Guru Besar dan Peran untuk Publik

Catatan menyambut jabatan guru besar Uskup Maksimus Regus dan Pater Otto Gusti Madung

Oleh: Ryan Dagur

Bulan ini, muncul kabar soal penyematan jabatan guru besar untuk dua akademisi yang populer di Flores: Profesor Maksimus Regus dan Profesor Otto Gusti Madung.

Selain sebagai akademisi, keduanya juga sama-sama sebagai tokoh dalam institusi Gereja Katolik.

Sama-sama lulusan kampus di Eropa, keduanya kerap menjadi dosen tamu atau menjadi narasumber diskusi di berbagai tempat, membuat mereka juga cukup dikenal di kalangan masyarakat Indonesia secara umum.

Profesor Maks adalah Uskup Labuan Bajo di ujung barat Pulau Flores. Ia juga mantan Rektor Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng di Kabupaten Manggarai.

Maks merupakan rektor kedua kampus yang bernaung di bawah Keuskupan Ruteng itu usai naik level menjadi universitas pada 2019 dari sebelumnya sekolah tinggi.

Profesor Otto adalah imam Katolik dari Serikat Sabda Allah atau SVD. Setelah bertahun-tahun menjadi dosen, sejak 2018 ia menjadi Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (SFTK) Ledalero. 

Kampus itu bertransformasi menjadi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) pada 2022 dengan penambahan beberapa fakultas baru. Otto tetap dipercaya memimpinnya.

Saat mendengar kabar keduanya menjadi guru besar, reaksi spontan saya adalah “sudah selayaknya.”

Reaksi itu bukan terutama karena pengakuan atas pencapaian akademik mereka. Jika dideretkan, berbagai publikasi akademik keduanya dalam bentuk buku atau artikel jurnal maupun di media massa tentu saja sangat panjang.

Alasan reaksi itu adalah pada pengakuan atas kontribusi mereka bagi publik, mengingat salah satu tanggung jawab profesor, juga akademisi secara umum, adalah menyebarluaskan gagasan untuk mencerahkan masyarakat.

Kendati tidak selalu, saya cukup banyak mengikuti perjalanan akademik dan keterlibatan publik mereka.

Saya mulai dengan Profesor Maks.

Saya terhubung dengan karya intelektualnya saat di sekolah menengah membaca buku berjudul Republik Sialan (2003). Buku itu berisi kumpulan tulisannya selama mahasiswa STFK Ledalero yang dimuat di berbagai media massa.

Sebagai pelajar SMA pada awal 2000-an, buku itu salah satu rujukan saya untuk membaca secara kritis masalah-masalah lokal di Flores dan NTT serta beberapa isu nasional yang penting.

Pilihan kata-kata Maks dalam buku itu lugas, dengan frasa-frasa unik yang menjadi kekhasannya, cukup membekas.

Kesan itu kemudian membuat selama mahasiswa saya terus mengikuti publikasi-publikasi lainnya, termasuk membaca artikel-artikelnya di media massa nasional seperti Kompas dan Media Indonesia.

Saya juga membaca bukunya tentang Diskursus Politik Lokal: Kajian Teoritik Kritis (2015) dan Tambang dan Resistensi Lokal di Manggarai Flores: Narasi Pembangunan Tripolar Asimetris (2018).

Langkah mengikuti publikasinya juga berlanjut saat ia menempuh studi lanjut di Jakarta dan kemudian Belanda.

Dari bacaan terhadap karya-karya Maks, memang ada kesan terjadinya perubahan dalam caranya menulis, terutama kecenderungan untuk tidak lagi straight to the point, terkesan terlampau hati-hati dan menulis tema-tema yang cukup abstrak dan filosofis.

Saya menduga perubahan itu terjadi karena lingkungannya yang juga sudah berubah: berada di dalam lembaga, seperti kampus Katolik, yang (mungkin) membatasinya untuk menulis bebas dan berani, tidak lagi seperti sebelumnya. 

Kesan demikian juga berdampak pada keraguan saya pada keberpihakannya pada masalah-masalah sosial. Keraguan itu juga muncul ketika ia ditunjuk menjadi uskup. Saya khawatir bahwa ia makin tidak berani berbicara terus terang tentang masalah sosial.

Namun, rupanya ia melakukan sebaliknya. Saya mengikuti Surat Gembala-nya sebagai uskup, setidaknya saat Paskah dan Natal tahun lalu

Dalam kedua surat itu, ia berbicara secara tegas soal masalah sosial yang dihadapi umatnya, dengan menyoroti keprihatinannya pada persoalan tata kelola pariwisata Labuan Bajo dan proyek geotermal, hal yang tidak biasa bagi uskup lain di Flores yang Surat Gembalanya jarang menyinggung soal konkret.

Ia juga menyatakan keprihatinan tentang monopoli pebisnis besar dalam pariwisata Labuan Bajo saat membuka Festival Golo Koe pada Agustus tahun lalu. Pernyataan itu disampaikan di hadapan para pejabat dan pimpinan lembaga pemerintah yang menangani pariwisata.

