Novel “Molas Flores Gadis Pulau Bunga” dan Kritik atas Dominasi Budaya Patriarki

Kisah Molas, tokoh utama dalam novel ini, bisa menjadi lensa untuk melihat secara kritis fenomena sosial-budaya yang masih menjadi masalah serius hingga kini, yakni dominasi budaya patriarki atas perempuan dan bagaimana cara melawannya

Judul: Molas Fores Gadis Pulau Bunga, Penulis: Willy HanggumanJumlah Halaman: 4+184 halaman, Tahun terbit: 2021, Penerbit: Rejeki Baru


Molas, seorang gadis Flores, memiliki cita-cita menjadi guru. Cita-cita  itu terinspirasi saat ia melihat cara guru perempuan mengajar murid kelas satu pada hari pertama ia masuk sekolah di sebuah sekolah rakyat.

Namun, saat beranjak dewasa, Molas, nama yang diambil dari kata Bahasa Manggarai yang berarti cantik, menghadapi dilema besar. Cita-citanya berbenturan dengan kewajiban yang berlaku di dalam budayanya.

Di satu sisi, ia tetap memelihara tekad menjadi guru. Namun, sebagaimana gadis Manggarai umumnya kala itu, ia harus mengikuti ritus potong gigi. Menjalani ritus itu sama dengan memberitahu masyarakat, khususnya kaum pria, bahwa perempuan yang bersangkutan sudah siap dan layak untuk dipinang sebagai istri.

Hal itu memang kemudian terjadi. Ketika hendak melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi, Molas mendapat lamaran dari seorang lelaki di kampungnya, tak lama setelah ritus itu berlangsung.

Dilema tokoh utama Molas  itulah yang menjadi pokok konflik dalam novel “Molas Flores Gadis Pulau Bunga”.  Karya Willy Hangguman ini adalah sebuah karya sastra yang mengangkat latar daerah Manggarai pada masa-masa awal kemerdekaan.

Alih-alih mendukung perjuangan Molas dalam menggapai impiannya, dikisahkan dalam novel ini, kedua orang tuanya malah menerima dan menyetujui lamaran tersebut. Mereka meminta Molas segera berhenti sekolah dan harus bersedia dipinang.

Namun, situasi itu rupanya tidak membuat Molas menyerah. Ia memilih lari dari rumahnya menuju Ende, kota tempat pembuangan Proklamator dan Presiden pertama Soekarno, untuk melanjutkan pendidikan.

Pada kelanjutan cerita dalam novel ini, Molas berhasil mewujudkan cita-citanya itu setelah dibantu oleh seorang biarawati Katolik dari Eropa yang bertugas di Flores.

Sebagai karya sastra, novel ini penting dibaca. Pesannya juga relevan untuk melihat realitas sosial dewasa ini.

Selain karena penulis mengemas begitu banyak pengetahuan umum terkait budaya Manggarai, seperti pepatah-pepatah yang sarat makna, tokoh Molas bisa menjadi lensa untuk melihat secara kritis fenomena sosial-budaya yang masih menjadi masalah serius hingga kini, yakni dominasi patriarki atas perempuan dan bagaimana cara melawannya.

Dalam novel ini, kendati spektrum diskriminasi terhadap perempuan yang disorot adalah dalam dunia pendidikan, saat ini perlakuan yang tidak adil terhadap perempuan di Manggarai atau NTT secara umum juga banyak terjadi pada arena yang lain. Misalnya, pembagian kerja dalam rumah tangga, angka partisipasi dalam pekerjaan serta porsi ruang yang timpang dalam politik.

Di antara berbagai faktor yang menyebabkan diskriminasi terhadap perempuan, sebagian ahli budaya Manggarai seperti Yohanes Servatius Boy Lon (Widyawaty Fransiska, ed, 2017: 534-538) berargumentasi bahwa hal ini merupakan warisan buruk dari perbedaan cara pandang soal status sosial terhadap anak laki-laki dan perempuan.

Ungkapan ata oné [orang dalam] dan ata péang [orang luar] dalam kebudayaan orang Manggarai, misalnya, sesungguhnya muncul dari cara pikir masyarakat patriarkis yang memandang laki-laki sebagai penguasa dalam komunitasnya.

Sebagai ata oné, anak laki-laki dipandang sebagai pemilik klan yang berhak untuk meneruskan generasi dari klan tersebut serta berhak dan wajib tinggal di kampung orang tuanya setelah menikah. Di sisi lain, perempuan sebagai ata péang harus keluar dan beralih menjadi milik dari klan suaminya; dia tinggal di rumah dan kampung dari suaminya setelah berkeluarga.

Selain tentang dominasi patriarki, lewat tokoh Molas, novel ini juga memberi catatan penting untuk memikirkan strategi-strategi melawan dominasi budaya patriarki.

Pertama, secara internal perlu ada agensi (tindakan, perilaku) yang kuat dari kaum perempuan untuk melawan cara-cara pandang sekaligus tindakan yang melanggengkan diskriminasi berbasis gender.  Narasi kisah hidup Molas merupakan gambaran dari kuatnya agensi dari perempuan Manggarai dalam melawan diskriminasi ini. Itu terwakilkan lewat pelukisan tokoh Molas sebagai perempuan berkarakter kuat yang mempersoalkan cara pandang orang tuanya yang  mengabaikan otonominya sebagai pribadi, hanya karena ia adalah seorang perempuan.

Dewasa ini peluang memperkuat agensi perempuan sudah sangat terbuka lebar. Perkembangan pengetahuan, teknologi, media komunikasi telah memberi ruang yang sangat luas bagi perempuan untuk dapat memperkuat diri secara pengetahuan dan keterampilan.

Kedua, penguatan agensi perempuan ini melalui optimalisasi desain pembangunan yang peka terhadap kesetaraan. Agenda tersebut sudah gencar dilakukan belakangan ini. Sebagai contoh, sudah cukup banyak upaya-upaya pemberdayaan menyasar kaum perempuan. Misalnyan, kaum perempuan diberi kesempatan yang luas untuk menjadi aktor penting dari kegiatan ekonomi dalam masyarakat. Selain itu, program-program pemerintah dalam bidang kesehatan sekarang ini juga memposisikan perempuan [ibu] sebagai pengambil keputusan penting dalam hal-hal yang berhubungan dengan bidang kesehatan. Hal-hal seperti ini tentu masih perlu ditingkatkan.

Ini adalah beberapa hal yang bisa ditarik dari novel ini, selain tentu saja penggambaran perjuangan tokoh Molas yang bisa menjadi semacam teguran bagi generasi muda saat ini, yang kendati sudah mendapat banyak kemudahan, justru jatuh dalam berbagai masalah yang memperihatinkan. Misalnya, putus sekolah karena alasan sepele yang kadang tak masuk akal, mabuk-mabukan, terlibat tawuran, dan sejenisnya.

Secara keseluruhan, bahasa yang digunakan novel ini tergolong ringan dan tidak berbelit-belit. Penggunaan sudut pandang orang pertama juga membuat kisahnya mudah dipahami. Meski masih ada beberapa hal yang bisa disebut sebagai kekurangan, seperti beberapa kata bahasa Manggarai yang tidak disertai terjemahannya, antara lain kata ‘amang’ dan kata ‘kraeng’ yang sebetulnya penting untuk memudahkan pembaca memahami isi cerita dan menjadi kosakata baru bagi pembaca yang hendak mengetahui bahasa Manggarai, novel ini, sekali lagi, penting dan perlu dibaca.

Apri Bagung adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Ia gemar membaca dan menulis opini, artikel, cerpen, puisi dan telah menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Kemeja Kenangan.