan baru seumur jagung.”

“Jika cara ini juga tidak memberikan efek, maka kami berharap pihak yang berwajib segera memeriksa kepala desa dan kontraktor agar dapat memberikan efek jera terhadap pembangunan selanjutnya,” katanya.

Rikardus mengatakan perbaikan jalan itu merupakan hal yang urgen karena berkaitan dengan mobilitas dan akses transportasi warga. 

Warga di desanya mayoritas petani dengan hasil panen kopi, kemiri, kakao dan cengkih yang biasanya dijual ke Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. 

Jika hendak ke Ruteng yang jaraknya sekitar 40 kilometer, katanya, warga biasanya menumpang travel dengan ongkos pergi-pulang berkisar Rp100 sampai Rp120 ribu.

“Sebelum pengaspalan, mobil taksi tidak bisa masuk ke kampung. Setelah jalannya diaspal, ada beberapa taksi yang sempat datang jemput penumpang,” katanya.

Namun, sekarang, kata Rikardus, “sudah tidak ada yang bisa masuk lantaran ada beberapa deker yang rusak parah.”

Sementara itu, Ketua BPD, Hyronimus Gaspar berkata akan terus menuntut janji pemerintah desa dan kontraktor untuk memperbaiki titik-titik yang rusak itu.

Ia mengklaim kualitas pengerjaan jalan itu sebenarnya bagus. Titik-titik  yang rusak, katanya, “murni karena luapan air dari drainase akibat hujan sekitar satu bulan setelah pengerjaan.”

Jalan itu, kata BPD,  akan diperbaiki bersamaan dengan pengerjaan lapen menuju Puskesmas Bea Muring oleh kontraktor yang sama.

Hyronimus berkata, “kami sudah menetapkan anggaran pengerjaan lapen menuju Puskesmas Bea Muring dan pelaksanaanya biasanya pada bulan Juli ke atas.”

Anggota BPD lainnnya, Petrus Mbeng menambahkan, “kalau dana desa cepat cair, otomatis pengerjaan lapen juga cepat,” memperkirakan pencairan pada Juni-September.

Ia ikut mendukung aspirasi warga yang “punya hak untuk menuntut kontraktor memenuhi janjinya.”

Sesuai regulasi, kata dia, BPD memang mempunyai fungsi kontrol dan pengawasan, tetapi “kami punya keterbatasan dalam hal mengontrol dan mengawasi pengerjaan lapen.”

Warga menduga jalan ini cepat rusak karena dikerjakan terburu-buru.(Dokumentasi Rikardus Oki)

Petrus mengklaim selama pengerjaan proyek itu, BPD selalu ada di lapangan, “cuma mungkin kelemahan kami adalah kurang tahu teknis pengerjaan lapen sehingga mutunya tidak baik.”

Ia mengklaim kontraktor merekrut tenaga kerja yang berpengalaman dalam mengerjakan proyek itu dan “tidak benar kalau pengerjaannya terkesan buru-buru.”

Floresa meminta tanggapan kontraktor Hardianus melalui WhatsApp pada 19 Mei. Pesan itu direspons oleh anaknya yang kemudian mengarahkan Floresa meminta kontak Hardianus kepada Gaspar.

Pada hari yang sama, Floresa menghubungi Gaspar melalui WhatsApp. Namun, pesan yang dikirim ke ponselnya bercentang satu, tanda belum sampai kepadanya.

Herry Kabut dan Mikael Jonaldi berkolaborasi mengerjakan laporan ini.

Editor: Ryan Dagur

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kawan-kawan bisa berdonasi dengan cara klik di sini.

Terkini

spot_img