‘Rawat Mata Air, Bukan Air Mata,’ Narasi Kolaborasi Kaum Muda Peringati Hari Anti Tambang di Poco Leok

Gheril Ngalong, Koordinator Rumah Baca Aksara, komunitas beranggotakan kaum muda berbasis di Ruteng, Kabupaten Manggarai membagi cerita kolaborasi dengan Kawan Muda Poco Leok dalam peringatan Hari Anti Tambang, 29-30 Mei 2024

Floresa.co – Pemandangan pagi tiba-tiba bergeser seperti spektrum mulus.

Dari hiruk-pikuk di kota Ruteng dengan banyak pengendara bergegas pergi bekerja, sekejap tenang dengan suasana hangat perkampungan yang kerap dibungkus kabut kelabu. 

Namanya Poco Leok, berasal dari dua kata bahasa Manggarai; poco, berarti bukti, dan leok, berarti mengelilingi atau melingkupi. 

Secara harfiah, Poco Leok, yang berada di Kecamatan Satar Mese, bagian selatan  Kabupaten Manggarai, berarti dilingkari atau dikelilingi bukit.

Penamaan ini relevan dengan kondisi geografis wilayah itu yang memang berbentuk seperti kuali, tacu dalam bahasa Manggarai.

Topografinya berbukit-bukit, curam dan terjal. Tingkat kemiringan permukaan tanahnya cukup ekstrim, terutama di beberapa titik. Bukit dan hutan lembab melingkupi pemukiman.

Bentangan alam yang eksotik ini adalah kebanggaan bagi warga Poco Leok yang semuanya memiliki kedekatan hubungan, baik secara genetik, sosiologis, maupun kebudayaan.

Mentari pagi pada Rabu, 29 Mei yang muncul di balik punggung Bukit Golo Mejeng kian mendukung semangat sejumlah warga Kampung Lungar segera berkumpul di salah satu rumah. Lungar salah satu dari 14 gendang atau kampung adat di Poco Leok yang terbagi ke dalam tiga wilayah administrasi desa.

Hari itu, Komunitas Rumah Baca Aksara berkolaborasi dengan Kawan Muda Poco Leok menginisiasi perayaan Hari Anti Tambang [Hatam] 2024, bersamaan dengan perayaan nasional yang diselenggarakan Jaringan Advokasi Tambang di Palu, Sulawesi Tengah.

Hatam mengenang peristiwa 18 tahun yang lalu ketika lumpur panas dari perusahaan tambang PT Lapindo Brantas pertama kali menyembur dan menenggelamkan 1.143 hektare lahan di 19 desa serta mengusir 22.214 warga dari pemukiman di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Geotermal memang sudah tidak lagi dikategorikan oleh pemerintah sebagai tambang, ketika pada 2014 merevisi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. Dalam revisi itu, kosakata tambang untuk panas bumi dihapus, langkah demi memudahkan pemberian izin.

Namun, meski lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan fasilitas pengeboran dan pembangkit listrik dalam proyek geotermal tidak banyak, daya rusaknya bisa meluas, hal yang membuat wilayah yang ditargetkan menjadi lokasi proyek bisa mencapai ribuan hektar.

Tabur Eco Enzyme, Pulihkan Kualitas Air

Di Poco Leok hari itu, perempuan dan laki-laki, orang tua, pemuda dan anak-anak memenuhi satu rumah di Lungar yang letaknya paling dekat dengan salah satu mata air, ulu wae.

Mereka berpakaian rapi, mayoritas mengenakan sarung songke, tenunan khas Manggarai. 

Mereka bersama-sama mengikuti acara pelepasan eco enzyme – cairan organik hasil fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula dan air – di tiga titik.

Kami menyebar eco enzyme sebanyak 29 liter di mata air Kampung Lungar, Sungai Wae Munting di wilayah Lingko Rebak dan Sungai Wae Wara di Desa Mocok.

Sebelum pelepasan eco enzyme, digelar upacara adat Sesi Agu Ata Lami Ulu Wae di Kampung Lungar, sebuah ritual untuk meminta izin serta berdoa kepada roh yang menjaga mata air. 

Berlangsung khusuk, ritual dipimpin Aleks Gehat, salah satu tokoh adat Gendang Lungar berusia 78 tahun.

Di hadapannya, satu butir telur ayam kampung menjadi simbol persembahan kepada roh leluhur dan penjaga mata air.

Telur ayam kampung simbol persembahan kepada roh leluhur dan penjaga mata air. (Gheril Ngalong)

Semuanya dipercaya hadir sebagai energi komunal yang menyatu dengan kehidupan serta nilai-nilai sakralitas dalam tradisi kebudayaan warga Poco Leok. 

Pilihan agenda kolaborasi ini berawal dari kekhawatiran kaum muda Poco Leok terhadap menurunnya kualitas air, yang dipercaya warga sebagai dampak tak langsung dari ekstraksi geotermal di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi [PLTP] Ulumbu sejak lebih dari satu dekade lalu. 

Jarak PLTP itu kurang dari empat kilometer di sebelah barat Poco Leok.

Kini, kekhawatiran warga terhadap dampak yang lebih buruk kian meningkat di tengah langkah pemerintah memperluas PLTP Ulumbu ke Poco Leok.

“Tidak bisa dipungkiri, hadirnya proyek geotermal di Poco Leok yang diklaim sebagai pilihan terbaik oleh pemerintah melahirkan banyak persoalan,” kata Mayo Dintal, 18 tahun, pemuda Kampung Lungar.

Beberapa indikasi kerusakan lingkungan dan bencana sosial yang dialami warga sejak beroperasinya PLTP Ulumbu, kata dia, seperti kerusakan massal lahan pertanian yang memicu penurunan produktivitas pertanian hingga pencemaran air.

Anggapan Mayo bukan tanpa dasar.

Hasil pemantauan sementara kualitas lingkungan air dan udara di Poco Leok yang dilakukan dalam workshop Jaringan Advokasi Tambang bersama 15 anggota komunitas warga adat terdampak geotermal di Flores pada 28-30 April 2024 menunjukkan terjadinya pencemaran berat dan sedang di beberapa mata air.

“Dengan pengujian fisik, biologi atau uji kenampakan, kami mencatat adanya pencemaran berat pada air di Sungai Wae Betong, Wae Ngongo, Wae Wara di Kampung Cako dan Wae Ces di Meter,” katanya.

Sementara pencemaran sedang, kata dia, ditemukan pada Sungai Cikur-ciluk dan Sungai Munting di Kampung Lungar. 

Belajar, Bergerak Bersama

Kasus geotermal Poco Leok membawa komunitas kami pada refleksi tentang pentingnya gerakan dan solidaritas bersama.

Setelah dikeluarkannya Keputusan Menteri ESDM Nomor 2268 K/30/MEM/2017 pada 19 Juni 2017, pemerintah menetapkan Flores sebagai Pulau Geotermal, yang mendorong pengembangan proyek di beberapa tempat.

Selain perluasan PTLP Ulumbu ke Poco Leok, proyek geotermal lainnya adalah di Wae Sano, Kabupaten Manggarai Barat; Mataloko dan Nage di Kabupaten Ngada dan Sokoria di Kabupaten Ende.

Hantaman investasi ini yang pemerintah sebut demi pengembangan energi bersih dan ramah lingkungan membuat warga berjuang mati-matian mempertahankan tanahnya.

Di Poco Leok, sepanjang 2023 warga tercatat 23 kali melakukan aksi penghadangan terhadap aktivitas pemerintah dan perusahaan. Mereka harus berhadapan dengan kekuatan aparat keamanan.

Yudi Onggal, pemuda Poco Leok mengenang peristiwa pada tanggal 20 dan 21 Juni 2023  ketika mereka bentrok dengan aparat. 

“Warga yang berniat menjaga dan membela tanah, kampung dan hidupnya ditindas layaknya durjana,” katanya.

Beberapa warga ketika itu menjadi korban kekerasan. Tiga yang cedera berat, dua diantaranya harus dilarikan ke Puskesmas saat  berseteru menghadang aparat yang ingin menanam pilar serta mengukur lahan di Lingko Tanggong, milik Gendang Lungar.

Sejumlah perempuan Poco Leok berada di garis depan berhadapan dengan aparat saat melakukan penghadangan pada Agustus 2023. (Dokumentasi warga Poco Leok)

Geotermal untuk Siapa?

Pertanyaan tentang untuk siapa proyek geotermal seperti di Poco Leok juga menjadi penting, di tengah kenyataan miris warga yang dekat dengan PLTP Ulumbu.

Sementara PLTP Ulumbu beroperasi sejak 2012, listrik baru masuk Poco Leok pada akhir 2019 dan awal 2020. Namun, masih ada empat kampung yang belum punya akses listrik, yaitu Gendang Cako, Gendang Leda, Gendang Lelak dan Gendang Mano.

Padahal, sumber air untuk pembangunan geotermal itu berasal dari dua lingko, tanah ulayat warga Poco Leok.

“Ini adalah gambaran ironi pembangunan. Bagaimana bisa Ulumbu membuat gemerlap kampung-kampung dan kota yang puluhan kilometer jauhnya, lalu mengabaikan Poco Leok, tetangganya,” kata Yudi.

Selain karena dianggap tidak untuk kepentingan mereka, kata Yudi, perlawanan warga Poco Leok adalah wujud dari kesadaran terhadap bahaya yang bakal muncul dari proyek tersebut.

“Warga mulai melakukan konsolidasi, baik di lintas gendang maupun bersama sejumlah lembaga yang ikut peduli dan bersolidaritas terhadap perjuangan ini,” katanya.

Pertemuan dan penguatan kapasitas masyarakat adat, sering dilakukan, kata Yudi, seiring dengan mulai masifnya kehadiran rombongan perusahaan PT PLN dan Pemda Manggarai yang dikawal ketat aparat sejak awal tahun 2023. 

Ia berkata, hal yang juga unik dari gerakan itu adalah keterlibatan aktif kaum perempuan. 

“Bahkan, yang mendominasi dan memotori penolakan ini adalah kaum ibu. Mereka adalah kaum revolusioner lembut, yang tanpa takut, gigih dan militan melawan,” katanya.

Membangun Solidaritas

Situasi yang dialami warga Poco Leok, menurut Abim Gondrong, anggota komunitas Rumah Baca Aksara, tentu akan meninggalkan trauma dan luka yang mendalam. 

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk membantu warga pulih dari luka-luka itu, kata dia, adalah mengadakan kegiatan yang bisa menciptakan ruang belajar bersama. 

“Salah satunya adalah pelatihan serta aksi nyata bersama di momen Hatam 2024 ini,” katanya.

Aksi pelepasan eco enzyme di sejumlah mata air, kata dia, adalah cara melawan paling sederhana untuk menjaga lingkungan dari ragam kerusakan akibat aktivitas geotermal. 

“Kita mesti menjaga mata air sebagai sumber hidup, bukan air mata sebagai dampak industri ekstraktif,” katanya. 

Lewat eco enzyme dengan komposisi larutan hasil fermentasi dari limbah organik, kata Abim, membantu bakteri untuk pelan-pelan menguraikan polutan secara alami pada air yang tercemar. 

“Kesadaran kecil ini yang ingin kami upayakan demi menjaga lingkungan.”

Selain penebaran eco enzyme, agenda lai dalam peringatan Hatam 2024 di Poco Leok adalah pelatihan pembuatan sabun organik, bagian dari upaya pengembangan dan pemberdayaan ekonomi, khusus bagi anak muda dan perempuan.

Abim berkata “sabun organik ini adalah pintu gerbang bagi kami untuk bisa melakukan eksplorasi beragam jenis tanaman lokal yang tumbuh di sekitar Poco Leok dan memiliki manfaat baik bila digunakan setelah menjadi produk sabun.”

Pelatihan pembuatan sabun organik. (Gheril Ngalong)

“Dalam pelatihan ini, kami telah memfasilitasi kawan muda dengan sejumlah alat produksi pembuatan sabun,” katanya.

“Semua itu didanai dari beberapa agenda kolaborasi bersama kawan muda Poco Leok dalam kegiatan kesenian dan solidaritas yang telah berlangsung di Rumah Baca Aksara,” katanya.

Ia berharap, “semoga semua upaya ini berjalan dan bermanfaat.”

Editor: Anno Susabun dan Ryan Dagur

spot_imgspot_img

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik untuk mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, kamu bisa memberi kami kontribusi, dengan klik di sini.

Baca Juga Artikel Lainnya