Dalam dua contoh di atas, dia memang sedang berbicara sebagai pemimpin Gereja, namun hal itu tentu ikut dipengaruhi oleh pilihan keberpihakannya pada isu sosial, sesuatu yang sudah ia tunjukkan sebelumnya serentak sebagai imam dan akademisi. 

Melihat perkembangan ini, saya semacam menemukan kembali Maks yang dulu, Maks yang menulis “Republik Sialan.”

Beralih ke Profesor Otto. 

Saya tak hanya mengikutinya dari publikasinya, tetapi juga dari cerita mantan-mantan mahasiswanya.

Sebagai dosen filsafat dan HAM, saya mengenal perhatian Pater Otto pada masalah publik dari pilihan konkretnya untuk terlibat dalam isu-isu krusial seperti melawan perdagangan manusia.

Ia terlibat bersama Tim Relawan Kemanusiaan untuk Flores (TRUK-F) yang berbasis di Maumere untuk mengadvokasi para korban, juga terlibat dalam unjuk rasa dan audiensi dengan para pejabat, menyuarakan masalah ini.

Tak hanya itu, ia juga termasuk satu dari sedikit akademisi yang berani berbicara soal isu-isu yang sensitif dan cenderung dihindari oleh tokoh agama lainnya, seperti tentang isu hak kelompok minoritas seksual. 

Salah satunya transpuan. Mereka bahkan pernah diberi panggung untuk mengisi acara di IFTK-sebuah pilihan berani yang tentu tak selalu diterima dengan lapang oleh civitas akademika lainnya.

Keterlibatan publiknya juga saya ikuti via akun Facebook. Otto termasuk satu dari sedikit akademisi sekaligus tokoh agama di Flores yang sangat aktif di platform media sosial itu.

Di sana ia berbicara tentang beragam isu, mengomentari berbagai masalah, dengan basis pengetahuannya.

Ia juga termasuk cukup terbuka ketika berbicara tentang masalah-masalah dalam institusi Gereja, termasuk soal skandal kekerasan seksual, dan masalah kebangsaan secara luas.

Salah satu hal yang khas dari Otto adalah ketidakengganannya untuk berbicara di ruang publik, kendati pilihannya juga tidak selalu didukung oleh sesama rekannya sebagai dosen, juga sesama imam.

Contoh terbaru adalah ketika ia dikritik imam Keuskupan Maumere karena menyoroti kasus dugaan TPPO di sebuah tempat hiburan alam. Imam itu secara terbuka mengecamnya, yang kemudian dijawab Otto secara elegan sebagai bentuk keberpihakannya pada korban dan kesetiaan pada prinsip dasar Gereja Katolik dalam menyikapi masalah sosial.

Apa yang saya gambarkan di atas tentu tidak bisa secara utuh melukiskan keterlibatan publik kedua tokoh ini. Masih ada beberapa, bahkan banyak hal, yang bisa ditambahkan.

Tulisan ini berangkat dari semacam keresahan saya pada kurangnya perhatian para akademisi di Flores, termasuk yang telah terlebih dahulu menjadi guru besar, pada berbagai masalah sosial.

Masih banyak akademisi yang nyaman di menara gading, mengambil jarak dari realitas konkret yang dihadapi masyarakat.

Saya jarang menemukan dosen yang tampil di ruang publik, merespons masalah-masalah sosial, yang suaranya bisa mengganggu kenyaman penguasa.

Tentu saja itu tidak berarti mereka yang tidak muncul di publik itu sama sekali tidak peduli, karena ada ruang lain yang mereka dimanfaatkan. Misalnya lewat riset-riset di jurnal-jurnal atau untuk akademisi yang juga imam, lewat khotbah.

Namun, dua medium itu selalu punya keterbatasan, baik dari jangkauan audiens, juga modelnya-terutama khotbah-yang bersifat komunikasi satu arah.

Transformasi sosial dalam masyarakat menuntut pelibatan aktif berbagai elemen, termasuk intelektual, untuk menawarkan perspektif kritis, menyederhanakan teori yang kompleks menjadi bahasa yang bisa dipahami masyarakat luas, demi membentuk kesadaran kelas atau sosial.

Sebagian besar dari para intelektual itu ada di kampus-kampus dari ujung barat hingga timur Flores. 

Kita butuh lebih banyak dari mereka yang mau menceburkan diri dalam isu-isu yang berdampak besar bagi masyarakat, terutama yang rentan, kendati dengan cara itu mereka juga mesti siap untuk bertarung dalam diskursus di ruang terbuka.

Untuk Uskup Maks dan Pater Otto, selamat untuk jabatan akademik ini. Semoga terus bersuara dan terlibat, merasakan dan mengambil sikap atas masalah-masalah pelik yang membelenggu masyarakat.

Posisi sebagai akademisi, guru besar, sekaligus tokoh agama memberi privilese penting bagi suara Anda untuk didengar, mendorong perubahan sekaligus memicu keberanian bagi lebih banyak orang untuk bersuara di tengah rezim yang tampaknya tak terlalu ramah pada suara kritis.

Ryan Dagur adalah editor Floresa

Editor: Anno Susabun

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING